Selasa, 24 Oktober 2017

Bupati Faida: Sepak Bola di Jember Dipolitisasi

Kamis, 12 Oktober 2017 22:36:15 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bupati Faida: Sepak Bola di Jember Dipolitisasi

Jember (beritajatim.com) - Bupati Faida menyebut urusan sepak bola di Kabupaten Jember telah dipolitisasi. Namun ia berharap, Persid Jember bisa berhasil dan tetap berprestasi.

Hal ini dikemukakan Faida, saat memberikan sambutan dalam acara perjamuan tim Persid U17 yang telah menjadi juara kompetisi Liga Remaja Zona Jawa Timur, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Kamis (12/10/2017).

"Saya banyak menahan diri bersama wakil bupati, menahan diri, menahan perasaan yang berat urusan bola, karena bola di Jember menjadi komoditas politik yang tidak sehat. Saya dan wakil bupati komit, bola di Jember harus tumbuh. Persid sudah ada. Salah satu klub kebanggaan Jember. Oleh karenanya Jember harus berhasil dengan cara-cara yang baik dan benar," kata Faida.

Faida menyebut sepak bola di Jember dipolitisasi. "Soal (dana) hibah ribut. Tapi saya tidak merespons opini-opini miring terhadap bupati dan wakil bupati yang dihubungkan dengan bola. Saya menahan diri, karena bagi saya opini itu tidak ada habisnya kalau dibangun untuk kepentingan politik. Opini bukan dijawab dengan opini, tapi opini dijawab dengan kerja nyata," katanya.

"Kerja nyata seperti apa? Saya ingin sampaikan, bahwa pekerjaan rumah administratif Persid di masa lalu bukan berarti boleh menghambat prestasi anak-anak di masa kini. Kalau hibah bansos menjadi hambatan, bukan berarti anak-anak terhenti di sini. Tapi jangan pula sampai pencairan hibah bansos justru menjadi bumerang buat manajemen Persid, buat pelatihnya, buat anak-anak yang menerima. Jangan sampai ketika menerima, kelak di kemudian hari dipanggil kejaksaan, diperiksa-periksa sebagai saksi, bisa pindah status. Ini urusan bola, urusan olahraga. Kita perlu menjaganya dengan sebaik-baiknya," kata Faida.

"Kalau hibah ini tidak bisa berulang, apakah iya Persid akan berhenti di sini? Saya pastikan ini, karena aturan ini adalah aturan dari pusat, bukan aturan dari bupati dan wakil bupati. Hibah Persid tidak bisa berulang. Tapi prestasi harus terus berulang. Latihan terus, pelatihnya kerja terus, manajemennya gerak terus," kata Faida.

"Jadi jangan terjebak kepada opini, bahwa nasibnya Persid hanya tergantung kepada urusan hibah. Saya dan wakil bupati menahan diri untuk tidak bicara terlalu banyak urusan ini, karena sejatinya ada masalah-masalah yang kurang menguntungkan untuk Persid apabila dibuka dengan transparan di depan publik. Kami memilih yang bisa diselesaikan, diselesaikan. Yang bisa dituntaskan, dituntaskan," kata Faida.

"Ada pola evaluasi dari peristiwa-peristiwa yang lalu yang memakan korban yang tidak boleh terulang," kata Faida. [wir/but]

Komentar

?>