Pendidikan & Kesehatan

Aplikasi DSS, Bantu SMA/MA DT Jadi Pengembang Produk

Surabaya (beritajatim.com) – Program SMA/MA Double Track (DT) Dinas Pendidikan Jatim yang digagas bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), meluncurkan Program Doubletrack Support System (DSS) yang diresmikan langsung oleh Gubernur Khofifah Indar Parawangsa dan turut pula dihadiri oleh Rektor ITS, Prof Mohammad Azhari di JX Internasional Surabaya, (29/12/2019).

Doubletrack Support System (DSS) yakni sebuah aplikasi pendukung SMA/MA DT, sebagai sarana yang mendukung kegiatan ekstra kurikuler yang berbasis pada peningkatan keterampilan (skill) menekan angka pengangguran lulusan SMA dan menaikkan IPM Jawa Timur.

“Saat ini siswa yang sudah memiliki produk diajarkan bagaimana bisa melakukan jual beli tidak hanya secara offline tapi juga online. Apalagi ada 30 persen dari total sekolah yang sudah mulai menghasilkan dan mengembangkan produk yang mereka hasilkan,” ujar Prof Azhari

Fajar Baskoro, tim IT Program SMA/MA DT menerangkan bahwa DSS adalah aplikasi yang mempermudah managemen dan akses data untuk sekolan dan siswa.

“DSS merupakan platform aplikasi yang memfasilitasi siswa melakukan kegiatan ekstra kurikuler berupa pelatihan dan pengembangan skill secara terprogram, terkontrol dan dimanage secara elektronika dengan menggunakan DSS ini siswa akan terpantau kegiatannya, diamati bakat dan kemampuannya, dan diakhir kegiatan untuk mendapatkan sertifikat dan portofolio yang menyatakan level kemampuan siswa,” terang Fajar.

Menjadi pelaksana teknis dari program Pemprov Jatim ini, ITS dalam DSS setidaknya memberikan 5 fitur aplikasi didalamnya, yakni: admindt.net, ruangtraining.net, ruangujian.net, ruangkarir.net, ruangdagang.net.

Menurut Fajar, secara ringkas kelima aplikasi tersebut menjadi pendukung dalam pelaksanaan SMA/MA DT yang terdiri dari tiga tahap yakni 1. Sekolah menjadi pusat pelatihan, 2. Sekolah menjadi pusat pengembangan produk, 3. Terciptanya ekosistem pasar produk dari sekolah dan para siswa, dalam artian sekolah atau siswa tidak hanya mampu menciptakan produk tetapi juga mampu mengerti skema transaksi pasar dan memasarkannya secara mandiri sehingga tidak hanya aspek akademis saja yang didapat tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomis.

“DSS dibuat memang untuk memudahkan proses 3 tahapan SMA/MA DT. Harapannya semua sekolah DT mampu menjadi sekolah tahap 3 itu. Tentunya penilaian berhasil dilihat dari keberlangsungan siswa pasca pendidikan atau lulusan. Mereka mampu bekerja atau membuka lapangan kerja atau tidak,” terang Fajar.

Saat ini dari 157 sekolah DT yang telah mencapai tahap 3 masih berkisar 10 persen. Hal tersebut dikarenakan program ini masih berjalan 2 tahun dengan sistem 1 tahap satu tahun. Artinya dalam 2 tahun ini memang masih bisa menyelesaikan 2 tahapan pertama.

“Ya karena tahun lalu hanya fokus di tahap pertama, tahap sekolah menjadi pusat pelatihan, sedangkan tahun ini fokus pada pembuatan produk yang khas atau tahap 2. Hitungannya begitu. Kalau ada sekolah yang baru join SMA/MA DT pada tahun ini maka mereka masih di tahap 1. Kalau sudah ada yang berkembang ke tahap 3 tentunya itu sekolah yang niat dan sangat mapan dalam menjalankan program ini,” terang Fajar.

Fajar pun menjelaskan dalam kurun waktu 2 tahun ini, juga ada sekolah SMA/MA DT yang nol progres alias belum terlaksana, yakni sekitar 2 persen dari total 157 sekolah. Biasanya itu terjadi di sekolah di pulau terluar, yang disinyalir tidak dapat berkembang karena beberapa topik keterampilan tidak berjalan dengan baik.

“Biasanya karena mungkin tidak ada trainer, atau fasilitas disana tidak ada. Meskipun tidak ada progres tapi tidak semata mata gagal, kami terus lakukan evaluasi dan memberikan bantuan semaksimal mungkin,” ungkap Fajar.

“Dengan menggunakan pola pelatihan, pengelolaan big data bakat dan ketrampilan siswa, maka siswa yang telah mengikuti kegiatan pelatihan dapat bekerja ataupun berwirausaha. Semua dilakukan secara traceable, baik kemampuan teknis maupun kemampuan digitalnya,” katanya menjelaskan.

Jika ada yang masih belum menemukan solusi bekerja atau wirausaha, lanjut Fajar Baskoro, siswa yang telah lulus dapat mengupdate kemampuannya melalui upskilling dengan ruangtraining atau mengikuti pelatihan yang baru (reskilling).

“Melalui cara ini dan melalui Program Double Track, menganggur setelah sekolah bukan pilihan tepat. Program DT adalah bagaimana membekali siswa dengan keterampilan melalui mekanisme kegiatan ekstra kurikuler agar siap kerja atau berwirausaha,” katanya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar