Pendidikan & Kesehatan

Mahasiswa ITS Ciptakan Mesin Pengupas Biji Sorgum Tepat Guna

Surabaya (beritajatim.com) – Ada beberapa jenis tanaman yang bisa dijadikan alternatif pengganti sumber bahan pangan selain padi, yakni salah satunya adalah sorgum yang merupakan tanaman serbaguna.

Sayangnya belum ada mesin pengupas kulit biji sorgum yang tepat guna, sehingga sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berinovasi membuat mesin tersebut untuk membantu meningkatkan produktivitas petani tanaman sorgum.

Mereka adalah Bachtiar Ardhiansyah Putra, Radhita Bela Pertiwi, dan Andreyanto yang terinspirasi membuat mesin ini. Berangkat dari permasalahan pada petani sorgum di Kecamatan Tembelang, Jombang yang masih menggunakan mesin selep padi, sehingga biji sorgum belum terkelupas bersih dari kulitnya serta menyebabkan banyaknya biji yang pecah. “Hal itu tentu akan menurunkan harga jual dari biji sorgum itu sendiri jika dibiarkan,” ungkap Bachtiar, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ITS ini.

Ia menjelaskan bahwa mesin ini dirancang memiliki kecepatan yang optimal serta dilengkapi dengan gerinda pengupas yang kasar. Hal itu jika dikombinasikan dengan silinder saringan akan menimbulkan efek menggerinda pada biji sorgum yang menyebabkan terkelupasnya kulit biji sorgum dengan optimal. “Kesesuaian putaran mesin tersebut dapat menghindarkan risiko biji sorgum yang terpecah,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

Bachtiar menceritakan awal timnya terinspirasi untuk membuat alat ini. Mereka melihat potensi dari tanaman sorgum yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif selain beras. Hal itu karena sorgum mempunyai nilai karbohidrat yang hampir sama dengan beras dan jagung. Nilai protein yang tinggi pada tanaman sorgum juga cocok untuk penderita diabetes. “Jadi perlunya dirancang alat ini untuk mengatasi masalah petani sorgum di Kecamatan Tembelang sebagai wilayah studi kami dalam meningkatkan kualitas pascapanen di sana,” papar mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri ITS ini.

Proses mempersiapkan pembuatan mesin ini dari masa survey pertama, pembuatan alat hingga implementasi alat pada petani di Kecamatan Tembelang berjalan sekitar empat bulan. Ia mengakui sempat mengalami kesulitan dalam menentukan sistem pengupasan yang digunakan untuk mengupas sorgum. “Hal itu karena sistem dan kecepatan yang tidak sesuai dapat membuat biji hasil pengupasan banyak yang pecah,” terangnya.

Mengetahui mesinnya ini masih dalam proses pengembangan, ia dan timnya bertekad akan terus memperbaiki kekurangan alat sesuai saran dari petani sorgum yang ada di Kecamatan Tembelang setelah menggunakan alat tersebut. Hal itu akan menjadi referensi dari tim tersebut untuk membuat mesin pengupas biji sorgum generasi selanjutnya.

“Saat ini prototipe mesin ini kami ajukan sebagai PKM-T (PKM Teknologi, red) yang kami harapkan dapat lolos hingga PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, red) nanti,” tutupnya penuh harap.[adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar