Olahraga

Formula E Bukan Acara Mahal, Dampak Ekonominya Lebih Besar

Balapan Formula E/Foto: Bola.com

Jakarta (beritajatim.com) – Urgensi penyelenggaran Formula E Jakarta 6 Juni 2020 harus dilihat dari perspektif yang lebih luas. Even ini adalah investasi jangka panjang menyangkut Perpres 59/2019 mengenai percepatan mobil listrik, untuk meningkatkan pemakaian mobil listrik dan pengurangan emisi utuk mendukung program global sebagai keniscayaan sebagai global citizen.

Hal ini dikemukakan oleh Dwi Wahyu Daryoto, Chairman Organizing Committee Jakarta E-Prix dalam talkshow “Menghitung Formula Sosial-Ekonomi Formula E” di MAJ Senayan bersama host Ichan Loelembah, Sabtu (15/2/2020).

Hadir sebagai narasumber, Sadikin Aksa, Ketua IMI (Ikatan Motor Indonesia) Pusat, Arief Kurniawan wartawan senior dan komentator lomba otomotif, dan Irawan Sucahyono, pengamat otomotif.

Menurut Dwi, perhelatan ini menjadi sarana untuk mengampanyekan penggunaan energi baru dan terbarukan (new and renewable energy) untuk transportasi. “Even ini sekaligus mendukung Program Langit Biru yang dicanangan Pemprov DKI,” tambah Dwi.

Dikatakan, lomba Formula E ini juga sangat besar dampaknya terhadap turisme internasional karena ribuan penonton internasional akan datang ke Jakarta. Selain itu, lomba tersebut akan disiarkan oleh Fox Sport ke 140 negara, dan karenanya eksposur media akan sangat besar. “Dampak promosinya sangat besar untuk Jakarta dan Indonesia,” kata Dwi yang juga Dirut Jakarta Propertindo.

Ajang Formula E adalah lomba balap mobil formula yang khusus memakai mobil listrik. Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah ke-enam lomba yang memasuki sesi ke-6. Beberapa kota internasional sudah menjadi tuan rumah ajang ini.

Pemprov DKI sangat berkomitmen mengurangi polusi dengan memberikan insentif bagi mobil listrik. Keringanan pajak diberikan oleh Gubernur Anies Baswedan sehingga harga mobil listrik bisa jauh lebih murah.

Trans Jakarta juga akan melaunching 25 unit bus listrik saat even Formula E. Di masa depan semua armada Trans Jakarta akan memaai listrik.

Ditanya mengenai biaya penyelenggaraan yang terasa mahal, Dwi Wahyu mengatakan harus dilihat dampak ekonominya. Ada dampak ekonomi langsung dan tidak langsung bagi pelaku ekonomi, serta ada tiket dan sponsorship. “Hitungan spending direct impact money Rp 600 miliar. Kru FEO (badan penyelenggara Formula E) jumlahnya sekitar 2000 orang, mereka tinggal seminggu, spending untuk akomodasi, transportasi, dan konsumsi, sudah berapa,” kata Dwi.

Selain itu, dampak tidak langsung ada multiplier effect dari uang yang berputar di masyarakat. Belum lagi dampak promosi dari liputan media.

Media coverage dan eksposur dari Fox Sport selaku pemegang hak siar sangat masif karena akan disiarkan langsung ke 140 negara live selam 45 menit. “Dunia akan tahu ternyata Indonesia aman dan kondusif untuk investasi. Waktu Pak Jokowi ke Korea kan mau menarik investor mobil listrik ke Indonesia, nah Formula E ini akan menjadi ajang promosi,” ungkap Dwi.

Soal biaya penyelenggaraan, dari PMD (penyertaan modal daerah) sebesar Rp 700 miliar, dua pertiga dipakai untuk hosting fee, dan bank guarantee yang tidak akan hangus. Sementara hosting fee itu akan dibelanjakan di Indonesia juga oleh kru FEO (Formula E Operation).

“Mereka akan spend disini untuk akomodasi dan konsumsi, belum lagi biaya pembangunan grandstand dan lain-lain,” kata Dwi.

Ditambahkan, Indonesia mendapatkan kontrak penyelenggaraan selama lima tahun. Ini investasi jangka panjang, ada dampak skala ekonomi, sehingga setiap tahun biaya turun dan profit meningkat.

“Ada pembangunan infrastruktur seperti safety barrier yang tidak hanya sekali pakai, bahkan bisa kita pakai lima tahun. Untuk overlay aspal bisa dikelontok kalau sudah selesai, tapi kalau bisa harus kita pertahankan karena bisa dipakai lagi tahun berikut”.

Alat-alat itu bisa dipergunakan untuk kerja sama dengan IMI (Ikatan Motor Indonesia) untuk even-evem yang lain.

Sadikin Aksa ketua umum IMI berterima kasih ke Gubernur DKI yang bisa membawa gelaran Formula E ke Indonesia. Ini merupakan even tertinggi yang pernah digelar di Indonesia.

Dalam tradisi FIA (Penyelenggara gelaran formula) setiap pelaksanaan even komposisinya adalah 30 persen even sport dan 70 persen even turisme. Gelaran FEO juga demikian, tapi masih ditambah even heritage atau pelestarian cagar budaya. “Monas akan menjadi ikon Indonesia yang dikenal dunia sejajar dengan ikon dunia yang lain,” kata Ikin, sapaan Sadikin.

Selain itu, dampak ekonominya besar. Ada sembilan manufaktur yang ikut Fomula E. Tahun ini season 6. Mulai season 4 sudah ada perkembangan teknologi baru sehingga dalam saru sesi balapan selama 45 memit tidak perlu ganti mobil. “Mungkin di Jakarta nanti akan ada generasi baru lagi,” duga Ikin.

“Ini balapan masa depan sampai lima step ahead. Ini persaingan gengsi para principal manufaktur mobil terkemuka,” tambah Ikin.

Mengapa tidak ada pebalap Indonesia? Menurutnya, lomba bersifat profesional bukan pembinaan, pasti 12 tim mau menang dan profesional. Tapi Indonesia punya penonton besar. Follower media sosial one of the big di dunia. Moto GP follower kita terbesar di dunia.

“Kita punya Rio Hariyanto dan Sean Gelael kelas platinum driver formula 2 dan 1, tapi apa dipilih oleh tim? Mungkin tahun depan, dengan potensi Indonesia yang besar hal itu bukan mustahil.”

Arief Kurniawan wartawan race senior mengatakan, ratusan peliput internasional akan hadir, apalagi Jakarta baru kali pertama menjadi tuan rumah. “Mereka akan curious sekali, minimal 300 media dan kamerawan fotografer akan hadir, mereka akan sangat curious,” kata mantan Pemred Bola ini.

Apa bisa seseru nonton F1, karena FI sangat berisik sedangkan Formula E nyaris tak terdengar? Arief menjawab, sangat seru. Ada tabrakan, unsur suspense,dan akan banyak susul-menyusul, karena kalau F1 sudah di pole position susah dikejar. Tapi di Formula E bisa dua atau tiga putaran terakhir baru tahu potensi pemenang,” kata pria berkumis tebal ini.

Menurutnya, formula 1 dan Formula E tidak bisa dibandingkan karena punya kekhasan masing-masing. Ada penggemarnya sendiri. Tapi kalau kita lihat 50 tahun kedepan. Ibukota baru Indonesia tidak boleh mobil nonlistrik, berarti balapan nanti hanya Formula E.

Ia menambahkan ajang Formula E ini seperti Three in One, selain balapan juga ada pelestarian cagar budaya dan turisme. “Hanya ada di Formula E disebutkan venue sebagai cagar budaya tapi di F1 tidak disebut cagar budayanya.”

Sementara Irawan Sucahyono, pengamat otomotif, mengatakan, IMI lahir 1906 sebelum Indonesia tapi lama kita tidak punya even internasional. Pecinta otomotif akan bangga karena ini even terbesar yang pernah digelar di indonesia,” kata arek Malang ini. [way/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar