Pendidikan & Kesehatan

Perihal Layanan Rumah Singgah

Ini yang Perlu Diketahui Pasien Asal Banyuwangi di Surabaya

Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemkab Banyuwangi membuka layanan rumah singgah di Surabaya untuk warga Banyuwangi yang perlu dirujuk ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Dalam sebulan, rata-rata ada 25 pasien warga Banyuwangi yang memanfaatkan rumah singgah yang terletak sangat dekat dari RSUD dr Soetomo tersebut. Rumah tersebut sudah ada sejak pertengahan 2017.

Pasien diperbolehkan membawa maksimal dua pendamping yang bisa menginap dan memperoleh fasilitas makan. Dalam setahun, lebih dari 600 pasien dan pendampingnya memanfaatkan rumah singgah.

”Alhamdulillah, kemarin kami cek ke Surabaya. Perkembangannya bagus. Kamar, tempat ibadah, toilet, semua bersih. Dapur, kulkas, televisi, bagus. Ada tenaga perawat khusus, ada petugas bagian konsumsi. Tapi saya lihat perlu diperbanyak pengatur sirkulasi udara. Sudah saya minta ke tim untuk melengkapi,”

”Saya juga minta diperbanyak majalah, buku, dan penambahan WIFI biar warga dan keluarga pendamping tidak bosan di sana,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di kantornya, Selasa (6/8/2019).

Anas mengatakan, Rumah Singgah didirikan untuk membantu warga yang dirujuk ke Surabaya. Biaya pengobatan warga kurang mampu selama ini memang sudah ditanggung lewat berbagai skema, seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan jaminan kesehatan daerah. Tapi biaya penginapan dan konsumsi keluarga pengantar tidak termasuk dalam skema itu.

Sebelum ada Rumah Singgah, warga biasanya menyewa kos harian atau losmen.

”Dan itu cukup berat. Penginapan di Surabaya bisa Rp150 ribu per hari. Kalau lebih sehari bagaimana, seperti tindakan radioterapi yang butuh berhari-hari? Belum lagi biaya makan. Dulu biasanya warga Banyuwangi saweran untuk saling bantu. Dengan rumah singgah ini, warga bisa lebih nyaman dan tenang, bisa konsentrasi untuk pemulihan,” jelasnya.

Salah seorang warga yang memanfaatkannya adalah Nur Giwantoro asal Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Dia harus mendapatkan radioterapi rutin tiap hari selama lebih dari 20 hari. Di rumah sakit, dia hanya butuh waktu beberapa jam. Biasanya berangkat pukul 07.00, lalu pukul 10.00 sudah kembali ke Rumah Singgah. Sudah sebulan terakhir, Giwantoro beserta istrinya tinggal di rumah singgah.

Pasien lain yang kini tinggal di rumah singgah adalah Musahri. Dia juga menjalani radioterapi rutin tiap hari. ”Kalau tidak ada rumah singgah ini, saya bingung mau tinggal di mana. Mohon doa semoga saya cepat sembuh,” kata Musahri.

Anas menambahkan, secara bersamaan, dua rumah sakit Pemkab Banyuwangi terus berbenah. Salah satunya, RSUD Blambangan, sudah bertipe B. Ada penyakit yang dulu harus dirujuk ke Surabaya, kini bisa ditangani di Banyuwangi, seperti bedah saraf, pendarahan otak, dan hidrosefalus.

”Tapi, memang ada penyakit yang tetap harus dirujuk ke Surabaya, terutama yang cukup berat. Rumah singgah bisa membantu warga yang dirujuk,” pungkasnya. [rin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar