Pendidikan & Kesehatan

Diskusi Publik Universitas Jember - PWI

Dosen Unej Lebih Suka Meneliti Banyuwangi daripada Jember

Jember (beritajatim.com) – Kebudayaan di Kabupaten Banyuwangi lebih menarik perhatian peneliti dari Universitas Jember daripada Kabupaten Jember sendiri. Padahal Jember memiliki potensi kebudayaan yang bisa dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata.

Pengakuan ini dikemukakan Ilham Zoebazarry, akademisi dan penulis buku ‘Orang Pendalungan: Penganyam Kebudayaan di Tapal Kuda’, dalam diskusi publik mengenai pariwisata dan kebudayaan yang digelar Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia, di Taman Botani Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasda (22/10/2019).

“Banyuwangi sudah melangkah jauh mengembangkan kebudayaan, karena memang sejak dulu Banyuwangi eksotis. Para peneliti Unej hampir 100 persen larinya ke Banyuwangi, termasuk penelitian saya untuk disertasi. Baru setelah itu saya menyadari: kasihan Jember dan sekitarnya, tidak ada yang menyentuh masalah kebudayaan. Saya lalu mundur dari Banyuwangi dan sendirian meneliti Jember,” kata Ilham.

Menurut Ilham, kawasan Pendalungan raya sebenarnya meliputi Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan. Berbeda dengan beberapa daerah lain seperti Ponorogoan yang tunggal atau Mataraman yang sangat utuh Jawanya, di sini multietnis: ada Jawa sangat kuat, Madura sangat kuat, Osing, Mandar di pesisir. Ini kekuatan yang dimiliki sebenarnya, dan pemerintah daerah di sekitar sini sudah mulai menyadari. Situbondo, Bondowoso mulai bergerak menyadari dirinya sebagai orang Pendalungan,” katanya.

Sebenarnya sangat sulit untuk mengembangkan pariwisata di kawasan Pendalungan. Hal ini dikarenakan kerasnya karakter masyarakat kawasan ini. Banyuwangi adalah perkecualian.”Mengapa Banyuwangi bisa seperti itu (pariwisata kebudayaan berkembang, red), ya karena pintar-pintarnya orang Banyuwangi,” kata pria yang mengajar di Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember ini.

Ilham menekankan pentingnya kolaborasi kawasan untuk mengembangkan pariwisata dan kebudayaan di kawasan Pendalungan raya. “Tidak mungkin sebuah kawasan dimajukan sebagai destinasi wisata tunggal. Kalau pun itu dianggap mungkin, akan mahal sekali,” katanya.

“Apa yang bisa dilakukan kawasan di sini adalah pengembangan kebudayaan. Platform nasional 60 persen adalah pengembangan pariwisata kebudayaan, yang 35 persen alam, yang lima persen buatan. Jadi sebenarnya potensi kita ada di kebudayaan,” kata Ilham.

Menurut Ilham, bupati sudah mencanangkan Jember sebagai Kota Pendalungan. “Ini sebenarnya starting point luar biasa, tapi belum ditindaklanjuti. Baru sampai di situ saja. Ini sebenarnya kalau dilanjutkan luar biasa. Kita mempunya Pendalungan kaya sekali. Jawa kita hidupkan, Madura kita hidupkan, yang campur aduk kita hidupkan,” katanya.

“Kolaborasi kawasan memang kita lakukan. Tapi itu tidak mungkin kita lakukan, kalau masing-masing anggota kawasan itu tidak kuat, dan Jember sangat lemah karena tidak mempersiapkan diri melakukan itu sebagai sebuah entitas,” kata Ilham.

Jember belum punya pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah. “Saya dan kawan-kawan melekan tiga hari tiga malam untuk memikirkan. Tinggal menyusun, nih jadi. Tinggal implementasi. Tapi tidak ada apa-apa sampai sekarang. Artinya memang tidak dibutuhkan,” kata Ilham. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar