Olahraga

Jadwal ‘Gila’ Akibatkan Pemain Madura United Terkapar

Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah pemain Madura United FC akhirnya terkapar akibat dampak ‘jadwal gila’ yang harus mereka lalui dalam dua ajang berbeda, yakni pada kompetisi resmi Liga 1 2019 dan turnamen Piala Indonesia 2018.

Pertama tim berjuluk Laskar Sape Kerrab harus memulai laga tunda melawan Persebaya Surabaya, pada babak perempat final Piala Indonesia 2018. Di sela-sela laga leg pertama dan kedua pertemuan kedua tim, Madura United harus kembali bertandang ke markas Persib Bandung di Liga 1. Itupun harus mereka lalui dalam dua pekan, yakni tiga pertandingan berbeda.

Termasuk tiga laga berbeda dan beruntun melawan satu tim yang sama di ajang berbeda, yakni melawan PSM Makassar di ajang Piala Indonesia dan Liga 1 sejak 30 Juni 2019, 4 dan 7 Juli 2019. Berikutnya tiga laga beruntun di Liga 1, dua di antaranya laga tandang melawan PS TIRA Persikabo, Jumat (12/7/2019). Serta Persipura di Jayapura, Selasa (16/7/2019). Satu laga lainnya menjamu Arema FC, Sabtu (20/7/2019) mendatang.

Selain laga tersebut, tim binaan Dejan Antonic juga harus menjalani dua laga tunda berbeda di Stadion Gelora Madura Rato Pamelingan Pamekasan di Liga 1. Masing-masing menjamu Perseru Badak Lampung, Sabtu (27/7/2019). Serta menjamu PSS Sleman, Rabu (31/7/2019) mendatang.

Dari rentetan jadwal padat tersebut membuat sejumlah pemain Madura United menjadi ‘korban’, terbaru Muhammad Ridho Djazulie yang harus bed rest di Jakarta akibat serangan typus. Sebelumnya tercatat nama Andik Vermansyah dan Greg Nwokolo yang lebih dulu menepi dan tidak masuk dalam rombongan away (tandang) ke Papua.

“Satu bulan 9 pertandingan dengan jarak tempuh udara dan darat yang berbeda-beda, di negara manapun jumlah pertandingan sangat padat hingga 9 pertandingan dalam satu bulan tidak ada,” kata Manajer Madura United FC, Haruna Sumitro, dikutip dari salah satu jejaring media sosial (medsos) resmi klub, Minggu (14/7/2019).

Tidak hanya itu, pihaknya juga membandingkan padanya jadwal di kompetisi sepak bola tanah air justru mengalahkan jadwal padat di event internasional, seperti Piala Dunia. “Piala dunia saja dari babak penyisihan hingga final yang dilaksakan dalam satu bulan, tim juara hanya jalani sebanyak 7 pertandingan,” tegasnya.

Dari itu pihaknya berharap agar pada laga-laga selanjutnya bisa berjalan normal, dengan catatan regulator sepak bola Indonesia harus memikirkan ulang dampak yang akan dirasakan semua pemain di masing-masing klub. “Semoga tidak ada lagi korban akibat jadwal jahat dan gila ini,” pungkasnya. [pin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar