Pendidikan & Kesehatan

Daftar SNMPTN, Siswa Perlu Tahu tentang Kuota Sekolah

Surabaya (beritajatim.com) – Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2019 telah dirilis sejak 4 Januari 2019 lalu. Proses pengisian berkas dan verifikasi PDSS juga telah dilakukan sejak 4 – 25 Januari lalu. Sedangkan pendaftaran SNMPTN saat ini masih berlangsung (sejak 4 – 14 Februari 2019).

Universitas Airlangga (UNAIR) pun hari ini, Senin (11/2/2019), melakukan sosialisasi terkait SNMPTN dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di Aula Garuda Mukti, Gedung Rektorat UNAIR.

Dalam kesempatan ini Rektor UNAIR, Prof. Muhammad Nasih memaparkan tentang proses dan skema pendaftaran mahasiswa baru di UNAIR. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah komponen penilaian dalam penjaringan mahasiswa baru.

Komponen penilaian SBMPTN adalah berasal dari indeks siswa dan indeks sekolah. Dari indeks sekolah tersebut, ditentukan daya tampung untuk setiap program studi. Sementara untuk indeks siswa, sepenuhnya dihitung oleh penilaian panitia pusat, dalam hal ini Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

Yang dinilai pertama untuk jalur SBMPTN adalah indeks sekolah. Yakni hasil ujian tulis yang berasal dari SMA masing-masing. Terutama nilai SBMPTN siswa masing-masing sekolah tahun lalu. Tinggi rendahnya akumulasi nilai SBMPTN siswa di sekolah itu tahun lalu sangat bisa mempengaruhi indeks sekolah.

“Untuk itu, nilai indeks sangat dipengaruhi oleh hasil SBMPTN kakak kelas mereka di tahun lalu. Jika indeksnya tinggi akan memungkinkan sekolah tersebut mendapat kouta masuk yang besar, begitu sebaliknya,” terang Rektor.

Kuota masuk yang didapatkan dari satu sekolah bisa berbeda dengan sekolah lainnya. Dan kuota tersebut juga tergantung perengkingan siswa di sekolah.

“Misalnya, kuota sekolah yang didapat dari indeks sekolah sebesar 3 siswa untuk Fakultas Kedokteran di UNAIR. Jadi hanya siswa peraih rangking 1 – 3 sekolah yang bisa mengisi kuota tersebut,” papar Prof. Nasih.

Nasih menambah meskipun nilai siswa yang bersangkutan tinggi, tetapi tidak masuk dalam batasan tertentu untuk sekolahnya, bisa jadi siswa tersebut tidak diterima.

Selain itu, siswa yang sudah masuk dalam kuota dan batasan tertentu juga dianjurkan untuk mencantumkan piagam atau bukti peraihan prestasi luar biasa, khususnya dibidang Sains saat pendaftaran. Sebab, prestasi akademik siswa berbentuk sertifikat tersebut akan menjadi bahan pertimbangan UNAIR.

Untuk itu, Prof. Nasih menghimbau kepada seluruh Kepala Sekolah atau guru yang hadir untuk memperhatikan detail dari komponen penerimaan SNMPTN ini.

“Kami ingin semua berjalan dengan fair, yang baik dan terbaik pasti masuk. Kami berharap kawan-kawan di sekolah bisa mengatur strategi untuk mendorong siswa agar bisa memenuhi harapannya,” tambahnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar