Pendidikan & Kesehatan

Berat Hanya 5,5 Kg, Tubuh Bocah 4 Tahun Ini Tak Bisa Digerakkan

Mojokerto (beritajatim.com) – Tubuh Ahmad Fajar warga Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto terlihat hanya tulang dan kulit serta tak bisa digerakkan. Bocah 4 tahun ini, hanya memiliki berat badan 5,5 kg.

Sejak sang ibu, Yunita, meninggal pada 2016, ia dirawat nenek dan kakeknya, yakni Asmiatun (49) dan Jumbadi (54). Ibunda Fajar yang berprofesi sebagai sinden mengalami infeksi paru-paru dan meninggal di RS Dr Soetomo, Surabaya setelah dirawat 15 hari.

“Kata dokter, Fajar keracunan air ketuban saat masih di rahim ibunya sehingga berat badannya turun. Dia lahir di RS Dr Soetomo karena ketuban pecah dan warna keruh. Lahirnya normal, tangan dan kakinya masih bisa ditekuk tapi saat lahir tidak menangis dan tidak bernapas,” katanya.

Masih kata Asmiatun, saat lahir Fajar tak menangis serta tak bernapas selama 5 menit. Kemudian para dokter memberikan pertolongan hingga Fajar bisa bernapas. Meski bisa bernapas, Fajar tak juga menangis hingga 19 hari. Setelah bisa menangis, Fajar diizinkan pulang.

“Berat badannya normal tapi lehernya tak bisa digerakkan karena efek dari keracunan air ketuban. Ibunya rutin kontrol dan berobat ke Dr Soetomo selama satu tahun, kata dokter syaraf, Fajar terganggu karena keracunan air ketuban. Setelah itu ibunya meninggal dunia,” terangnya.

Selepas kepergian sang ibu, berat badan Fajar kian menurun dan gangguan syaraf yang diderita Fajar sudah merembet ke tangan serta kaki. Sehingga tangan dan kakinya tak bisa digerakkan. Karena terkendala ekonomi, iapun pasrah dan hanya bisa berdoa.

“Penghasilan suami saya hanya Rp400 ribu per minggu karena hanya pemulung dan petani. Selain Fajar, saya juga merawat kakaknya Galih. Galih usianya 12 tahun tapi sejak kecil tidak bisa bicara sehingga sekolah di SLB. Kaki saya juga sering sakit sehingga saya rawat sendiri,” tuturnya.

Fajar setiap hari makan bubur dan susu. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto belum pernah menengok kondisi Fajar. Hanya salah satu bidan desa saja yang menengok kondisi Fajar dan membawa roti biscuit balita.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kabupaten Mojokerto, Susy Dwi Harini mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan terkait hal tersebut. “Mekanisme pelaporan secara bottom up. Jadi, masyarakat melaporkan ke puskesmas, lalu puskesmas baru ke Dinkes Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan dari Puskesmas Kemlagi terkait kondisi Fajar. Namun pihaknya berjanji akan melakukan pengecekan kondisi bocah tersebut. Pihaknya menduga Fajar mengalami gizi buruk sehingga berat badannya tak seperti bocah normal.

“Saya akan turun ke lapangan untuk mengecek kondisinya. Bicara gizi buruk ada dua penyebab, yakni langsung dan tak langsung. Faktor tidak langsung karena kemiskinan dan pendidikan orang tua. Faktor tidak langsung ini mempunyai andil 70 persen menyebabkan gizi buruk,” pungkasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar