Olahraga

Gagal di Porprov Jatim

DPRD Minta Pengurus KONI Kota Malang Dibubarkan

Malang(beritajatim.com) – Kota Malang dianggap gagal dalam ajang Porprov Jatim 2019 kemarin. Dalam ajang pesta olahraga bergengsi di Jawa Timur ini Kota Malang menempati urutan ke empat, dibawah Surabaya, Kediri, dan Sidoarjo.

Kontingan Kota Malang, meraih 40 medali emas, 49 medali perak dan 49 medali perunggu. Prestasi ini dikritik oleh DPRD Kota Malang. Mereka menyerukan kepengurusan KONI Kota Malang dirombak, karena gagal berprestasi di Porprov.

“Harus ada evaluasi besar-besaran di KONI. Anggarannya Rp12,5 miliar tapi prestasi dibawah Kediri dan Sidoarjo, tentu ada yang salah di tubuh KONI,” kata Ketua DPRD kota Malang, Bambang Heri Susanto, Kamis, (18/7/2019).

Bambang mengungkapkan, atas hasil minor ini dalam waktu dekat DPRD bakal memanggil langsung oleh KONI Kota Malang. DPRD bakal meminta pertanggungjawaban pengurus KONI karena gagal memenuhi ekspetasi minimal menjadi runner up di ajang Porprov.

“Akan kami panggil dan kami mintai penjelasan langsung. Karena segera harus dirapatkan dan dilakukan perombakan pengurus KONI,” ujar Bambang.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Malang, Dito Arief menyebut bahwa KONI perlu penyegaran ditubuh pengurus. Menurutnya, prestasi buruk Kota Malang dalam Porprov karena kepengurusan KONI Kota Malang diisi oleh angkatan tua. Dia menyebut pengurus KONI tak paham dari sisi pembinaan atlet.

“Dengan anggaran yang besar prestasi kok minim, perlu regenerasi di KONI. Karena sudah jadi persepsi umum bahwa di KONI banyak orang-orang tua kebanyakan pensiunan, banyak orang yang tidak paham olahraga, perlu di reformasi perlu di regenerasi,” papar Dito.

Dito mengatakan, dalam beberapa periode kebelakang prestasi olagraga Kota Malang cenderung mengalami penurunan. Menurutnya, penyebab penurunan ini karena pembinaan tak berjalan selain itu proses seleksi atlet juga tak transparan atau cenderung eklusif.

“Ada beberapa analisis salah satunya pengurus kurang peduli terhadap cabang olahraga. Proses penjaringan atlet juga tak transparan sangat eklusif. Prestasi akhirnya terus menurun, perlu ada regenerasi,” tandasnya. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar