Pendidikan & Kesehatan

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gelar Pena Bangsa di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

Kediri (beritajatim.com) — Untuk memperkuat karakter bangsa melalui bidang kesejarahan, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019 menyelenggaran kegiatan Penguatan Nilai Kebangsaan di Pesantren (Pena Bangsa).

Kegiatan ini digagas dengan kesadaran bahwa nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat untuk mengokohkan ikatan kebangsaan yang beragam demi kemajuan.

Kegiatan dimaksudkan bahwa semangat kebangsaan yang dinafasi oleh nilai dan tradisi pesantren dapat menjadi modal dan model untuk menguatkan karakter kebangsaan bagi generasi penerus.

Kegiatan ini diikuti 600 peserta terdiri santri, kiai, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan ini, akan dilaksanakan pada 1-4 Oktober 2019 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Mengambil tema Pesantren dan Nilai Kebangsaan: Merawat Ingatan Sejarah untuk Memperkokoh Keindonesiaan. Rangkaian kegiatan terdiri dari halaqoh kebangsaan, lomba esai kebangsaan, dan pameran kesejarahan.

Halaqoh Kebangsaan yang mendiskusikan narasi sejarah dan tradisi kebangsaaan di pesantren ini dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2019.

Halaqoh menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dengan subtema: Peran Pondok Pesantren Lirboyo dalam Penguatan Kebangsaan; budayawan KH. Zawawi Imron dengan subtema: Keislaman dan Keindonesiaan: Wajah Kebudayaan Islam Indonesia; akademisi K. Ng. Agus Sunyoto dengan subtema: Islam, Pesantren, dan Nilai Kebangsaan di Jawa Timur: sebuah Pantulan Sejarah, yang akan dimoderatori oleh KH. Hamim Hudori, L.c., M.A.

Lomba Esai Kebangsaan adalah ajang kreativitas santri dalam menyusun esai dalam bahasa Arab dengan judul: Syabuna al-Indunisy: al-Tajariib wa al-Amaaly (Bangsa Kita adalah Bangsa Indonesia: Pengalaman dan Harapan).

Lomba dimulai tanggal 15-26 September 2019 ketika para peserta mengirimkan karya esainya. Dari Esai-esai yang terkumpul dipilih 10 esai terbaik oleh Dewan Juri untuk dipresentasikan pada tanggal 3 Oktober 2019 untuk menentukan juara 1, 2, 3, dan juara harapan 1, 2, 3.

Pameran Kesejarahan, yang menggambarkan perjalanan pesantren dan kontribusinya dalam membangun bangsa dan negara, diadakan pada tanggal 2-4 Oktober 2019. Pameran akan menampilkan foto-foto, naskah, dan benda-benda bersejarah lainnya yang ada di pesantren dan buku-buku terbitan Direktorat Sejarah.

Beragam acara yang didesain dalam kegiatan Pena Bangsa ini menjadi bagian dari kontribusi (legacy) pesantren dari masa ke masa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan nilai-nilai toleransi sangat signifikan dalam mempersatukan kehidupan masyarakat.

Pesantren yang menampilkan wajah Islam yang tawassuth (memilih jalan tengah), tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan) memberikan kontribusi penting dalam pembentukan bangsa-negara Indonesia sejak masa prapenjajahan, penjajahan, perjuangan kemerdekaan, proklamasi kemerdekaan, masa pascakemerdekaan sampai masa kontemporer.

Oleh karena itu, dalam setiap periode sejarah bangsa Indonesia, Tradisi Pesantren selalu dapat mengambil peran yang penting. Mudahnya demokrasi tumbuh di Indonesia—yang kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat—salah satunya adalah ditopang oleh Islam Indonesia yang berwajah tawassuth, yang inklusif, akomodatif, toleran dan menerima UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai final. [nng/ted].

Apa Reaksi Anda?

Komentar