Pendidikan & Kesehatan

Khofifah: Generasi Z adalah Kunci Indonesia Emas

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 1.600 siswa perwakilan OSIS SMA dan SMK se Jatim hadir mengikuti deklarasi Anti Anarkisme Anti Radikalisme di Mapolda Jatim, Rabu (16/10/2019).

Para Ketua OSIS dari seluruh SMA SMK di Jatim ini selain mendeklarasikan diri Anti Anarkisme dan Radikalisme juga mendapatkan pemaparan terkait memahami dan memilah berita dan isu yang mengandung hoaks, sosialisasi terkait bahaya narkoba serta sosialisi masuk TNI dan Polri.

Pemaparan materi diawali langsung oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Khofifah mengatakan bahwa pertumbuhan Indonesia sangat menjanjikan, diperkirakan pada tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian tinggi ke 4 dunia.

Hal tersebut, menurut Khofifah tidak lah mustahil karena salah satu tonggak keberhasilan negara adalah generasi muda. Generasi muda Indonesia pun dirasa telah cukup kompetitif dan memiliki kompetensi yang mumpuni.

Oleh karena itu, Khofifah tengah menyiapkan generasi Z (generasi muda,red) untuk bisa menjadi bagian dari pelanjut perjuangan di negeri ini. Generasi muda harus melanjutkan kepemimpinan, melanjutkan manajemen pemerintahan, melanjutkan manajemen TNI Polri, melanjutkan manajemen usaha dunia industri dan semuanya itu memang harus disiapkan secara lebih komprehensif dan lebih sistemik.

Dengan potensi generasi muda yang begitu besar, Khofifah mengatakan bahwa pada hari ini SMA SMK perwakilan seluruh kabupaten kota se Jawa Timur dikumpulkan supaya mereka saling mengenali. Meskipun mereka berasal dari berbagai rumpun budaya.

“Ada rumpun budaya yang beda dari Tapal Kuda, dari Arek, dari Mataraman, dari Madura dari Pantura. Itu baru pengenalan rumpun budaya, Bagaimana kemudian mereka mengenali rumpun bahasa mereka. Bagaimana mereka mengenali rumpun adat-istiadat mereka. Ini kita baru cerita Jawa Timur, betapa kebhinekaan yang dimiliki oleh Indonesia itu luar biasa dan harus kita jadikan potensi efektif untuk membangun bangsa ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Khofifah menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan itu janganlah menjadi pemicu yang kemudian menimbulkan 1. Intoleransi, 2. kemungkinan anarkisme dan ke 3 kemungkinan disintegrasi di antara rumpun rumpun budaya yang ada.

“Oleh karena itu, mengenalkan secara faktual bahwa kebhinekaan harus dilihat sebagai sebuah sunatullah. kebhinekaan ini mari kita jadikan sebagai sumber efektif untuk bisa membangun seluruh energi positif yang dimiliki terutama oleh para generasi Z,” tukasnya.

“Kalau kita menyiapkan 2045 Indonesia emas, 2045 adalah generasi emas. Maka generasi z nya sudah harus mulai banyak berinteraksi. interaksi ini tentu hari ini kita mulai untuk Jawa Timur tapi kita ingin tentunya mereka berkenalan dengan rumpun-rumpun budaya lain, dari kultur kultur yang ada di Indonesia sehingga mereka juga mengenali bagaimana hubungan antar bangsa,” pungkas Khofifah. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar