Pendidikan & Kesehatan

Catat! FKG Unair Tidak Buka Jalur Bidikmisi

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga (Unair) melakukan sosialisasi dan menjawab pertanyaan kepala sekolah dan guru seputar informasi masuk ke perguruan tinggi tersebut. Rektor Unair Prof Moh Nasih mengundang kepala sekolah SMA sederajat se-Jawa Timur.

Acara tahunan bertajuk Sosialisasi SNMPTN dan SBMPTN itu berlangsung dinamis, mengingat sosialisasi ini dihadiri oleh 310 kepala sekolah di Jawa Timur di Gedung Garuda Mukti lantai 5, Gedung Rektorat Unair, Senin (11/2/2019). Salah satunya adalah masalah Bidikmisi.

Beberapa guru menanyakan laman pendaftaran Bidikmisi tidak dapat diakses selama beberapa hari ini. Prof. Nasih mengatakan bahwa informasi dari Pusat website pendaftaran Bidikmisi sedang maintenance untuk proses integrasi data. “Harap untuk bersabar, karena memang infonya sedang dalam proses integrasi. Mungkin 2 hari kedepan sudah bisa digunakan kembali,” ujar Nasih.

Ia melanjutkan, Unair akan membuka jalur Bidikmisi untuk semua program studi kecuali program studi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).

“Semua prodi bisa jalur Bidikmisi, kecuali Fakultas Kedokteran Gigi, karena jujur saja meskipun katakanlah biaya SPP bisa ditutupi dengan beasiswa, tapi kebutuhan luar administrasi itu banyak dan mahal-mahal. Jadi kami memutuskan untuk lebih baik tidak ada Bidikmisi di FKG,” tambahnya.

Diketahui bahwa kebutuhan menunjang akademik di FKG tidaklah murah. Seperti harga lampu operasi gigi yang bisa mencapai Rp 10 juta, alat pembersih plak gigi sekitar Rp 1,7 juta.

“Kebutuhan penunjang akademik FKG memang jika dikalkulasikan jadi lebih mahal daripada Fakultas Kedokteran. Karena semua alat harus dibeli secara mandiri, tidak bisa pinjam atau patungan. Itu yang buat mahal,” terangnya.

Namun demikian, ada kabar baik tahun ini bagi peminat FKG Unair. Karena kuota penerimaan mahasiswa baru ada tambahan dari yang sebelumnya 165 menjadi 180 mahasiswa baru. Dari jumlah itu, 55 diantaranya diambil dari jalur SNMPTN.

“Pertanyaan-pertanyaan kami bisa banyak dijawab oleh Pak Rektor, juga masalah Bidikmisi. Kami awalnya ndak tahu malahan. Dengan begini kami bisa mengarahkan siswa siswi dengan lebih baik,” ujar Yuli Sofianti, Guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 2 Lamongan. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar