Pendidikan & Kesehatan

Didorong Teman, Siswa SMPN 2 Sooko Mojokerto Jatuh dari Lantai II

Kondisi AF (13) siswi SMPN 2 Sooko yang terjatuh dari lantai II. [Foto : misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – AF (13), siswi Sekolah Menegah Pertama Negeri (SMPN) 2 Sooko, Kabupaten Mojokerto mengalami cidera pada pergelangan kaki sebelah kanan. Diduga siswi kelas VII C ini didorong salah satu temannya saat turun tangga dari lantai II sekolahnya.

Kejadian naas tersebut dialami korban pada, Jumat (6/9/2019) sekira pukul 09.30 WIB atau saat waktu istirahat pertama berlangsung. Korban yang hendak ke kantin yang terletak di lantai I tersebut turun dari lantai II, yakni dari ruang kelasnya yang berada di lantai II.

Ditemui di rumahnya, di Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, korban menuturkan, kronologi kejadian hingga ia harus mengalami cidera pada pergelangan kaki sebelah kanan dan tidak bisa sekolah.

“Saya mau ke kantin di lantai II, tepat di tangga pas di undak-undakan (mata tangga) ke 4. BG (terduga siswa kelas VII A) ada di belakang saya, sebelum saya didorong dia bilang bilang cepetan-cepatan (buruan-buruan, red). Lalu tiba-tiba saya didorong,” ungkapnya, Jumat (13/9/2019).

Masih kata korban, saat di tangga tersebut ia tak sendiri. Di depannya ada satu orang teman dan di belakang terduga juga ada satu orang teman. Korban terjatuh tepat di depannya ada salah satu guru, korban pun dipijat sebelum akhirnya dibawa ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

“Waktu turun rok saya itu saya cincing (diangkat, red). Saat jatuh ada guru di depan saya, lalu dipijet sama guru lalu dibawa ke UKS. Saya tidak tahu kenapa Bagas mendorong saya, sebelum mendorong saya dijambak. Saat jatuh itu saya kesakitan dan menangis,” katanya.

Kakak korban, Agus (23) mengatakan, ia langsung ke sekolah dan menjemput adiknya setelah mendapat informasi dari pihak sekolah jika adiknya jatuh. “Adik saya bawa pulang ke rumah dulu, baru ke RSUD bersama guru BK. Guru adik saya meminta kartu KIS keluarga agar biayanya tidak terlalu besar,” ujarnya.

Masih kata Agus, dari hasil pemeriksaan di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, korbab harus menjalani operasi karena cidera pada pergelangan kaki cukup parah. Namun korban hanya menjalani perawatan di rumah sakit satu hari dan diminta pulang.

“Hasil pemeriksaan diminta operasi tapi kenapa disuruh pulang, sudah sepekan pihak sekolah juga tidak ada yang ke rumah jenguk adik saya. Hanya guru BK yang ke sini. Kalau yang mendorong adik saya sudah ke sini dua kali dan memberi bantuan Rp150 ribu dan Rp300 ribu,” tuturnya.

Agus menyayangkan sikap pihak sekolah yang seperti tidak bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa adiknya. Bahkan, pihak sekolah akan memberikan sangsi kepada adiknya jika ada kejadian terulang yang menimpa siswa lainnya.

“Saya berharap pihak sekolah bertanggungjawab, sampai saat ini belum ada tembusan lagi dari pihak sekolah. Keluarga meminta pertanggungjawaban dari sekolah, adik saya seharusnya di operasi kok tiba-tiba disuruh pulang dari rumah sakit, itu juga menjadi pertanyaan bagi kami,” tegasnya.

Sementara itu, Humas SMPN 2 Sooko Subai menjelaskan, pihaknya tidak langsung membawa AS ke rumah sakit karena AS tidak merasa kesakitan bahkan tertawa usai kejadian. “Penyebabnya ini tidak tahu, Apa didorong? apa keserimpet rok? Kita juga tidak tahu,” urainya.

Masih kata Subai, pihak sekah sudah melakukan mediasi antara pihak keluarga korban dengan terduga. Menurut dia, keluarga AF selama dua hari terakhir datang ke sekolah untuk menuntut tanggung jawab dari SMPN 2 Sooko.

“Tindakan awal dari rumah sakit tidak jadi operasi. Disuruh menunggu sampai 23 September 2019 untuk kontrol ke rumah sakit sekaligus menentukan operasi atau tidak,” pungkasnya.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar