Pendidikan & Kesehatan

Fenomena Resistensi Murid dan Guru

Pamekasan (beritajatim.com) – Achmad Muhlis menilai resistensi merupakan interaksi dalam komunikasi antara murid dan guru untuk mengubah pribadi dan lingkungan, serta dapat diartikan sebagai salah satu bentuk ekspresi kecintaan dan kepatuhan murid dan masyarakat terhadap sang guru.

Hal tersebut disampaikan bersamaan dengan momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2019, sekaligus sebagai hasil penelitian dalam bentuk desertasi berjudul ‘Fenomena Resistensi Murid-Guru’ yang mengantarkannya untuk menyandang status sebagai doktor di Universitas Muhammadiyah Malang.

“Dalam desertasi yang kami usung, kami mencoba membangun teori resistensi fungsional dengan asumsi bahwa interaksi dalam komunikasi antara guru dan murid untuk mengubah diri sendiri dan lingkungannya. Sedangkan varian dari cara melakukan resistensi sangat tergantung pada nilai-nilai sosial budaya keluarga dan masyarakat,” kata Achmad Muhlis kepada beritajatim.com, Selasa (22/10/2019).

Tidak hanya itu, pihaknya menilai resistensi sebagai tindakan komunikatif untuk menunjukkan keinganian dengan tidak belajar. Sebagai bentuk apatisme murid terhadap guru yang sewenang-wenang dan tidak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya, mengakibatkan murid kehilangan hal terbaik dalam pembelajaran.

“Implikasi teoritik berdasar hasil penelitian yang kami lakukan, yakni mengkritik teori resistensi yang dikembangkan oleh Robinson dan Word yang menganggap resistensi yang dilakukan murid hanya untuk bertahan hidup. Sehingga resistensi berpotensi dan termasuk unsur utama yang dapat merusak dan sering dijadikan pilihan oleh remaja masa kini,” ungkapnya.

Di samping itu, resistensi juga dilakukan hanya untuk mendapat kebebasan yang biasa bersifat fasilitatif. Bekerja untuk melayani tujuan kelembagaan dan agenda sosial lainnya. “Dalam hal ini, resistensi hanya masuk pada tataran terendah pada tingkatan bertahan hidup semata, mengabaikan fungsi utama pendidikan dan nikai-nilai agama khususnya bagi masyarakat Madura,” jelasnya.

“Padahal di satu sisi, masyarakat Madura dikenal sangat kental dengan pemahaman agamanya melalui prinsip ‘abhental ombhek, asapok angin, apajung iman‘. Dalam artian masyarakat Madura memiliki keuletan yang sangat tinggi dalam bekerja, serta memiliki kemauan yang sangat kuat untuk selalu tunduk pada ketentuan syariat agamanya,” tegas dosen bahasa Arab IAIN Madura.

Dari itu, pandangan Robinson dan Word sangat bertentangan dengan prinsip dasar yang selalu dikembangkan dan diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun di sisi lain, resistensi juga dapat diasumsikan sebagai interaksi dalam komunikasi antara guru dan murid untuk mengubah diri dan lingkungan.

“Varian cara melakukan resistensi tergantung pada nilai, budaya keluarga dan masyarakat. Sehingga resistensi dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi kecintaan dan kepatuhan murid dan masyarakat kepada guru, terlebih hal itu juga juga didukung dengan prinsip masyarakat Madura; ‘bhepak, bhebuk, ghuru, rato’ yang menandakan kepatuhan masyarakat Madura yang tidak diragukan lagi,” imbuhnya.

Dari itu pihaknya mengaku sependapat dengan teori resistensi yang dikembangkan Brown dan Giligan yang menyatakan resistensi terjadi sebagai akibat dari perasaan, pikiran yang dipendam, ketidakpastian dan kebingungan. “Resistensi ini mengacu pada saat seorang melakukan perjuangan untuk membenahi hubungan yang kurang baik, sehingga ia berani mengungkapkan Ketidak cocokannya pada orang lain,” beber Mukhlis.

“Brown dan Giligan, menyatakan bahwa kedua tipe ini dapat mengatasi dan meminimalisir resistensi murid terhadap guru. Walaupun di sisi lain komunikasi antara guru dan murid tidak akan berjalan secara efektif, dan akan terjadi ‘kalam baligh’, yakni kata-kata atau kalimat yang muncul sesuai dengan konteks atau sesuai dengan situasi dan kondisi dimana kata-kata atau kalimat di ungkapkan serta siapa yang mengungkapkannya dengan siapa ia berkomunikasi, yang kadang-kadang susah diartikulasikan,” tegasnya.

Sisi lainnya, masyarakat Madura memiliki prinsip ‘ngecok tengka lanjheng tobhet’ juga menyangkut kesalahan dalam sebuah tindakan dan etika sosial dan akan sangat rumit cara menyelesaikannya.

“Dengan demikian, Brown dan Giligan sejalan dan tidak bersimpangan dengan prinsip ini. Disamping itu masyarakat Madura juga sangat kuat dengan prinsip ‘e tembheng pote mata ango’an pote tolang’, sehingga prinsip ini dapat diartikulasikan lebih baik mati daripada harus menanggung malu,” pungkasnya. [pin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar