Pendidikan & Kesehatan

KOMNASHAM: Hukuman Kebiri Tidak Sesuai Dengan Penegakan HAM

Moh Anam saat diwawancarai terkait hukuman kebiri

Surabaya (beritajatim.com) – Hukuman Kebiri yang diterima terdakwa Aris (20) asal Mojokerto terkait kasus pelecehan seksual dan kekerasan terus mendapatkan sorotan. Kali ini sorotan datang dari Moh. Choirul Anam, Komisioner Komnasham RI.

Ditemui beritajatim.com di Surabaya, Senin (26/8/2019) Moh Anam menyesalkan tindakan hukuman kebiri tersebut. Menurutnya putusan hukuman kebiri menurutnya menurunkan kualitas demokrasi.

Kita semua sudah komitmen bahwa kita sudah meratifikasi konvensi anti penyiksaan dan reformasi hukum pidana kita sudah menunjukkan hukuman fisik yang merusak fisik secara permanen itu juga dihindari. “Kita tentunya mengecam dengan amat sangat tindakan pemerkosaan. Tapi kami menyayangkan adanya hukuman kebiri,” ujar Moh Anam.

Menurut Moh Anam, kejahatan pemerkosaan memang tidak bisa dimaafkan dan harus mendapatkan hukuman yang berat. Hukuman berat bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi efektifnya juga ditambahi dengan hukuman sosial. “Ada baiknya dihukum seberat beratnya, 20 tahun atau hukuman seumur hidup dan diberikan pula hukum bekerja sosial sehingga ada manfaatnya. Tujuannya jelas bagimana kita bisa memanfaatkan orang-orang itu untuk berguna bagi masyarakat,” tambahnya.

Moh Anam hukum kebiri itu tidak sesuai dengan penegakan HAM serta tidak membawa efek jera. Kemudian ia menjelaskan bahwa sebenarnya dalam konteks apakah seorang pelaku tindak pidana jera atau tidak, dalam konteks hukum paradigma itu sudah ditinggalkan, baik dalam sistem hukum di dunia maupun di Indonesia. “Yang sekarang diikuti adalah bagaimana kita memberikan efek hukuman sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Hukuman seumur hidup ditambah hukuman kerja sosial itu sudah sangat berat,” tuturnya.

KOMNASHAM dan KOMNAS Perempuan serta beberapa ahli hukum di Indonesia telah menolak hukuman kebiri, karena itu menghilang esensi penegakan hukum. “Kita tunjukan kalau kita beradab. Negara kita bukan negara yang barbar, tindakan penghukuman harus bisa diukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Pertanyaannya adalah hukuman fisik itu sifatnya permanen atau tidak. Kebiri itu perusakan fisik yang permanen dan itu tidak dibolehkan dimana pun,” tegas Komisioner Komnasham ini.

Sedangkan putusan untuk memberikan tindakan penghukuman kebiri ini telah disahkan dari Putusan PT Surabaya dengan nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY, tertanggal 18 Juli 2019.

“Putusannya sudah inkrah. Kami segera melakukan eksekusi. Untuk wilayah Mojokerto, ini yang pertama kali. Kalau untuk pidana kurungannya sudah bisa dilakukan eksekusi. Namun untuk kebiri kimia, kami masih mencari rumah sakit yang bisa,” ungkap Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Nugroho Wisnu, Senin (26/8/2019).

Jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp100 juta, subsider 6 bulan kurungan. Terdakwa divonis bersalah melanggar Pasal 76 D juncto Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sementara pengadilan memutuskan Aris bersalah melanggar Pasal 76 D junto Pasal 81 Ayat (2) Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pemuda tukang las itu dihukum penjara selama 12 tahun dan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, Aris dikenakan hukuman tambahan berupa kebiri kimia. Hukuman kebiri merupakan pertimbangan dan keputusan para hakim di PN Mojokerto. Putusan perkara perkosaan yang menjerat Aris, naik banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya.

Terkait hukuman tambahan berupa kebiri kimia menurut Moh. Anam peraturan tersebut harusnya dikaji ulang dan bukan ia menyarankan untuk pencabutan. “Dicabut saja bikin perpu untuk mencabutnya. Selama 15 tahun peradaban hukum kita in diperbaiki, kita sedang berusaha meminimalisir tindakan hukuman fisik lah ini kok malah diperkuat. Saya rasa ini (putusan hukum kebiri, red) soal keinginan untuk populer aja dimata publik. Padahal ini membawa kita semakin mundur,” pungkas Anam. [adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar