Pendidikan & Kesehatan

Orang Indonesia Lebih Kebal Virus Corona, Begini Penjelasan Profesor Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Profesor Universitas Airlangga (Unair) Professor C.A. Nidom mengatakan bahwa ada satu faktor yang paling mungkin terkait masih belum terdampaknya masyarakat Indonesia dengan virus corona 2019nCoV. Hal itu dikarenakan orang Indonesia sering mengkonsumsi tanaman curcumin.

Professor yang juga Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Unair ini pun menyoroti perbedaan reaksi dari virus corona ini antara orang Indonesia dan China.

China meskipun juga dikenal dengan pengguna obat obatan herbal tetapi justru di China lah akar masalah terjadi serta menjadi negara dengan jumlah kematian terbanyak karena kasus virus corona ini.

Terkait hal tersebut, Prof Nidom mengatakan bahwa saat ini di China sudah mulai mengobati pasien corona dengan obat obatan herbal.

“Ya memang China mengkonsumsi obat herbal, disana juga pasti punya obat obatan herbal yang sejenis dengan Curcumin yang ada di Indonesia meskipun berbeda bentuk. Tadi pagi pun saya baca di berita kalau China mulai menggunakan obat herbal untuk penanganan Corona,” ujarnya.

Pada dasarnya tanaman herbal yang mengandung Curcumin memang mampu meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang atau terjangkit virus dan penyakit.

“Namun jika memang ternyata bagi masyarakat China penggunaan curcumin tidak bisa maksimal, kecurigaan terbesarnya adalah bahwa virus ini merupakan monoetnis reseptor,” tukas Prof Nidom.

Monoetnis yang dimaksud merupakan virus yang mampu bereaksi pada spesimen tertentu atau dari etnis tertentu. Hal ini diperkuat bahwa 99 persen pasien yang terdampak mayoritas merupakan etnis asli China. Mereka pun yang terdampak di negara lain mayoritas merupakan imigran etnis China.

“Saya bilang virus ini masuknya pada Reseptor yang tidak ada di Indonesia. Reseptor itu adalah tempat menempelnya virus. orang yang terjangkit saat ini merupakan etnis China, jadi bisa saja yang terjadi adalah monoetnis reseptor. Jadi karena menyerang satu etnis tertentu, mungkin itulah kenapa orang Indonesia belum ada yang terjangkit,” terangnya.

Oleh karenanya, virus ini masih harus diteliti lebih lanjut. Ia pun mengatakan permasalahan terbaru yang terjadi adalah bahwa dari hampir semua pasien meninggal karena corona merupakan etnis asli dataran China, tetapi satu di antaranya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Singapura sebagai TKW.

“Ini yang harus diteliti, selama ini hanya orang China yang terjangkit, bagaimana bisa WNI juga positif corona. Tentunya ini harus diteliti lebih lanjut. Apakah reseptornya berubah ataukah virusnya telah bermutasi lebih canggih. Bisa saja bukan monoetnis reseptor,” tukasnya.

Ia pun mengatakan bahwa, sebagai peneliti dirinya siap untuk mengupayakan obat atau antivirusnya. Tetapi bahan obat tersebut harus berasal dari pasien yang positif terjangkit.

“Harusnya pemerintah meminta sample dahak pertama WNI di Singapura itu untuk diteliti. Kalau saya sebagai peniliti tidak punya kuasa untuk meminta data dan bahan seperti itu tetapi Pemerintah bisa. Kami siap membuatkan obatnya asal ada dukungan dari Pemerintah,” tukasnya.

Obat virus corona ini pun diakui Prof Nidom akan berasal dari tanaman herbal yang mengandung Curcumin. Ia pun mengaku siap kapanpun ada perintah pembuatan obat dilakukan.

“Kalau hari ini kami peneliti disuruh buat dengan akses data dan bahan dipermudah tentunya kami siap kerjakan sekarang juga. Apa lagi banyak kecurigaan yang belum jelas kebenarannya. Saya sebagai peneliti menghimbau kepada pemerintah untuk segera meneliti lebih lanjut,” pungkasnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar