Pendidikan & Kesehatan

Pendampingan Pengelolaan Pangan di Rumah Tangga Efektif Kurangi Stunting

Trias Mahmudiono S.KM., MPH (Nutr.), GCAS, Ph.D atau Trias, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)

Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu upaya untuk menekan kejadian stunting (kondisi anak lebih pendek dari anak normal, red) adalah dengan meningkatkan keragaman makanan yang dikonsumsi oleh anak. Selain itu, ketahanan pangan memiliki hubungan dengan masalah gizi ganda di level keluarga. Yaitu ibu obesitas namun anak mengalami stunting.

Untuk itu, Trias Mahmudiono S.KM., MPH (Nutr.), GCAS, Ph.D atau Trias, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), bersama timnya melakukan penelitian terkait dengan efektifitas pendidikan gizi kepada ibu obesitas dengan anak stunting untuk menurunkan masalah gizi ganda di Indonesia, terutama pada level keluarga. Mengingat, pada level keluarga yang dapat meningkatkan keragaman makanan adalah ibu selaku pengelola keuangan dan yang mendistribusikan makanan di rumah.

“Intervensi yang kami lakukan tidak hanya memberikan informasi, tapi juga memberdayakan ibu agar sadar bahwa kebutuhan balita dari sisi gizi berbeda dengan kebutuhan orang dewasa,” jelas Trias.

Pada penelitian tersebut, Trias dan tim memberikan intervensi dan pendampingan selama tiga bulan kepada tujuh puluh dua sasaran. Intervensi tersebut meliputi kelas edukasi gizi setiap dua minggu sekali yang diawali dengan senam. Dan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan makanan pendamping air susu ibu yang benar. Serta didampingi pemberian makanan hati ayam, telur dan ikan.

Salah satu informasi yang diberikan adalah terkait dengan jenis-jenis makanan yang dibutuhkan anak agar tidak mengalami stunting. Yaitu makanan yang tinggi protein seperti ikan, telur dan hati ayam. Sementara untuk ibu yang mengalami obesitas perlu meningkatkan aktivitas fisik dan lebih banyak makan sayur dan buah atau makanan yang tinggi serat.

“Setelah kita edukasi, kita beri voucher dengan nominal tertentu yang hanya bisa ditukarkan pada penjual bahan pangan mitra kami,” lanjutnya.

Ibu-ibu tersebut tidak hanya diberi voucher untuk memenuhi kebutuhan pangan saja. Tujuan dari pemberian voucher tersebut adalah untuk mengetahui apakah informasi yang diberikan ketika kelas edukasi diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.

Kemudian, penjual mitra peneliti akan mendata bahan pangan apa saja yang dibeli ibu-ibu tersebut menggunakan voucher. Sehingga, tim peneliti mengetahui jenis bahan pangan apa saja yang ibu ibu tersebut beli.

“Disela-sela minggunya, kami juga melibatkan kader untuk melakukan kunjungan rumah pada kelompok target penelitian untuk memberikan motivasi dan monitoring,” papar Trias.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah intervensi selama tiga bulan, tinggi badan anak relatif meningkat. Sehingga, intervensi berupa edukasi, pemberdayaan pembuatan makanan pendamping asi, dan didampingi dengan pemberian hati ayam, telur dan ikan cukup efektif untuk menurunkan angka stunting.

“Intervensi selama tiga bulan tersebut hasilnya cukup bagus dan akan lebih bagus lagi bila dilanjutkan oleh masyarakat sasaran. Hanya saja untuk masyarakat yang tidak mampu membeli bahan pangan tinggi protein tersebut maka negara harus turun tangan,” pungkas Trias. [adg/but]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar