Selasa, 17 Juli 2018

Preview Kroasia vs Nigeria

Timnas Nigeria Membalik Narasi Sejarah Imperialisme

Sabtu, 16 Juni 2018 12:50:44 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Timnas Nigeria Membalik Narasi Sejarah Imperialisme
foto: getty images for fifa.com

Pertandingan perdana menghasilkan kekalahan bagi negara-negara underdog dalam sepak bola. Mesir kalah 0-1 dari Uruguay. Arab Saudi dibantai 0-5 oleh Rusia. Iran menang. Tapi kemenangan 1-0 ini diraih atas sesama negara pupuk bawang: Maroko. Jadi, demi keadilan bagi sepak bola: kita berharap Nigeria akan menjegal Kroasia, Minggu (17/6/2018) dini hari Waktu Indonesia Barat.

Piala Dunia tanpa kejutan bukanlah Piala Dunia. Kita sudah disuguhi pertandingan Portugal melawan Spanyol yang apik dan berkelas. Kini kita membutuhkan kejutan agar turnamen ini absah disebut Piala Dunia. Nigeria punya modal agar doa dan harapan kaum pinggiran di seluruh dunia (termasuk juga para pejudi) terkabul.

"The mind of man is capable of anything--because everything is in it, all the past as well as the future," kata Joseph Conrad dalam Heart of Darkness, novelnya yang bercerita tentang pemburu gading di Kongo, Afrika tengah.

Gernot Rohr punya kapasitas ide sebagaimana disebutkan Conrad untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Melatih sejak medio 2016, ia menatah kekuatan Nigeria. Dari 16 pertandingan resmi dan uji coba, Nigeria memetik delapan kali kemenangan, lima kekalahan, dan tiga hasil imbang. Dua kemenangan diperoleh dari lawan-lawan yang secara kualitas lebih unggul, yakni Polandia (1-0) dan Argentina (4-2).

Sejumlah kemenangan Nigeria tidak diperoleh dengan pakem formasi yang senantiasa sama. Dalam 16 pertandingan, Rohr menggunakan 4-4-2, 4-3-3, 4-2-3-1, 3-5-2, maupun 4-4-1-1. Kemenangan atas Polandia diperoleh dengan taktik 4-4-1-1. Sementara saat mengalahkan Argentina, Nigeria menggunakan formasi tiga bek dalam 3-5-2.

Fleksibilitas Rohr tak lepas dari materi yang dimiliki Nigeria. Ada 20 pemain yang bermain di klub liga Eropa, seperti Victor Moses (Chelsea) yang mencetak 11 gol dalam 33 pertandingan timnas dan Ahmed Musa (CSKA Moskow) yang mencetak 13 gol dalam 71 pertandingan. Kompetisi domestik Nigeria mungkin tidak cukup bermutu. Namun, negeri itu mendapatkan manfaat dari ekspor pemain ke Eropa.

Nigeria adalah pembalikan narasi sejarah imperialisme. Ratusan tahun silam Nigeria sebagaimana negara-negara Afrika lainnya ditaklukkan dan Eropa (orang-orang kulit putih) memekerjakan dan memperdagangkan ribuan orang lokal menjadi budak.

"The last four or five hundred years of European contact with Africa produced a body of literature that presented Africa in a very bad light and Africans in very lurid terms. The reason for this had to do with the need to justify the slave trade and slavery," kata Chinua Achebe, sastrawan Nigeria. 

Achebe menyebut orang-orang kulit putih sangat pandai, datang ke negeri itu dengan damai melalui agama. Orang-orang Nigeria terpesona, dan mengizinkan mereka tinggal. "Now he has won our brothers, and our clan can no longer act like one. He has put a knife on the things that held us together and we have fallen apart," katanya.

Kini melalui sepak bola, kaum terjajah merevisi narasi. Mereka tidak melawan dengan senjata, bukan dengan mengonversi agama. Tuhan memberkati negeri itu dengan bakat sepak bola, dan dengan itu mereka paksa orang-orang Eropa membayar jutaan poundsterling untuk menonton di atas lapangan hijau, mengalirkan duit-duit itu kembali ke Nigeria, dan merestorasi harga diri bangsa dengan mengalahkan satu demi satu negara Eropa melalui pertarungan sebelas lawan sebelas di Piala Dunia.

Korea Selatan dan Turki berhasil menembus empat besar Piala Dunia pada 2002, dan merusak dominasi negara-negara Eropa. Nigeria punya peluang yang sama tahun ini. Sebelumnya, prestasi tertinggi mereka adalah Babak 16 Besar pada 1994, 1998, dan 2014.

Tugas pertama adalah menyingkirkan Kroasia. Mereka belum pernah berhadapan dalam sejarah. Kroasia adalah negara baru, dan pernah membuat kejutan pada Piala Dunia 20 tahun silam dengan menumbangkan Jerman 3-0 di perempat final dan menjadi juara ketiga dengan mengalahkan Belanda 2-1. Ujung tombak mereka, Davor Suker, menjadi pencetak gol terbanyak di Prancis dengan enam gol.

Hal terpenting yang berhasil ditanamkan Rohr adalah mentalitas Jerman yang tak kenal menyerah. Saat berujicoba melawan Argentina di Stadion Krasnodar, Rusia, 14 November 2017, Nigeria sempat tertinggal 0-2 lebih dulu. Namun sederet anak muda seperti Kelechi Iheanacho (21), Alex Iwobi (22), Bryan Idowu (26), mencetak empat gol dan membuat pertandingan berujung kemenangan untuk Elang Afrika. Iheanacho hari itu mencetak satu gol melalui tendangan bebas dan dua assist. Iwobu mencetak dua gol. Masa depan Nigeria terlihat gemilang.

"Kami tidak peduli melawan siapa; kami akan memberikan yang terbaik. Kami akan mencoba segala daya upaya sekeras mungkin setiap pertandingan," kata Ahmed Musa percaya diri. [wir]

Tag : piala dunia

Komentar

?>