Olahraga

Bonek Bangga Persebaya Tim Terbuka

Pemain Persebaya Surabaya sedang selebrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Persebaya Surabaya adalah sebuah tim yang terbuka dan memiliki keberagaman latar belakang pemain. Ini membuat Bonek bangga.

“Tanpa perlu kami berkampanye, Persebaya sudah membuktikan diri sebagai tim yang terbuka, sama seperti karakter masyarakat Surabaya sebagai masyarakat pesisir,” kata Tulus Budi, salah satu dedengkot Bonek Jogja.

Musim kompetisi ini, Persebaya tak hanya diperkuat pemain asli Surabaya. “Musim ini, dari Aceh sampai Papua ada,” kata Tulus. Darah Aceh direpresentasikan oleh Miswar Saputra dan Andri Muliadi. Wajah Papua ada pada Ruben Sanadi, Osvaldo Haay, dan Elisa Basna.

Khusus dengan Papua, menurut Tulus, sudah ada relasi sejak lama dengan Persebaya. Pemain Papua pertama yang tercatat bermain untuk Persebaya adalah Aser Mofu, pada 1972. Saat ini kapten Persebaya adalah Ruben Sanadi.

“Semua pemain yang berseragam Persebaya penting tanpa harus melihat darimana mereka berasal. Yang saya lihat hanya kontribusi mereka untuk tim,” kata Tulus.

“Tapi didapuknya Ruben Sanadi sebagai kapten pasti menandakan signifikansi dia, yang kebetulan berasal dari Papua, bagi tim,” kata Tulus.

“Tim Persebaya sangat menjunjung tinggi profesionalisme dan membuang jauh-jauh perasaan merasa lebih dari suku atau bangsa lain,” kata Husin, salah satu Bonek di tribun utara.

Kondisi terbukanya Persebaya dan kultur pesisir masyarakat Surabaya ikut berpengaruh terhadap cara pandang Bonek. “Bonek sudah dewasa, dan sudah jauh di depan untuk meninggalkan rasisme terhadap tim dan suporter lawan,” kata Husin.

Kedewasaan Bonek terlihat saat menerima suporter klub lawan di Stadion Gelora Bung Tomo. Hubungan dengan suporter Persipura Jayapura pun berjalan bagus dan harmonis. Tak ada celaan rasisme dari Bonek kepada mereka. “Papua bagian integral bangsa kita. Papua adalah saudara kita,” kata Husin.

Bahkan, menurut Tulus, mahasiswa Papua di Surabaya juga menyukai Persebaya selain Persipura. Saat pertandingan Perseru Badak Lampung melawan Persebaya disiarkan langsung televisi, ada mahasiswa Papua yang nonton bareng Bonek di Warung Kopi Pitulikur Surabaya.

Oleh karena itu Husin menyayangkan insiden rasisme di wisma mahasiswa Papua di Surabaya. Ia heran peristiwa itu bisa terjadi. “Selama ini Surabaya aman untuk para pendatang dan tidak ada pernah ada kejadian-kejadian yang diakibatkan rasialisme di Surabaya. Artinya Surabaya masyarakatnya sangat toleran dan pluralismenya tinggi,” kata Husin. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar