Pendidikan & Kesehatan

Pria yang Sempat Diamankan Saat Aksi Tolak Zonasi Sudah Dipulangkan

Surabaya (beritajatim.com) – Pria yang sempat diamankan di tengah aksi menolak sistem zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di Kota Surabaya, Kamis (20/6/2019) malam, sudah dipulangkan.

Kapolsek Genteng AKP Anggi mengungkapkan jika pria yang hingga akhir tetap tidak diketahui identitasnya itu harus diamankan sejenak demi menjaga kondusifitas aksi.

“Kita naikkan ke truk agar memudahkan pendataan bagi yang lainnya. Yang bersangkutan pun tetap kita berikan angket untuk menuliskan nama anaknya yang didaftarkan di SMP. Begitu sudah selesai pun dia kami pulangkan,” kata AKP Anggi.

Pria berusia paruh baya itu pun mengucapkan terima kasih dan meminta maaf sesaat sebelum pulang kepada jajaran kepolisian. “Mohon maaf Pak. Saya hanya ingin berjuang untuk anak. Anak saya yang paling kecil pun masih 11 bulan Pak. Terima kasih,” katanya.

Sebelumnya, satu orang pria sempat diamankan pihak yang berwajib di tengah aksi unjuk rassa ratusan massa Wali Murid yang menolak sistem zonasi di kediaman Wali Kota Surabaya. Pria itu terpaksa diamankan keluar dari kerumunan massa aksi dan dinaikkan ke truk polisi karena dianggap membuat rusuh.

Sebagai informasi, kediaman Wali Kota Surabaya mendadak diserbu ratusan wali murid, Kamis (20/6/2019) malam. Massa aksi adalah para Wali Murid yang merasa kurang puas dengan sistem zonasi di PPDB SMP di Kota Surabaya.

Massa mendesak untuk bisa bertemu dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Bu Risma keluar Bu! Ini anak-anak tidak bisa sekolah Bu. Belajar buat pintar, bukan dimeteri,” teriak massa aksi bersahutan.

Tuntutan massa kali ini secara umum masih sama, menghapus dan membatalkan sistem zonasi di PPDB 2019. “Kami ingin berorasi dengan sopan. Syukur kalau bisa berdialog dengan Bu Risma,” ujar orator aksi.

“Kami berharap ada solusi untuk sistem gagal ini. Sistem zonasi harus dicabut. Anak berprestasi nggak bisa masuk negeri,” tambahnya. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar