Kamis, 22 Nopember 2018

Mengenal Sosok Kenny Dalglish (3)

Saksi Tragedi Ibrox 1971 dan Heysel 1985

Kamis, 19 Nopember 2015 04:03:52 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Saksi Tragedi Ibrox 1971 dan Heysel 1985
Tragedi Heysel (dailymail.co.uk)

Dalam sepak bola, seorang legenda tak selamanya hanya bercahaya dalam urusan bikin gol, memberi umpan matang, atau meliuk-liuk melewati tiga pemain belakang lawan. Kenny Dalglish besar karena kemampuannya melewati sejumlah tragedi pahit. Mungkin hanya dia pemain yang menjalani pertandingan-pertandingan maut yang berujung kematian puluhan penonton.

Lahir di Glasgow, sejak kecil Kenny sudah harus menghadapi kontradiksi dan konflik agama dengan memakai tameng sepak bola. Tempat lahirnya tak jauh dari Celtic's Parkhead milik klub sepak bola katolik Glasgow Celtic. Namun ia lebih lama tinggal di sebuah apartemen di Milton yang dekat dengan tempat latihan Glasgow Rangers, klub Protestan rival Celtic.

Tim favoritnya tentu saja Rangers. Namun Kenny muda kemudian memperkuat Glasgow Celtic pada periode 1967-1977 dan menjadi pahlawan di sana. Ia memainkan 322 pertandingan dan membantu klub berkostum hijau itu menjuarai Liga Skotlandia empat kali, Piala Skotlandia empat kali, dan Piala Liga sekali.

Kita tahu, hidup Glasgow tak ubahnya abad pertengahan Eropa dengan segregasi sektarian, termasuk di lapangan hijau. Saat berusia 19 tahun, Kenny menyaksikan bagaimana 66 orang fans Rangers tewas di Stadion Ibrox dalam laga derby Glasgow pada 1971. 

Mei 1985, 39 orang tewas di Stadion Heysel, Belgia, saat Liverpool menghadapi Juventus dalam final Piala Champions. Sebuah tragedi yang membuat Kenny sedih dan marah, terutama kepada Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher. Sang Wanita Besi mengeluarkan pernyataan agar klub-klub Inggris, terutama Liverpool, dilarang tampil dalam kompetisi Eropa.

Kenny bersimpati kepada para korban, namun tak bisa memahami mengapa Liverpool dan klub-klub sepak bola Inggris menjadi kambing hitam. "Thatcher probably got all the English clubs banned. If she'd kept her mouth shut, the rest of them might not have suffered," katanya dalam buku My Liverpool Home.

Menurut Kenny, Tragedi Heysel tak bisa dilepaskan dari insiden setahun sebelumnya, saat Liverpool menghadapi AS Roma dalam final Piala Champions di Stadion Olimpico Roma. Saat itu para suporter The Reds diserang suporter Roma. "Kenapa Roma tidak dihukum," keluhnya. [wir]

Tag : liverpool

Komentar

?>