Pendidikan & Kesehatan

Era Industri 4.0 Perempuan Punya Kesempatan Setara

Malang(beritajatim.com) – Wali kota Batu Dewanti Rumpoko kepada ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, mengatakan, di era Industri 4.0, laki-laki dan perempuan memiliki peran dan kesempatan sama besarnya untuk berkembang.

Dewanti menyebut data yang ia miliki dari Badan Pusat Statistik (BPS), hanya ada 30 persen pekerja perempuan di bidang industri sains, teknologi, teknik, dan matematik.

“Tantangannya sekarang, bagaimana mengubah sikap permisif dan praktek budaya yang membatasi kemajuan perempuan melalui pendidikan untuk memperkecil kesenjangan antara kaum perempuan dan laki-laki. Perlu program-program pemberdayaan bagi kaum perempuan,” kata Dewanti, Rabu, (6/3/2019).

Dewanti menuturkan, hadirnya revolusi industri 4.0, harus dapat dikelola dengan baik oleh kaum perempuan, karena memiliki prospek yang menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian dari peradaban dunia.

“Karena perempuan memiliki peran yang sangat strategis, sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus juga memiliki peran dalam masyarakat,” kata wali kota perempuan pertama di Malang Raya itu.

Dewanti menyebut, perempuan harus kreatif dan berpendidikan tinggi. Dalam dunia pendidikan, perempuan harus memiliki orientasi pendidikan setinggi mungkin. Supaya ketika menjadi seorang ibu, perempuan dapat menjadi tempat pertama untuk memperluas wawasan anaknya.

“Jangan kalah dengan laki-laki, perempuan juga bisa,” serunya.

Sementara itu, pemerhati gender dan akademisi program studi Ilmu Pemerintahan UMM Tri Sulsityaningsih, mengatakan di era Industri 4.0, peran perempuan di dunia kerja semakin penting.

Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada awal tahun 2018, berdasarkan data BPS, TPAK laki-laki sebesar 83,01 persen, sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 55,44 persen.

Namun, untuk mencapai kesetaraan peran perempuan dan laki-laki masih menemukan banyak hambatan. Utamanya, kesenjangan akses dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi antara perempuan dan laki-laki masih cukup besar. Mengutip data International Telecommunication Union (ITU), menunjukan prosentase pengguna teknologi informasi dan komunikasi perempuan masih lebih rendah.

“Faktor-faktor penghambat perempuan di negara berkembang dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi adalah pendidikan, keaksaraan, bahasa, waktu, biaya, norma sosial dan budaya. Perempuan Indonesia merupakan pengguna Internet yang aktif, namun memiliki literasi digital yang rendah, hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan, latar belakang pendidikan yang rendah, dan lainnya,” paparnya.

Selain itu, menurutnya perempuan sebagai partner dalam pembangunan dewasa ini harus meningkatkan kemampuannya di segala aspek, termasuk dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi.

“Kemampuan individu untuk bisa mengakses informasi di era digital merupakan hal penting, termasuk bagi perempuan. Berbagai usaha ini sebagai bagian dari peningkatan kapasitas perempuan agar ikut berperan secara aktif,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar