Selasa, 24 Oktober 2017

Unggah Status Provokasi Serang Bonek, Bocah SMA Ini Terciduk

Kamis, 12 Oktober 2017 16:16:20 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Unggah Status Provokasi Serang Bonek, Bocah SMA Ini Terciduk
Tersangka Ujaran Kebencian di Facebook Diciduk Polisi

Jember (beritajatim.com) - MYS adalah satu-satunya tersangka yang dibekuk polisi karena menyebarkan provokasi di Facebook untuk menyerang Bonek, yang menyaksikan pertandingan Semeru FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Jember Sport Garden, Kabipaten Jember, Jawa Timur, Rabu (4/10/2017) lalu.

Empat tersangka lain menyebarkan ujaran kebencian melalui WhatApp. MYS adalah warga Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Ia masih duduk di bangku kelas 10 salah satu madrasah tsanawiyah.

Dia mengunggah kalimat seruan provokatif, 4 Oktober 2017 pukul 15.30 di grup Facebook IWJ (Info Warga Jember) Pasukan Ramban (Rambi Bangsal). Isinya: 'Ayo anak-anak PSHT semangat basmi semua anak Bonek. Kalo perlu yang ada di JSG sekarang jangan diperbolehkan pulang ke Surabaya, basmi saja.'

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, motifnya adalah membenci Bonek untuk adu domba. Pukul 22.00, saat MYS bangun tidur dan membuka akun Facebook, komentar yang mengecamnya sudah bermunculan. Ia kemudian memutuskan segera keluar dari grup IWJ Pasukan Ramban (Rambi Bangsal) dan menghapus kiriman pesannya. Ia kemudian tidak aktif lagi di grup itu karena merasa ketakutan. MYS ditangkap pada Jumat, 6 Oktober 2017, pukul satu siang.

MYS dijerat dengan KUHP pasal 45 A ayat 2 junto pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informatika dan Transaksi Elektronik. Ancaman hukumannya enam tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Lima tersangka yang menyebarkan provokasi di media sosial untuk menyerang Bonek dibekuk. Empat tersangka di antaranya masih berstatus pelajar sekolah menengah atas, berinisial FP (18), MIG (16), Alf (16), dan MYS (16). Sementara satu orang lagi berinisial AR berusia 21 tahun.

Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Kusworo Wibowo mengatakan, mereka tidak ditahan. "Dalam pemeriksaan, kami didampingi orang tua. Proses hukum tetap berlangsung, tapi tidak kami tahan. Sementara untuk tersangka dewasa, masih kami pertimbangkan. Penahanan itu merupakan keputusan subjektif penyidik dengan pertimbangan apakah yang bersangkutan merusak barang bukti atau melarikan diri," katanya, Kamis (12/10/2017).

Kusworo menyerukan kepada warga Jember agar tidak melakukan penyebaran bohong dan ujaran kebencian. "Kami di Polres Jember melakukan upaya preventif melalui seminar-seminar. Selain upaya preventif atau pencegahan, kami melakukan upaya represif. Bagi yang sudah melakukan kami adakan penegakan hukum supaya memberikan efek jera bagi yang lain," katanya. [wir/ted]

Komentar

?>