Pendidikan & Kesehatan

Making Indonesia 4.0 dari Menteri Perindustrian RI untuk UMKM

Surabaya (beritajatim.com) -Revolusi industri 4.0. seringkali menjadi tidak bersahabat dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang juga memiliki peran penting dalam ketahanan ekonomi nasional.

Melalui momentum ulang tahunnya ke-8, Departemen Manajemen Bisnis (MB) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan seminar nasional Sosialisasi Roadmap Industri 4.0 di Gedung Pusat Robotika ITS, Jumat (29/3/2019), sebagai solusi dari permasalahan tersebut.

Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng, Ketua Pelaksana seminar mengungkapkan, dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tahun 2018 yang berjumlah sekitar Rp 2 triliun, 54,5 persennya disumbang oleh UMKM. Untuk diketahui juga, UMKM ini menyerap tenaga kerja sebesar 18,95 juta, sedangkan usaha besar hanya menyerap 373,294 tenaga kerja.

“Hal ini membuktikan bahwa keberadaan UMKM di Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian,” tegas dosen MB ini mengingatkan.

Arman mengutarakan bahwa program yang dirancang oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (RI) yaitu Making Indonesia 4.0 memprediksi bahwa akan terjadi pengurangan besar-besaran tenaga kerja di era ini. Oleh karena itu, UMKM harus siap menghadapi hal ini, mengingat fakta bahwa UMKM menyerap tenaga kerja 54 kali lebih banyak daripada usaha besar.

Oleh karena itu, melalui kegiatan yang mengangkat topik Peranan Industri UMKM dalam Ketahanan Ekonomi Nasional di Era Disruptive ini, Arman berharap peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa pelaku UMKM di Jawa Timur akan menyerap semua materi, terutama mengenai roadmap Making Indonesia 4.0 yang disampaikan langsung oleh Menteri Perindustrian RI, Ir Airlangga Hartarto MBA MMT yang hadir sebagai keynote speaker.

Dalam paparannya, Airlangga menjelaskan bahwa Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah roadmap (peta jalan) yang terintegrasi untuk mengimplementasikan strategi dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Airlangga mengatakan, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era industri 4.0.

Pria kelahiran Surabaya, 56 tahun lalu ini menyebutkan lima teknologi utama yang menopang pembangunan pada sistem industri 4.0.

“Kelimanya yaitu _Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing,” imbuh pria yang juga pernah menjabat Ketua Asosiasi Emiten Indonesia ini.

Saat ini, menurut Airlangga, semua negara masih mempelajari implementasi sistem Industri 4.0, sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci di Asia.

“Untuk itu, saya berharap akan terjadi langkah kolaboratif yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi agar roadmap ini dapat berhasil,” harapnya.

Menurut Arman, hasil seminar nasional ini dirumuskan pula oleh tim panel dan setelah itu akan diusulkan kepada tim kampanye kedua capres, sebagai bahan untuk debat capres terakhir Sabtu (30/3/2019) besok.

“Siapapun yang menang, kami berharap rekomendasi dari hasil seminar kali ini dapat dijadikan pedoman dalam membuat kebijakan ke depannya,” tutur Arman berharap.

Hal senada juga disampaikan oleh Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD. Dalam sambutan sebelumnya, Joni menyampaikan harapannya terkait hasil dari seminar tersebut. Ia berharap hasil kajian tersebut dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan untuk menghadapi era disrupsi ini. Hal tersebut ia harapkan sebagai bentuk kontribusi ITS untuk Indonesia.

“Bahkan untuk menghadapi era disrupsi ini ITS juga telah menerapkan kurikulum-kurikulum yang mendorong mahasiswanya untuk menjadi entrepreneur nantinya, dan terbukti sampai saat ini 5,7 persen alumni ITS sudah menjadi entrepreneur yang dapat dibilang sukses,” klaim guru besar Teknik Lingkungan yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 12 April mendatang ini.

Apa Reaksi Anda?

Komentar