Pendidikan & Kesehatan

DBD di Surabaya Menurun, Berikut Terobosannya

Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah merebaknya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur, ternyata penderita DBD di kota Surabaya mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Menurut Drg Febria Rachmanita, MA, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, indeks keberhasilan penurunan kasus DBD dapat dilihat perbandingan banyaknya kasus per bulan tiap tahunnya.

“Jadi indeks keberhasilannya bisa dilihat berapa kasus di Januari tahun lalu dengan Januari tahun ini, berapa di Februari tahun lalu dan Februari tahun lalu. Lihatnya dari situ. Kalau ada penurunan berarti berhasil,” ujar Febria.

Data yang didapat beritajatim.com dari Dinas Kesehatan hingga 12 Februari 2019 adalah sebagai berikut;
Januari 2017 – 46 kasus
Januari 2018 – 42 kasus
Januari 2019 – 33 kasus
Februari 2017 – 46 kasus
Februari 2018 – 48 kasus
Februari 2019 – 19 kasus (hingga 12/2/2019)

Dari data diatas, dapat dilihat bahwa Kota Surabaya mengalami penurunan kasus DBD. Febria mengatakan bahwa keberhasilan ini merupakan upaya dan kerja keras segenap masyarakat Surabaya yang berkomitmen menekan bahkan memberantas penyebaran wabah DBD.

“Ini karena semua pihak terlibat, dari Bumantik (Ibu Pemberantas Jentik Nyamuk) hingga Walikota turut berperan dan berpartisipasi penuh,” tambahnya.

Di kota Surabaya sendiri kader Bumantik sebanyak 22.882 yang dikerahkan penuh untuk memantau dan memberantas jentik nyamuk. Setiap satu Bumantik bertanggung jawab atas 10 rumah dan wajib melaporkan langsung ke Kepala Desa dan Camat.

“Surabaya ini ada surat edaran dari Walikota tentang kewaspadaan dini DBD untuk setiap RW dan RT. Serta Bu Wali sendiri berkomitmen dan aware sekali, bahkan beliau tidak segan menegur Lurah atau Camat dengan Bendera Hitam di desanya, kalau Desanya jadi pemegang kasus terbanyak DBD,” tutur Kepala Dinas Kesehatan.

Tahun ini, daerah yang memiliki kasus DBD terbesar hingga Februari 2019 adalah Sawahan, Pabean Cantikan, Tambaksari, Asemrowo dan Tandes.

“daerah-daerah tersebut adalah daerah padat penduduk, tapi bukan tidak ada progres. Januari Tandes merupakan daerah dengan kasus terbanyak tapi di Februari jadi nomer 6. Memang antisipasi dan sosialisasi harus terus dilakukan, ini bukan hal yang bisa langsung dirasakan hasilnya seperti membalik telapak tangan, ada prosesnya. Untuk itu kami tidak henti memberikan pendampingan dan sosialisasi yang menyeluruh,” tambahnya saat ditemui sebelum acara Sosialisasi dan Pengkaderan Bumantik Surabaya di Sawunggaling lantai 6 Gedung Pemerintah Kota Surabaya, Rabu (13/2/2019). [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar