Pendidikan & Kesehatan

Ketua PWI Pamekasan Resmi Sandang Status Magister Media Komunikasi

Ketua PWI Pamekasan, Abd Aziz (tengah) berpose bersama keluarga dan rekannya usai menjalani prosesi wisuda di Unair Surabaya.

Pamekasan (beritajatim.com) – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Abd Aziz resmi menyandang status sebagai Magister Media Komunikasi (M.Medkom) pasca dinyatakan lulus pendidikan program magister (S2) di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Pewarta yang tergabung dalam Perum LKBN Antara Jawa Timur, mengikuti prosesi wisuda bersama 7 (tujuh) wartawan dari berbagai media massa dan anggota PWI Jatim, di Gedung Airlangga Convention Center di Kampus C UNAIR Surabaya, Jum’at (6/9/2019) kemarin.

“Alhamdulillah kami sudah selesai menuntaskan studi program magister di Unair Surabaya, yang kami jalani sekitar dua tahun terakhir,” kata Abd Aziz kepada beritajatim.com, Sabtu (7/9/2019).

Selain itu pihaknya juga nenyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan dukungan selama mengarungi studi. Khususnya dosen pembimbing tesis yang digarapnya, yakni Prof Rachmah Ida, Ph.D dan Dr Suko Widodo.

“Terima kasih sebesar-besaran kami sampaikan kepada rekan-rekan PWI Pamekasan dan PWI Jawa Timur, yang sudah memberikan dukungan bagi kami untuk menyelesaikan studi ini. Tidak kalah penting dukungan dari keluarga tercinta hingga dosen pembimbing tesis yang kami selesaikan,” ungkapnya.

Dalam prosesi wisuda, Abd Aziz bersama tujuh wartawan dari berbagai media massa dan anggota PWI Jatim, dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar magister. Masing-masing Ainur Rohim (Beritajatim.com/Ilmu Politik), Arief Sosiawan (Memorandum/Magister Manajemen), M Sholehuddin (Jawa Pos/Pengembangan SDM).

Selain itu terdapat juga Wahjoe Harjanto (Surya/Kebijakan Publik), Fiqih Arfani (LKBN Antara/Media dan Komunikasi), Achmad Mashudi (JTV/Pengembangan SDM) serta Machmud Suhermono (JTV/Ilmu Politik).

Dalam menyelesaikan tugas akhir studi yang ditempuhnya, Abd Aziz mengangkat tesis berjudul ‘Keberpihakan Jurnalis dalam Konflik Syi’ah-Sunni di Sampang Madura’,  penelitian yang menitik beratkan pada jurnalis Sampang peliput konflik bernuansa SARA dengan pendekatan teori hirarki terhadap isi media. [pin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar