Pendidikan & Kesehatan

Halal Center ITS Turut Andil Tegaskan Syariat Islam

Surabaya (beritajatim.com) – Kemajuan teknologi semakin memungkinkan manusia mengembangkan dan mencampurkan berbagai bahan yang nantinya dapat diubah menjadi produk yang bernilai jual. Namun sayangnya, di sekitar kita masih banyak produk-produk yang belum memenuhi syariat Islam atau bisa dibilang masih belum memenuhi klasifikasi halal dikonsumsi atau dipakai oleh umat.

Halal di masa lalu mungkin hanya akan berkutat pada makanan dan minuman. Namun seiring berjalannya waktu, produk berbentuk barang pun juga memerlukan label halal di produknya karena para produsen barang mulai mencampurkan bahan dari hewan yang haram dikonsumsi dan mengandung najis seperti babi untuk membuat produknya lebih menarik atau lebih awet dipakai.

Lembaga halal di Indonesia pun menjadi penting untuk terus digalakkan. Karena hingga saat ini hanya terdapat 40 lembaga halal di seluruh Indonesia. Dengan cakupan wilayah Indonesia yang luas, Indonesia seharusnya telah memiliki setidaknya 500 lembaga halal.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pusat Kajian Halal atau Halal Center Institut Teknologi Sepuluh November ( ITS) hadir guna megedukasi masyarakat muslim tentang perlunya masyarakat mengetahui produk makanan, minuman, dan barang apa saja yang dapat dikonsumsi dan dipakai oleh umat muslim. Bertempat di Gedung Research Center Lt.5  ITS, Halal Center ITS terus melakukan sosialisasi, penelitian, dan pelayanan masyarakat untuk memberikan rasa aman bagi umat muslim .

“Ada yang namanya barang gunaan, bisa pakaian, kemudian apa yang kita pakai, seperti keramik, yang sebetulnya hal ini ndak aneh, tapi karena orang-orang belum tahu, misalkan kemarin kita menemukan ada piring terbuat dari campuran tulang babi, di Indonesia ada, karena tulang babi kadang memberikan karakter yang berbeda seperti lebih ringan,lebih kuat, dan lebih cerah,” jelas kepala Pusat Kajian Halal ITS,Dr.rer.nat Fredy Kurniawan M.Si, Kamis (26/12/2018).

Selain barang gunaan, menurut Fredy, air pun dapat menjadi tidak halal. Hal ini karena dalam proses penyulingan airnya terkadang terdapat bahan campuran tulang babi dalam mesin penyulingannya.

“Kadang-kadang penyaringnya terbuat dari tulang, tulang itu dibakar kemudian dijadikan sebagai salah satu alat penyaring, dan akhirnya jadi najis semua, walaupun itu istilahnya najis tapi kalau masuk ke kita kan masuk kategori tidak halal,” urai Fredy.

Daging hewan ternak juga dapat menjadi tidak halal karena di dalam proses penyembelihannya masih belum memenuhi syariat islam, yakni dengan memotong tiga urat di leher harus putus sempurna agar tidak ada darah tersisa dari daging hewan ternak. Fredy mencatat 9 dari 10 proses penyembelihan masih belum memenuhi standar syariat islam.

Oleh karenanya dibutuhkan tukang jagal bersertifikasi untuk semakin meyakinkan umat muslim dalam mengkonsumsi daging ternak.

Meskipun baru berdiri tahun 2016, Halal Center ITS telah berkontribusi cukup banyak bagi umat muslim di Indonesia. Salah satunya adalah mencoba untuk menciptakan cangkang kapsul obat yang sebelumnya rata-rata berbahan gelatin dari babi menjadi berbahan dari umbi-umbian.

“Kita sudah mulai siapkan kapsul dari tanaman supaya halal, dari umbi-umbian, karena kalau dari umbi-umbian kan sudah jelas lebih aman darihewan,tinggal proses pembuatannya saja,” tegasnya.

Untuk semakin memudahkan umat muslim dalam mengetahui kandungan tidak halal dalam sebuah barang dan makanan, Halal Center ITS juga mulai menciptakan alat pendeteksi halal yang nantinya dapat digunakan setiap orang dengan  harga terjangkau.

“Sekarang ini harga perbijinya bisa misalkan300 ribu itu persensor berapa kali pakai, kita usahakan biar bisa dibawah 10 ribu untuk sekali pakai,” pungkasnya.

Selain berusaha untuk menjadi penemu alat pendeteksi halal, halal center ITS juga telah bergerak dalam bidang teknologi informasi untuk semakin menyadarkan masyarakat khususnya umat muslim di Indonesia agar semakin mengetahui pentingnya mengkonsumsi produk halal. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar