Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa UNIRA Padukan Permainan Tradisional dengan Konsep Matematika

Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan, mencoba melakukan inovasi dengan menanamkan konsep Ilmu Matematika bagi anak-anak Madura, melalui berbagai permainan tradisional yang hampir punah.

Semisal permainan tradisional bhanteng, daribhisek, lajhengan, lekher, rem-ngerrhem, selodor bhenteng, serta berbagai jenis permainan tradisional lainnya. Apalagi jenis permainan tersebut nyaris hilang akibat cepatnya perkembangan zaman di era disrupsi.

Selama ini, Madura dikenal dengan berbagai keunikan budaya yang tidak habis tertelan zaman. Semisal batik tulis hingga kerapan sapi, hanya saja jenis permainan tradisional mulai jarang terlihat dan mulai bergeser pada jenis permainan di era digital.

Berangkat dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa Jurusan Matematika UNIRA Pamekasan, yakni Dhofir, Durroh Halim dan Sayyidatun Nisa. Mencoba dan berinisiatif menghidupkan kembali jenis permainan tradisional yang dikemas dengan inovasi berbeda.

“Prinsipnya permainan tradisional mampu berpengaruh dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak, termasuk kemampuan kerjasama, sportivitas, membangun strategi, ketangkasan hingga karakter,” kata Durroh Halim, Rabu (26/6/2019).

Saat ini permainan tradisional justru mulai ditinggalkan dan tergeser permainan elektronik sejenis gadget dan smartphone. “Harus kita akui, setiap anak mempunyai hak untuk bermain. Tentunya dengan syarat, misalnya tidak berbahaya, sukarela meningkatkan kemampuan eksplorasi anak dan interaksi sosial mereka,” ungkapnya.

Dari itu, pihaknya mencoba menanamkan konsep matematika bagi anak-anak untuk jenis permainan tradisional yang akrab di era 90-an. “Dalam permainan tradisional, semisal selodor bhenteng justru terdapat konsep matematika tersembunyi. Namun selama ini, anak-anak hanya bermain tanpa mengetahui konsep yang bisa mereka dapat,” jelasnya.

“Padahal dalam permainan tradisional semisal selodor bhenteng, terdapat pelajaran matematika dan sangat bermanfaat sebagai ilmu dasar untuk penerapan bidang keilmuan lainnya. Sayangnya, peran penting matematika justru tidak didukung dengan fakta yang terjadi di lapangan, sekalipun seringkali kita lakukan dalam berbagai kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Memang ilmu matematika selama ini justru dianggap sebagai pelajaran yang sangat susah dipelajari, sekalipun terdapat berbagai manfaat penting yang notabene bersumber dari konsep dasar matematika yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Seperti kita tahu, orang tua masa kini sangat jarang mengingat bagaimana memainkan permainan tradisional. Bahkan juga jarang menceritakan permainan tradisional yang pernah mereka mainkan bagi anak-anaknya, sehingga kondisi tersebut membuat eksistensi tradisional semakin tidak diketahui oleh masyarakat luas,” beber Durroh.

Dari itu, sebuah solusi inovatif hadir untuk mengatasi masalah di atas, yakni Loteng (Selodor Bhanteng) sebagai penyatuan permainan tradisional yang dikemas semenarik mungkin tanpa menghilangkan keaslian masing-masing permainan yang dapat mempertahankan budaya tradisional dan menanamkan konsep matematika pada anak Madura.

“Ayo, kita bernostalgia kembali dengan permainan tradisional sembari belajar konsep-konsep Matematika,” pungkasnya. [pin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar