Pendidikan & Kesehatan

Pakar Kedokteran Jiwa: BPJS Harus Cover Pengobatan Korban Selamat Bunuh Diri

Dr Nalini Muhdi saat memaparkan Surabaya Suicide Update 2019

Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi momok dunia, bunuh diri merupakan salah satu masalah yang harus segera dipecahkan oleh setiap negara. Pasalnya tercatat sekitar 800.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri. Artinya, setiap 40 detik terdapat 1 orang yang meninggal karena bunuh diri.

The Indonesian National Representatif of International Association for Suicide Prevention (IASP) diwakili oleh Nalini Muhdi, dr SpKJ K dari Kedokteran Jiwa Unair mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk peduli terhadap perilaku bunuh diri yang tidak hanya menjangkiti masyarakat urban, melainkan juga masyarakat pedesaan.

Seakan tidak mengenal status sosial, perilaku bunuh diri juga tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa melainkan juga anak-anak dan remaja pada rentang usia 15-29 tahun. Alasan yang melatarbelakangi pun sangat kompleks sehingga menurut Nalini alasan bunuh diri ini tidak bisa disimplifikasikan.

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental masyarakat global yang multi-faktorial dan kompleks, sehingga membutuhkan perhatian dan kerjasama dari semua pihak, tidak hanya profesional di bidang kesehatan, institusi pendidikan, sampai dengan komunitas atau masyarakat luas.

Masalah ini patut pula mendapat perhatian khusus dari otoritas kesehatan nasional yang bertanggung jawab menyusun kebijakan dan arahan untuk membangun strategi pencegahan bunuh diri dan upaya promosi kesehatan mental secara umum.

Nalini menyebutkan bunuh diri pada dasarnya merupakan masalah mental disorder yang membutuhkan penanganan yang serius, merupakan kembangan dari depresi dan mood disorder. Sedangkan depresi dan radiovaskular berkejaran menjadi penyakit terbanyak pertama di dunia.

“Begitu tingginya angka depresi tentunya berkaitan erat dengan tingginya angka kasus bunuh diri. Penting sekali bagi kita semua melakukan Suicide Prevention,” ujar Nalini dalam acara Surabaya Suicide Update 2019, di gedung Daldiri RSUD Dr Soetomo, Rabu (4/9/2019).

Mengambil tema Working Together To Prevent Suicide, Nalini mengatakan bahwa saat ini bentuk pencegahan yang paling bisa dilakukan antara lain adanya upaya pemerintah untuk melakukan pendataan yang mendekati angka catatan kasus bunuh diri yang lebih valid karena saat ini menurut Nalini angka yang tercatat untuk kasus bunuh diri sama sekali tidak valid.

“Mungkin dengan upaya yang komprehensif dari Kemenkes dan rumah sakit untuk setidaknya ada pendataan pasien terkait kecelakaan yang dialami pasien IGD, adakah kemungkinan upaya bunuh diri,” ujar Nalini.

“Angka kasus bunuh diri ini sangat tidak valid, bahkan data yang dicatat WHO saja belum tentu mencakup seluruh kejadian bunuh diri. Banyak kematian karena bunuh diri yang underreported, angka bunuh diri ini bagikan fenomena gunung es. Apalagi yang tidak mati atau masih tertolong, malah tidak tercatat,” tambahnya.

Hal tersebut dikarenakan kasus bunuh diri ini masih bertabrakan dengan stigma masyarakat bahkan agama. Kebanyakan orang mungkin malu atau malah menutupi jika anggota keluarga ada yang berupaya bunuh diri. Terlebih banyak kasus dimana korban bunuh diri baik yang masih hidup maupun meninggal ketika dibawa ke IGD dicatat sebagai kasus kecelakaan.

Selain dengan pendataan yang lebih valid dan komprehensif. Nalini juga mengatakan orang terdekat dari seseorang yang depresi dan menginginkan bunuh diri berperan penting dalam upaya pencegahan hal tersebut terjadi.

“Usaha pencegahan bunuh diri, yakni ketika ada keinginan bunuh diri, adalah bercerita (connected with) atau terhubung dengan seseorang. Hal tersebut secara efektif membantu mereka untuk mengurungkan niat bunuh diri. Untuk itu sangat penting orang terdekat memberikan kekuatan dan support dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi,” terang Nalini.

Dalam banyak kasus bunuh diri, orang tersebut tidak terhubung dengan orang lain yang menyebabkan putus asa dan merasa sendirian. Oleh karenanya semua orang yang mengaku depresi harus ditanyai, apakah ada kemungkinan terkait kematian.

“Tentunya bertanya dengan seni, orang yang sedang depresi tidak dapat ditekan atau dicerca dengan berbagai pertanyaan yang sifatnya sensitif, caranya adalah dengan membuat orang tersebut nyaman dengan kita memastikan dia tidak sendirian dalam menyelesaikan masalahnya sehingga mereka mau untuk terbuka dengan kita,” papar Nalini.

Dengan adanya teman atau terhubung dengan seseorang, keinginan untuk bunuh diri kemungkinan akan berkurang. Setelah itu, penderita depresi dapat diajak untuk konsultasi dengan dokter, tambah Nalini. Karena terkait masalah mental, upaya dan perilaku bunuh diri harus ditangani dengan serius oleh ahli kedokteran jiwa atau psikiater yang mana seharusnya penanganan ini dapat masuk dalam polis asuransi.

“Selama ini BPJS tidak menyertakan depresi dan perilaku bunuh diri dalam polis asuransinya, karena dipikirnya hal itu adalah ulah manusia sendiri. Padahal penyebabnya adalah masalah mental terkait ganguan mood yang mana harus ditangani oleh dokter dan ahli jiwa secara berkelanjutan. Oleh karena BPJS harus cover penanganan dan pengobatan depresi dan perilaku bunuh diri,” tukas Nalini.

Menjadi momok di dunia, trend perilaku bunuh diri ini dapat berbeda ditiap negara, di Indonesia trend saat ini adalah dengan tindakan atau aksi extrim seperti, Jumping (melompat dari ketinggian) dan gantung diri.

Menurut Nalini, kasus bunuh diri di Indonesia mayoritas merupakan laki-laki. Sedangkan upaya bunuh diri banyak dari perempuan. Hal tersebut dikarenakan laki-laki memilih aksi yang ekstrim dengan tingkat resiko kematian tinggi, sedangkan perempuan memilih cara yang lebih ringan seperti meminum insektisida, memotong nadi dan sebagainya.

Selain Suicide Prevention, Nalini juga mengatakan pentingkan Postvention baik bagi korban maupun keluarga dan kerabat dekat. Hal tersebut dilakukan juga sebagai emotional healing dan edukasi bagi mereka yang ditinggalkan dan orang yang selamat dari upaya bunuh diri agar tidak terjadi pengulangan.

“Harusnya kejadian bunuh diri baik yang meninggal maupun masih tertolong juga harus dilaporkan ke departemen kedokteran jiwa atau psikiater. Karena meskipun telah sembuh luka fisiknya belum tentu luka jiwanya juga ikut sembuh. Hal itu tentu akan sangat memungkinkan untuk upaya bunuh diri terulang kembali,” tukasnya.

“Selain itu Suicide Postvention harus dikuatkan terhadap lingkungan sekitar, baik keluarga maupun sahabat. Keluarga yang ditinggal butuh didampingi psikater juga karena duka citanya lebih tumpuk tumpuk dan meninggalkan anniversary memory yang luar biasa,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar