Pendidikan & Kesehatan

Maria Usia 70 Tahun Jadi Wisudawan Tertua UNUSA

Maria saat menerima piagam penghargaan dari Rektor UNUSA

Surabaya (beritajatim.com) – “Tidak ada kata terlambat untuk belajar” mungkin menjadi pepatah paling sesuai dengan Maria Lidwina Endang Suwarni. Pasalnya ia menyandang Predikat Wisudawan Tertua Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) periode September 2019, Rabu (11/9/2019) di Diandra Convention Center Surabaya.

Maria, perempuan berusia 70 ini resmi menjadi wisudawan dalam Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Usia senja tidak menjadi penggalang Maria dalam menempuh pendidikan tinggi. Berbagai kendala ia hadapi ketika menjadi seorang mahasiswa, ia harus berangkat lebih pagi dari mahasiswa lainnya karena ia harus menyesuaikan jadwal berangkat kerja anak.

“Saya berangkat diantar anak sulung saya, bareng dengan dia berangkat kerja, jadi jam 6.30 pagi saya sudah sampai kampus meskipun kelas baru mulai jam 7.30,” ungkap ibu tiga anak ini.

Ketika jam kuliah usai, Maria pun harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk pulang ke rumah. Ia harus naik angkot 2 kali dan jalan kaki. Maria yang mengaku tidak bisa mengendarai sepeda motor ini mengatakan bahwa ketika dirinya hendak diwisuda anak sulungnya tersebut dipindahkan kerja ke luar kota.

“Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya belum selesai kuliah, maka naik-turun angkota akan lebih sering lagi dalam usia yang sudah tak muda lagi,” kata perempuan yang memiliki 5 cucu ini.

Semangat dan keinginan belajar tinggi ini terpacu dari kebijakan guru Paud harus memiliki gelar sarjana sebagai standar kompetensi. Selama ini ia menjadi guru Paud berasal dari kader Posyandu dan tidak memiliki kualifikasi yang mumpuni untuk itu ia menyadari bahwa mendidik anak kecil juga harus memiliki ilmu.

“Ya seyogyanya kuliah karena ngajar dan mendidik anak Paud juga membutuhkan banyak ilmu,” tambahnya.

Maria mengaku menerima insentif tiap bulan hanya Rp 50 ribu dari pengelola PAUD di daerahnya, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya.
Bagi Maria, apa yang telah dicapainya ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, tapi katanya, dirinya tetap harus rendah diri dan tidak boleh sombong. Ia berharap dapat menjadi contoh untuk cucunya yang kini berjumlah lima orang.

“Cucu pertama saya juga akan diwisuda pada November mendatang. Usia dan fasilitas bukan halangan buat saya, apalagi anak-anak mendorong agar saya bisa menyelesaikan kuliah,” kata anggota tim Penggerak PKK Kelurahan Manukan.

Bukti dari sang anak mendorong kuliah adalah uang kuliah yang dibayarkan merupakan bantuan dari ketiga anaknya. “Beruntung SPP yang kami bayar memperoleh subsidi dari Unusa terkait program Bunda PAUD, jadi kami tidak terlalu berat dalam membayar,” katanya.

“Mengharap bantuan dari PAUD dimana Maria beraktivitas, rasanya juga tidak mungkin. Saya bersama teman-teman di PAUD lebih menekankan pada kegiatan sosial, membantu sesama. Saya tetap berkomitmen untuk memajukan dan tetap setia di PAUD sebagai ladang amalan di dunia,” tambah Maria yang juga aktif pada kegiatan sosial di gereja. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar