Pendidikan & Kesehatan

Dindik Jatim Yakin ‘TisTas’ Mampu Turunkan Angka Putus Sekolah

Surabaya (beritajatim.com) – Masih tingginya angka putus sekolah menjadi perhatian tersendiri Dinas Pendidikan Jawa Timur. Pasalnya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa juga telah mengeluarkan program TisTas (Gratis Berkualitas) yang memungkinkan menurunkan angka putus sekolah di Jatim.

PLT Dindik Jatim, Hudiyono mengatakan bahwa progam TisTas menjamin anak-anak tidak mampu untuk tetap bisa bersekolah dengan bebas biaya. Oleh karenanya, jika memang masalah terbesar putus sekolah karena faktor ekonomi, Dinas akan memberikan rekomendasi untuk sekolah gratis di salah satu SMA swasta, yang terdekat dengan rumahnya. Tentu saja, rekomendasi tersebut diberikan usai pihaknya memverifikasi data yang sesuai dengan persyaratan.

Menurut Hudiyono masih terdapat sekitar 19.000 anak yang tidak mengenyam pendidikan, karena berbagai faktor. Mulai dari persoalan biaya pendidikan hingga memang tidak ingin sekolah. “Jika memang masalah ekonomi, kami rekomendasikan sekolah gratis di swasta. Jadi nanti, untuk sekolah swasta, wajib menerima paling tidak satu sampai lima siswa tidak mampu dalam satu rombongan belajar (rombel),” tuturnya.

Dengan begitu, Hudiyono berharap tidak ada lagi siswa yang tidak bisa mengenyam bangku pendidikan karena persoalan biaya pendidikan. Dalam hal ini, pihaknya juga bekerjasama dengan aktifis, elemen masyarakat dan lembaga pendidikan.

“Saya minta sekolah juga menyisir anak-anak tidak mampu ini untuk disekolahkan ke sekolahnya. Mereka akan dibantu Pemprov. Dan untuk masyarakat, jika memang menemukan anak yang ingin sekolah tapi tidak punya biaya, disilakan diajukan ke Dinas Pendidikan, asalkan sesuai persyaratan (tidak mampu),” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hudiyono juga menegaskan, baik SMA/SMK negeri tidak boleh memberikan edaran terkait penarikan biaya SPP. Sebab, untuk SMA/SMK negeri, SPP sudah digratiskan. Jika pihaknya menemukan edaran penarikan SPP, maka sanksi tegas akan dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur. “Tentu kita cek dulu keaslian edaran itu. Jika memang terbukti benar ada (penarikan), kepala sekolah akan kami skorsing,” tegas dia.

Upaya mengentaskan angka putus sekolah juga sudah dilakukan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim. Dalam hal ini, Kacabdin Dindik Jatim wilayah Sidoarjo (Surabaya-Sidoarjo) Sukaryantho, telah melakukan penyisiran siswa, berdasar dari laporan yang didengarkan melalui radio.

Pada kesempatan itu, ia juga menegaskan jangan sampai ada siswa tidak sekolah karena apapun, termasuk soal biaya. “Kami mikir solusi untuk pelayanan pendidikan di beberapa sekolah. Sekolah kan bisa negeri dan sekolah. Temen-teman bisa membantu kami faktornya karena apa dan kita carikan sekolah terdekat dari rumah,” tuturnya.

Sebab, pihaknya sendiri juga telah membangun komitmen dengan MKKS SMA/SMK swasta Surabaya dan Sidoarjo terkait penerimaan siswa yang kurang mampu.

Sementara itu, Ketua MKKS SMK swasta Surabaya, Sugeng membenarkan adanya komunikasi dan komitmen yang dibangun dengan Dindik Jatim, melalui Cabang Dinas Wilayah Sidoarjo. Sebanyak 94 SMK swasta nantinya akan menerima satu hingga lima siswa dalam satu rombel.

“Prinsipnya, kami ingin membantu anak-anak yang ingin sekolah. Namun memang, ada SMK yang menggratiskan seratus persen ada yang hanya meringankan biaya pendidikan saja. Sekolah swasta tidak bisa murni untuk pendidikan gratis,” tambahnya.

Seperti halnya yang ada disekolahnya. Terkait penerimaan mitra warga, ada tujuh siswa yang bersekolah di SMK Wijaya Kusuma dalam enam rombel. Maka dari itu, ia hanya memberi keringanan biaya SPP dan uang gedung sebesar 50 persen.

“Tidak ada verifikasi khusus untuk penerimaan mitra warga. Dasar kami hanya mengutamakan rekomendasi dari kelurahan. Kita jemput bola juga untuk penerimaan siswa. Seadainya kuota penuh kita juga memfasilitasi ke sekolahnya. Yang penting kita membantu meringankan biaya. Karena fasilitas sekolah ini berbeda-berbeda dalam memberikan pelayanan,” katanya.

Lingga Permatasari, salah satu murid yang menerima bantuan pendidikan TisTas mengaku sangat bersyukur dengan bantuan yang diberikan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Mengingat ia sangat ingin membahagiakan orang tuanya. Ia menilai bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan.

“Bersyukur sekali saya bisa melanjutkan sekolah karena bantuan Dinas Pendidikan. Karena saya bisa menggapai cita-cita saya menjadi dokter. Dengan adanya kesempatan ini,” pungkasnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar