Pendidikan & Kesehatan

Eliminasi Malaria, Kemenkes dan UNICEF Serukan Kolaborasi Semua Sektor

Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia harus dapat mempercepat eliminasi malaria di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa. Langkah cepat ini  dilakukan karena masih terdapat beberapa daerah belum terbebas dari Malaria, meskipun target Bebas Malaria untuk Jawa dan Bali ditetapkan pada 2023.

“Butuh kerja bersama untuk bisa tetap semangat menabuh genderang perang terhadap Malaria. Sehingga target Kementerian Kesehatan yang bertekad mengeliminasi Malaria pada 2030 dari seluruh Indonesia bisa terwujud,” ujar Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara.

Dia menerangkan bahwa perang terhadap malaria telah dilakukan sejak lama, sejak masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda kala itu menyadari malaria adalah ancaman terbesar kesehatan masyarakat. Makanya pada 1911 pemerintah jajahan mendirikan Jawatan Sipil Kesehatan untuk menyelidiki dan memberantas malaria.

“Bahkan Presiden Soekarno sendiri memimpin pemberantasan Malaria dengan membentuk Kopem, Komando Operasi Pembasmian Malaria,” terang Arie.

Sampai saat ini, beberapa pemerintah daerah sudah menunjukkan komitmen kolaborasinya dengan mengalokasikan anggaran berkesinambungan bahkan dengan mendirikan Pusat Pengendalian Malaria (Malaria Center) atau Pos Malaria Desa (Posmaldes) sebagai unit koordinasi dan Juru Malaria Desa yang memimpin aksi langsung di depan garis perlawananan: desa, kampung, dan dusun.

Strategi ini sudah menunjukan hasil. Bali, DKI Jakarta dan Jawa Timur berhasil mengeliminasi Malaria yang berasal dari kawasan mereka. “Jawa Timur sudah sejak tahun lalu mereka mampu melakukan eleminasi malaria. Kabupaten Trenggalek menjadi daerah terakhir yang akhirnya mampu melakukan eleminasi malaria,” ujar Arie di sela-sela Seminar Pelibatan Lintas Sektor dalam Percepatan Eliminasi Malaria Regional Jawa Bali.

Sementara Kabupaten Kepulauan Seribu justru yang pertama tersertifikasi Bebas Malaria. “Langkah kabupaten-kabupaten kecil dan hebat ini akan jadi inspirasi wilayah yang masih berisiko seperti Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat maupun DIY,” ucapnya.

Beberapa kasus malaria yang ada di keempat provinsi di Jawa didominasi oleh kasus malaria impor. Dan di beberapa wilayah dengan status khusus atau lanskap unik seperti Taman Nasional Ujung Kulon di Banten dan Bukit Menoreh di Kulonprogo, DIY.

Arie juga menjelaskan, langkah eleminasi malaria itu penting bagi daereah-daerah untuk bisa memastikan anak-anak terbebas dari ancaman malaria. Mereka harus dipastikan aman dari serangan nyamuk mematikan tersebut.

“Apalagi penyakit ini sejak eranya Bung Karno sudah dijadikan musuh bersama. Sejarah perjalanan perang melawan malaria naik-turun dan cenderung makin terlupakan. makanya harus kita giatkan kembali untuk bisa mengejar target eleminasi malaria di Indonesia pada 2030. Demi Generasi Emas Indonesia, pasti bisa,” jelasnya.

UNICEF sendiri, katanya, ingin melanjutkan dukungan pada Pemerintah Indonesia untuk terus mengurangi penularan malaria.  Termasuk penularan di kawasan yang sulit di Indonesia. Sehingga malaria dapat dihilangkan secara nasional dalam dekade berikutnya.

Bahkan, UNICEF juga fokus dalam membantu provinsi-provinsi yang paling menantang atau daerah endemis yang terus-menerus tinggi di lima wilayah Timur Indonesia.  Baik itu Provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara. Termasuk juga ketika ada langkah eliminasi malaria di kawasan hutan, penambangan, dan daerah perbatasan.

Saat ini semua pihak berkepentingan untuk memastikan punya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati untuk peduli pada pelajaran masa lampau untuk memahami masa kini. Untuk memastikan konsistensi dalam perang terhadap malaria. “Saatnya tuntaskan upaya Presiden Soekarno. Buktikan kita generasi yang tidak sekalipun melupakan sejarah,” tutur Arie. [ifw/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar