Olahraga

SIWO Banyuwangi: Siapa Lebih Peduli Olahraga?

Banyuwangi (beritajatim.com) – Buntut tidak ikutnya Banyuwangi dari gelaran empat tahunan Porprov Jawa Timur 2019, menuai beragam tanggapan. Keputusan absen itu disampaikan melalui kesepakatan bersama cabang olahraga bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi.

Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi memiliki pandangan lain. KONI dalam hal ini sebagai induk organisasi olahraga. Namun, induknya induk yang sebenarnya masih berada di payung pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah masing-masing.

Berbicara mengenai keseriusan dalam mengelola olahraga, secara spesifik KONI jauh lebih mendalam. Namun, langkah mereka pastinya tak pernah jauh dari asuhan pemerintah.

Sebut saja, mengenai pembinaan. KONI yang membawahi cabang olahraga (cabor) memberikan perhatian untuk anggotanya membina atlet. Sedang dana pembinaan untuk atlet berasal dari anggaran pemerintah.

Spesifik mengenai sikap KONI Banyuwangi dalam keikutsertaan Porprov, SIWO mengambil jalan tengah. Mengajak berfikir kedua belah pihak mencari solusi.

“Yang jelas ini harus disikapi bersama, baik Pemkab maupun insan olahraga. langkah tidak ikutnya KONI secara institusi tampak sebagai bentuk protes akibat pemotongan anggaran olahraga pada tahun ini,”

“Padahal jelas sekali tahun ini ada event Porprov yang pastinya membuat cabor butuh persiapan yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya dan hal ini tentunya juga berkaitan dengan anggaran,” kata Ketua SIWO Banyuwangi, Fredy Rizki Manunggal, Jumat (11/1/2019).

Pernyataan SIWO Banyuwangi memupus anggapan saling beradu kepentingan antar kedua belah pihak. Tak perlu bertanya siapa paling peduli dengan olahraga. Yang jelas, keduanya saling membutuhkan.

Menurut Fredy, boleh saja KONI beranggapan atau berpendapat hal itu menyangkut prestasi olahraga dan nama Banyuwangi. Tapi, lanjutnya, dari sisi pemerintah juga sah jika mereka berpendapat anggaran sedang defisit. Toh, mereka juga masih mengucurkan dana untuk support pembinaan atlet.

“Pantauan saya pribadi dari beberapa cabor sementara ini mereka tetap mempersiapkan atlet untuk Porprov meskipun dengan persiapan ala kadarnya. KONI sendiri juga mempersilahkan cabor memberangkatkan Atlet ke Porprov dengan anggaran sendiri,”

“Jadi saya melihat di sini sebenarnya Banyuwangi tidak 100 persen absen di Porprov, hanya saja Pemkab mungkin melalui Dispora saya rasa tetap perlu membuka komunikasi dengan KONI untuk mencari solusi dari masalah ini,” imbuh pria dua putri ini.

Berbicara prestasi, kata Fredy, jika menengok ke belakang catatan peringkat olahraga Banyuwangi tak begitu buruk di tingkat Jawa Timur. Tapi, jika mengaca konsistensi nampaknya tak hanya sayang namun juga ‘malu’ kalau sampai mantan tuan rumah justru menghilang dari radar.

“Karena kita tahu sendiri peringkat Banyuwangi cukup bagus di Porprov tahun 2015 jika dibandingkan dengan Situbondo, Jember, Bondowoso, Lumajang dan Probolinggo,”

“Akan sangat disayangkan jika Banyuwangi sampai tidak berpartisipasi secara maksimal di even empat tahunan ini. belum lagi para atlet juga sudah berlatih keras selama ini untuk bisa turun di Porprov,” katanya.

Beberapa masukan yang pernah tertampung dari sejumlah cabang olahraga. Mereka mendukung keputusan tidak ikut Porprov, tapi juga menyayangkan itu.

Ketua Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (Possi) Yusuf Wibisono misalnya. Pihaknya mengaku pelaksanaan Porprov tahun ini layaknya menelan pil pahit. “Kalau keadaanya seperti ini, mau gimana lagi. Saya pribadi menerima ide KONI seperti itu,” kata Yusuf.

Namun demikian, kata Yusuf, pihaknya akan tetap memboyong atletnya ke Porprov mendatang. Meskipun dengan keadaan anggaran yang pas-pasan.

“Selam akan berangkat dengan dana pembinaan yang diberikan. Kalau melihat kondisi seperti ini, kita akan berangkatkan atlet yang kira-kira potensi dapat saja. Ngapain bawa banyak, justru akan menghabiskan anggaran,” ujarnya.

Anggota lain juga menanggapi terkait minimnya dana hibah dari Pemerintah Banyuwangi. Menurutnya, ploting anggaran tahun ini telah disesuaikan dengan rencana kegiatan tahun 2019. “Jadi, jika menggunakan anggaran pembinaan untuk Porprov, nantinya juga mengurangi kegiatan cabor 2019. Otomatis prestasi juga akan berkurang dan berpengaruh untuk kegiatan di tahun berikutnya,” katanya.

Tak dapat dipungkiri, berkurangnya dana hibah cukup berpengaruh dengan kondisi setiap cabor. Terlebih, tahun ini bertepatan dengan ajang empat tahunan Porprov. Padahal, setiap cabor telah membuat rencana kegiatan dan pembinaan bagi atlet untuk turun di gelaran itu.

Lalu bagaimana nasib para atlet yang selama ini berlatih keras? Haruskah semangat dan prestasi mereka menjadi korban?. [rin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar