Pendidikan & Kesehatan

Balai Bahasa Jawa Timur Bangkitkan Kembali Sandur Manduro

Jombang (beritajatim.com) – Balai Bahasa Jawa Timur mengadakan revitalisasi Sandur Manduro di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Acara digelar selama tiga hari, mulai tanggal 26–28 Februari 2019. Revitalisasi diikuti oleh generasi muda Jombang, mulai dari mahasiswa, pelajar, dan pemuda setempat.

Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Drs. Mustakim, M.Hum., menjelaskan bahwa revitalisasi Sandur Manduro adalah usaha untuk mengenalkan dan membangkitan kembali salah satu seni tradisi lisan, sekaligus merupakan upaya konservasi pada kesusastraan tradisi yang hampir tergerus zaman. Hal itu sesuai dengan kebijakan Balai Bahasa untuk melakukan upaya perlindungan terhadap warisan kebahasaan dan kesastraan yang terancam keberadaannya.

“Sandur terdiri atas berbagai unsur. Salah satunya adalah bahasa dan sastra. Oleh karena itu, seni tradisi tersebut direvitalisasi dan diperkenalkan secara lebih dekat kepada generasi muda, agar pewarisan nilai-nilai luhur lewat sastra, seni dan budaya, terfasilitasi dengan baik,” tutur Mustakim.

Kenyataan itu dibenarkan Warito, seniman Sandur Manduro. Menurut dia, meskipun pada 2017, Sandur Manduro ditetapkan sebagai warisan tak benda oleh pemerintah, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut dan hampir tidak ada generasi muda yang bersedia mempelajarinya.

“Belum ada anak muda yang mau belajar. Selain itu, seni sandur sudah kalah sama elekton, sehingga jarang yang nanggap,” tutur Warito.

Sandur Manduro merupakan seni tradisi khas, yang hanya dapat ditemui di Desa Manduro. Memang, ada beberapa sandur di Jawa Timur, tetapi Sandur Manduro berbeda dengan Sandur Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan lainnya. Sandur Manduro merupakan titik temu antara berbagai unsur tradisi, mulai dari tembang, lakon, tari, topeng dan musik. Ada sembilan lakon dalam Sandur Manduro berdasar jenis topengnya. Adapun dramaturginya lebih dekat dengan Sandur Bangkalan daripada sandur di Jawa. Dimungkinkan karena masyarakat Desa Manduro berasal dari Madura dan sudah menetap di sana sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, bahasa keseharian warga Manduro adalah bahasa Madura. Tentu, sangat disayangkan bila Sandur Manduro sampai hilang tertelan laju zaman, bahkan punah.

Oleh karena itu, menurut ketua panitia, Nayla Nilofar, dilakukan upaya revitalisasi dengan sasaran generasi muda di Jombang. Diharapkan, mereka mampu mereaktualisasikan Sandur Manduro sesuai kondisi kekinian. Selain itu, mereka pun mampu menjaring inspirasi dari seni sandur sebagai warisan leluhur.

“Dalam tradisi lisan kita tidak hanya berisi tontonan, tapi juga tuntunan. Kami berharap generasi milenial di Jombang dapat belajar banyak hal dari Sandur Manduro, baik sebagai tontonan maupun tuntunan,” terang Nayla.

Sementara itu, narasumber utama dalam kegiatan itu adalah Warito dan kru Sandur Manduro, yang dibantu oleh budayawan, akademisi dan peneliti sastra. Diantaranya Mustakim, Imam Ghozali, Anton Wahyudi, dan Mashuri. Sebelum dan selama proses latihan, para peserta mendapatkan materi berupa wawasan seputar sandur, mulai dari urgensi revitalisasi Sandur Manduro, sejarah Sandur Manduro, sandur untuk generasi milenial, dan perbedaan seni sandur-sandur di Jawa Timur, serta pola-pola revitalisasinya untuk dunia pendidikan.

Pada saat latihan, para peserta yang terdiri atas siswa SMAN Kabuh, siswa SMKN Kabuh, mahasiswa STKIP PGRI Jombang dan pemuda Manduro itu sangat antusias. Acara revitalisasi dipungkasi dengan pentas sandur dari para peserta yang berkolaborasi dengan seniman Sandur Manduro. Diharapkan, pengalaman latihan dan pentas tersebut memunculkan kecintaan peserta pada Sandur Manduro.

“Saya berharap krisis generasi penerus sandur dapat diatasi. Tentu harus ditopang dengan langkah-langkah lanjutan, terutama terhadap peserta pelatihan ini,” terang Anton Wahyudi, dosen STKIP Jombang. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar