Olahraga

Manager Madura FC: Protes yang Baik itu Bukan Teriak-teriak

Manajer Madura FC, Januar Herwanto

Sumenep (beritajatim.com) – Manager Madura FC, Januar Herwanto mengaku kerap mendapat pertanyaan, mengapa pihaknya tidak melakukan protes di lapangan saat terjadi gol offside dalam pertandingan versus PSS Sleman.

“Kami bukan tidak protes terhadap kejadian itu. Tetapi, kami memang memilih untuk protes sesuai regulasi. Bukan dengan teriak-teriak dan marah di lapangan,” kata Januar, Selasa (8/1/2019).

Ia memaparkan, protes yang dilakukan managemen Madura FC adalah dengan mengisi form keberatan resmi yang disediakan, kemudian diserahkan ke pengawas pertandingan.

“Jadi protes kami itu sejalan dengan aturan. Karena kami ingin menjadi tim sepak bola yang bermartabat. Menang atau kalah dengan terhormat,” tandasnya.

Manajer Madura FC, Januar Herwanto sempat mengejutkan publik dengan pengakuan adanya ‘match fixing’ atau pengaturan skor di laga Madura FC kontra PSS Sleman di Putaran I Liga 2 Indonesia 2018.

Januar membeberkan, salah satu anggota exco PSSI, Hidayat, menghubunginya melalui telepon, meminta agar Madura FC mengalah dari PSS Sleman saat bertanding di Sleman. Nantinya saat PSS Sleman bertandang ke kandang Madura FC, PSS Sleman pun akan mengalah.

Menurut Januar, Hidayat menawarkan uang Rp 100 – 150 juta, apabila bersedia bekerja sama (dalam pengaturan skor: red). Namun tawaran itu ditolak Januar. Buntut pengakuan ‘blak-blakan’ itu, Hidayat memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Dalam perkembangan berikutnya, komdis PSSI memutus bersalah Hidayat, dan menjatuhkan hukuman dilarang berkecimpung di dunia sepakbola selama tiga tahun dan denda Rp 150 juta.

“Kami mengajukan protes bukan karena kami tidak lolos 8 besar. Sama sekali bukan. Karena protes kami layangkan, jauh sebelum babak 8 besar. Kebetulan saja ramainya saat mulai masuk 8 besar,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pengaduan Madura FC fokus pada PSS Sleman, karena sepanjang musim 2018, beberapa kali laga bertemu PSS Sleman selalu menuai masalah.

“Karena itulah, materi pengaduan kami memang kejanggalan-kejanggalan saat laga melawan Sleman. Sekali lagi, protes ini bukan karena Madura FC tidak lolos 8 besar. Tetapi lebih pada keinginan untuk memperbaiki dunia sepak bola kita,” tuturnya. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar