Pendidikan & Kesehatan

Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi Bakal Semakin Berat

Pamekasan (beritajatim.com) – Rektor Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Abdul Muin menilai instrumen akreditasi perguruan tinggi khususnya dalam penyusunan borang institusi jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan selama ini, terjadi kesalahan umum yang dapat diidentifikasi melalui berbagai instrumen. Salah satunya dokumen yang tidak berisi informasi konsisten dan tidak berisi fakta penting (5W+1H), kaya informasi miskin fakta atau deskriptif normatif.

Selain itu, borang juga cenderung tidak seindah aslinya. Salah satunya menambahkan tabel yang tidak semestinya, mengubah nomor tabel, terlalu banyak gambar, tidak ada referensi sumber data hingga penyusunan yang tidak sesuai dengan panduan.

“Dalam persoalan ini, paradigma mutu adalah borang dan dokumen. Termasuk tanggung jawab pemangku kepentingan dan keterlibatan semua pihak, dukungan semua sumber daya, akuntabilitas bersama siklus, peningkatan berkelanjutan, transparansi hingga tradisi terbaik dalam meraih output dan outcome,” kata Abdul Muin, Selasa (23/4/2019).

Dari itu, pihaknya menilai saat ini penyusunan borang institusi jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. “Misalnya dalam perihal data mahasiswa yang mengacu pada Format Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-DIKTI), masa awal penggunaan instrumen versi 3.0 masih ada kelonggaran. Namun aturan data online akan konsisten dilakukan pada 2022 mendatang,” ungkapnya.

“Hanya saja borang versi baru penilaian mengacu pada Laporan Evaluasi Diri (LED) berbobot 48,5 persen dengan Laporan Kinerja Perguruan Tinggi (LKPT) berbobot 51,5 persen dengan 31 tabel,” imbuhnya.

Laporan berbasis PD-DIKTI, masing-masing penilaian mengacu pada poin input, proses, output dan outcome. “Pada aspek LED ini, bobot input sebesar 27,7 persen, proses 16,5 persen, output 3,3 persen dan outcome 1,0 persen. Sedangkan aspek LKPT meliputi bobot input 11,1 persen, proses 4,3 persen, output 21,6 persen dan outcome 14,6 persen,” jelasnya.

Status akreditasi perguruan tinggi versi baru terbagi dalam empat katagori berbeda, melipiti skor > 361 kategori Unggul, skor < 300 katagori Baik Sekali, skor < 200 katagori Baik dan skor < 200 katagori Tidak Terakreditasi. “Jadi dilihat dari kualitas perguruan tinggi dianggap unggul, jika program studi yang ada 75 persen terakreditasi A atau baik sekali. Jika 50 persen program studi terakreditasi A,” imbuhnya.

Dari itu pihaknya berencana untuk segera menyelenggarakan Bimbingan dan Teknik (Bimtek) Penyusunan Borang yang mengacu pada sembilan standar. “Insya’ Allah dalam waktu dekat, kita akan agendakan bimtek penyusunan borang yang mengacu pada sembilan standar sebagai respon kesiapan menghadapi akreditasi mendatang,” pungkasnya.

Saat ini IAI Al-Khairat Pamekasan yang beralamat di Jl Raya Palengaan (Palduding) Nomor 2 Pamekasan, tercatat memiliki delapan program studi (prodi) yang berada di bawah naungan tiga fakultas berbeda.

Meliputi Fakultas Ekonomi Syariah yang menaungi Prodi Ekonomi dan Bisnis Islam, serta Prodi Perbankan Syariah. Fakultas Tarbiyah menaungi Prodi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam, Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab. Sedangkan Fakultas Ushuluddin menaungi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. [pin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar