Senin, 10 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Ditinggal Pesawat, Madura United Rugi Rp 120 Juta

Senin, 03 Desember 2018 17:51:39 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Ditinggal Pesawat, Madura United Rugi Rp 120 Juta

Pamekasan (beritajatim.com) - Madura United FC mengalami kerugian hingga mencapai angka sebesar Rp 120 juta akibat gagal terbang pasca menjalani laga tandang pekan ke-33 Liga 1 ke markas Perseru Serui, Sabtu (1/12/2018) lalu.

Pada kesempatan tersebut, rombongan skuad berjuluk Laskar Sape Kerrab terdiri dari sebanyak 28 orang. Mereka dijadwalkan bertolak ke Bandara Juanda Surabaya, Minggu (2/12/2018) kemarin. Sayang hal tersebut gagal terealisasi karena ditinggal pesawat Sriwijaya Air di Bandara Frans Keisopo, dan memaksa rombongan harus menginap di Biak.

"Insiden terjadi karena pihak penerbangan Trigana Air yang menyangkut rombongan tim dari Serui menuju Biak, gagal menjalin komunikasi dengan maskapai Sriwijaya Air yang akan membawa rombongan menuju Ujung Pandang dan Surabaya. Sehingga kita kehilangan tiket penerbangan senilai Rp 103 juta dan harus menginap di Biak," kata Kepala Rombongan Winedy Purwito, Senin (3/12/2018).

Diakuinya, selama ini rombongan tim selalu berangkat ke bandara lebih awal dengan durasi waktu 2 jam sebelum tiba di Bandara. Pada perjalanan pasca tandang kemarin, rombongan pemain tiba di Bandaara Stevanus Rumbewas, sekitar pukul 06.30 WIT (Waktu Indonesia Timur) karena jadwal penerbangan Trigana Air dari Serui-Biak pukul 08.00 WIT.

Hujan dan kabut yang terjadi di Serui menjadikan penerbangan Trigana Air tertunda dan rombongan baru terbang dari Serui pukul 10.42 WIT dan tiba di Bandara Frans Keisepo Biak pukul 11.24 WIT. "Faktor cuaca membuat kami meminta pihak Trigana Air agar bisa mengkomunikasikan ke pihak Sriwijaya Air. Tentu dengan harapan bisa mengakomodir keterlambatan kami, karena penerbangan Sriwijaya Air berdasar jadwal adalah pukul 11.30 WIT," ungkapnya.

"Nyatanya yang terjadi, saat kami mendarat ke Biak, pesawat Sriwijaya Air masih berada di Biak dan masih menaikkan kargo dan penumpang. Karena pesawat Garuda waktu itu masih baru mau masuk landasan," sambung pria yang akrab disapa Winedy.

Dari itu, saat mendarat di Biak. Pihaknya segera langsung berlari cepat guna melakukan chek in ke konter Sriwijaya Air. "Sayangnya, saat sudah berada di konter Sriwijaya Air, mereka menyampaikan sudah close chek in dan menyampaikan bahwa pesawat sudah akan terbang," jelasnya.

"Sebenarnya kami sudah komunikasi dengan pihak Trigana Air dan Sriwijaya Air kenapa bisa terjadi kelalaian komunikasi. Sememtara dari pihak Sriwijaya Air menyampaikan tidak ada komunikasi dari Trigana Air dan pihak Trigana sendiri mengaku sudah berkomunikasi. Kejadian ini baru kami alami, karena sebelumnya kami pernah ditunggu karena adanya komunikasi dari pihak maskapai meski berbeda perusahaan," keluhnya.

Akibat insiden tersebut, pihaknya terpaksa harus menginap di Biak sekaligus memesan tiket baru dengan tujuan perjalanan serupa menuju Surabaya. "Insiden ini juga membuat kami harus menambah biaya hotel selama di Biak," kata Sekretaris PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) Umar Wachdin.

"Gagal terbang ke Surabaya harus kami lakukan dengan pemesanan tiket baru senilai Rp 103 juta, tiket sebelumnya dinyatakan hangus. Ditambah dengan biaya hotel selama di Biak, total mencapai sebesar Rp 120 juta," pungkasnya. [pin/but]

Komentar

?>