Olahraga, Sorotan

Liga 1 Pekan 22

Kekalahan Memberikan Pelajaran, Hasil Seri Menghadirkan Misteri

Laga Persebaya 24 September 2019 lalu. (Foto: Wahyu Jimbot/BJ)

Hasil seri tak ubahnya takdir bagi tim Persebaya di dua level kompetisi. Namun satu hasil seri berujung pada kegembiraan dan hati berseri-seri. Sementara hasil seri lainnya bikin nyeri.

Hasil seri yang bikin berseri-seri adalah pertandingan final kompetisi Elite Pro Academy U20 di Stadion I Wayan Dipta, Bali, Sabtu (12/10/2019). Setelah tertinggal 2-3 dari Barito Putera dan bermain dengan 10 orang, Persebaya U20 berhasil memaksakan hasil seri 3-3 yang membuka ruang waktu ekstra dan adu tendangan penalti. Anak-anak asuhan Uston Nawasi itu akhirnya mengangkat trofi juara setelah mencetak tiga gol tanpa balas dalam adu penalti.

Sementara hasil seri yang bikin nyeri hati 9.027 orang Bonek di Gelora Bung Tomo, tentu saja adalah yang disuguhkan Persebaya saat menjamu Borneo FC dalam pertandingan Liga 1 pekan 22, Jumat (11/10/2019). Ruben Sanadi kembali menghadirkan hasil imbang 0-0.

Hasil seri adalah misteri Persebaya musim ini dalam Liga 1. Sebelas kali mereka bermain di kandang, delapan kali mereka mengakhirinya dengan hasil imbang. Pertandingan Persebaya melawan Borneo sama sekali jauh dari kata indah. Jika sepak bola seharusnya bak poetry in motion (puisi yang bergerak) yang menghadirkan keindahan, pertandingan melawan Borneo adalah naskah prosa yang buruk.

Saya kira, banyak orang sudah kehabisan kata melihat performa Persebaya di Liga 1. Pertandingan melawan Borneo adalah salah satu yang terburuk di kandang. Mereka memang mencatatkan 60 persen penguasaan bola. Namun Statoskop-Jawa Pos mencatat akurasi operan hanya 78 persen. Padahal saat melawan tim yang lebih tangguh, Persebaya bisa mencatatkan persentase operan yang lebih bagus, seperti 84 persen saat melawan Madura United, 89 persen saat melawan PS Tira, dan 85 persen saat melawan Persija.

Sebenarnya, secara umum, Persebaya selalu bisa menguasai pertandingan saat bermain di GBT, termasuk saat melawan Borneo. Lini tengah Persebaya yang diisi Misbakus Solikin, Aryn Williams, Muhammad Hidayat, dan Oktafianus Fernando menguasai lini tengah. Mereka berhasil membuat jarak antara antar lini Borneo terlalu jauh. Borneo memang bisa nyaman memainkan operan bola dari kaki ke kaki di lini belakang. Namun, mereka kesulitan mengalirkan ke tengah dan alhasil lebih banyak memainkan umpan-umpan panjang langsung ke jantung pertahanan Persebaya yang dengan mudah bisa diintersep.

Lini belakang Persebaya memang sukses mengisolasi Renan Silva agar tak mendekati kotak penalti dan memiliki ruang tembak cukup. Namun di sisi lain, lini depan Persebaya yang mengandalkan David da Silva dan Irfan Jaya juga tak berkutik menghadapi pertahanan berlapis Borneo. Hingga menit 26, Persebaya sama sekali belum melepaskan tembakan sama sekali ke gawang Gianluca Pandeynuwu. Sementara Borneo sudah membuat dua tembakan tepat sasaran dan dua tembakan tak akurat ke gawang Miswar Saputra.

Serangan Persebaya tidak efektif. Mereka memainkan direct football yang menjadikan Da Silva sebagai target. Namun bola-bola direct memiliki konsekuensi pada rendahnya akurasi operan. Selain salah oper, bola bisa diintersep pemain-pemain Borneo. Statoskop mencatat Borneo melakukan 21 kali intersep dan 30 sapuan. Ini lebih tinggi daripada rata-rata intersep dan sapuan bola pemain Borneo setiap pertandingan (19,3 kali intersep dan 20,65 sapuan). Dengan kata lain, arah permainan Persebaya bisa dibaca oleh Borneo.

Problem Persebaya lainnya adalah saat mendekati sepertiga lapangan lawan. Operan-operan tiktak tak berjalan baik. Tak terlihat ‘chemistry’ antar pemain. Pemain-pemain Persebaya juga seperti kehilangan daya kreasi dengan hanya mengandalkan serangan lebih banyak dari sisi kanan melalui Abu Rizal Maulana dan Oktafianus Fernando. Sementara Ruben Sanadi di sisi kiri tak seagresif biasanya. Misbakus Solikin gagal menjadi kreator serangan. Saat Da Silva dijaga ketat, pemain Persebaya kebingungan.

Tembakan tak tepat sasaran pertama Persebaya baru lahir pada menit 42 melalui tendangan bebas Ruben Sanadi yang dihadiahkan wasit setelah Misbakus Solikin dilanggar. Praktis hingga babak pertama selesai, Persebaya sama sekali tak mengantongi catatan shot on target, sementara Borneo mencatatkan dua kali tembakan tepat sasaran. Dengan penguasaan bola 60 persen, babak pertama menunjukkan betapa rapuhnya lini depan Persebaya.

Sebagaimana shot off target pertama, shot on target pertama lahir bukan dari skema permainan terbuka, melainkan skema bola mati. Menit 46, Irfan Jaya mengirimkan bola dari sepak sudut sisi kiri pertahanan Borneo. Bola melambung ditanduk Misbakus dan jatuh di kepala Dutra. Namun bola tandukan pemain kelahiran Brasil ini bisa ditepis oleh Gianluca.

Penampilan Gianluca memang mencengangkan. Ia jarang dimainkan di bawah mistar, karena Mario Gomez lebih suka mempercayakan benteng terakhir pada Nadeo Argawinata. Namun hari itu Nadeo absen karena memenuhi panggilan tim nasional. Tak ada pilihan lain, Gianluca yang baru berusia 21 tahun itu diturunkan.

Pelatih kiper Persebaya M. Hadi sudah berharap Gianluca demam panggung. “Mudah-mudahan dia grogi,” katanya sebagaimana dikutip Jawa Pos.

Namun, Gianluca menunjukkan bahwa mentalitas tidak ada urusan dengan usia dan jam terbang. Ia beberapa kali melakukan penyelamatan yang layak mendapat aplaus. Ia pandai membaca arah bola dan memiliki gerakan refleks bagus. Menit 52, antisipasinya yang bagus menggagalkan peluang terbaik Persebaya melalui Misbakus. Mereka sudah berduel satu lawan satu. Pagliuca maju menutup ruang ke arah gawang, sehingga tendangan Misbakus pun melenceng.

Menit 63, giliran tendangan bebas pemain Persebaya asal Australia, Aryn Williams, yang dibloknya. Penyelamatan dahsyat lainnya adalah saat mementahkan tembakan keras Irfan Jaya dalam kotak penalti pada menit 89. Pagliuca selalu tahu harus berdiri di mana saat situasi gawat mengancam gawangnya.

Wolfgang Pikal merasa anak-anak asuhnya sudah bermain dengan benar. “Babak kedua, saya rasa kita main sangat kuat. Betul-betul kita kasih penonton bagaimana Persebaya mau main,” katanya.

Pikal melihat koordinasi sayap dengan ujung tombak masih kurang dan perlu dibenahi. “Tapi saya bangga dengan pemain,” katanya.

Manajer Liverpool Bill Shankly pernah mengatakan, kita belajar dari kekalahan jika gagal meraih kemenangan. Namun dari hasil seri berkali-kali, pelajaran apa yang bisa dipetik oleh Persebaya musim ini selain sebuah misteri? “Filosofi saya betul-betul wani, berani attack, terus bombardir gawang lawan,” kata Pikal. Namun permainan berani tak cukup menghasilkan tiga angka jika gagal membongkar gawang lawan. Ini misteri yang harus dibongkar Pikal. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar