Sabtu, 22 September 2018

Gaya Politik Gus Ipul di Mata Haryadi

Jum'at, 12 Januari 2018 19:05:19 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Gaya Politik Gus Ipul di Mata Haryadi

Surabaya (beritajatim.com) - Dinamika kontestasi pilgub Jatim 2018 diwarnai oleh hentakan-hentakan politik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Pula, tak pernah ada rujukan bandingan dengan pilgub di tempat lain atau pun pada waktu lain di Indonesia.

"Awalnya, Gus Ipul yang menjabat sebagai wagub dua periode mendampingi Pakde Karwo, terkesan kuat akan mendapat tongkat estafet berupa dukungan maju dalam kontestasi oleh Pakde Karwo. Setidaknya, hal ini konon pernah diutarakan Pakde secara langsung kepada Gus Ipul maupun kepada para kiai khos di Jatim," kata pengamat politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (12/1/2018).

Menurut dia, beberapa kali konon Pakde Karwo berupaya menarik Gus Ipul agar masuk ke dalam Partai Demokrat. Tapi selalu ditolak oleh Gus Ipul, karena merasa tetap nyaman sebagai representasi NU. Bahkan sejak awal bergandengan, posisi Gus Ipul adalah representasi NU.

Gus Ipul bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj menjadi inisiator yang berperan paling utama dalam meyakinkan pemerintahan Jokowi-Jusif Kalla untuk menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Serangkaian kegiatan seminar dan sekumpulan karya tulis dirancang oleh Gus Ipul hingga sampai pada kesimpulan bahwa hari lahir Pancasila adalah mengacu saat pertama kali istilah Pancasila dicetuskan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945.

"Proses inilah yang menyambung-batin kan kembali antara Gus Ipul dengan Bu Mega (Ketua Umum PDI Perjuangan). Tak banyak yang tahu bahwa Gus Ipul adalah anak angkat Bu Mega yang dititipkan secara khusus oleh Gus Dur. Lebih tak banyak lagi yang tahu bahwa Bu Mega lah yang membiayai pernikahan Gus Ipul dengan mbak Fatma. Jadi, hubungan Gus Ipul dengan Bu Mega sudah terangkai secara batin sejak 22 tahun lalu," jelasnya.

Gus Ipul pernah mendapat pengasuhan politik di PDI Perjuangan. Gus Ipul juga pernah keluar dari PDI Perjuangan untuk menemani Gus Dur kala itu. Tapi saat Gus Ipul keluar dari PDI Perjuangan dahulu dilakukan secara gentlement, yaitu lewat forum rapat internal partai.

"Ibarat pepatah, datang tampak muka dan pergi tampak punggung. Sikap Gus Ipul ini ternyata menjadi best-practice, dan selalu dikenang positif oleh PDI Perjuangan. Bukan hal aneh dan bukan hal rumit ketika akhirnya Gus Ipul mendapat semacam garansi bakal direkom PDI Perjuangan menjadi Calon Gubernur Jatim," tuturnya.

Bagi orang lain yang tak paham hubungan sejarah Gus Ipul dengan Bu Mega, lanjut dia, pasti awalnya tak percaya kalau Gus Ipul akan mampu dapat rekom sebagai Cagub Jatim dari PDI Perjuangan.

"Bahkan, Pakde Karwo pun tak pernah percaya kalau Gus Ipul akan bisa mendapat rekom dari PDI Perjuangan. Secara simultan, komunikasi dan hubungan dengan partai-partai di luar PDI Perjuangan pun dijalankan oleh Gus Ipul," paparnya.

Begitu juga dengan ormas-ormas keagamaan yang beragam, Gus Ipul dinilai juga bisa menjalin komunikasi. Yang paling utama kepada para kiai khos, kiai struktural dan kiai kultural, Gus Ipul amat rajin menyapa dan merengkuhnya.

"Pada level akar rumput, nyaris semua segmen publik dihampiri oleh Gus Ipul. Tak terkecuali arek-arek zaman now juga bertahap difalisitasi pengembangan pengorganisasiannya mengacu variasi hobi mereka. Adalah momentum pilgub DKI 2017 yang menginspirasi dukungan PKB pada Gus Ipul sebagai Calon Gubernur Jatim," katanya.

Gus Ipul terlibat memfasilitasi pertemuan antara PKB dengan PDI Perjuangan. Pembicaran tak semata perihal Pilgub DKI 2017, tapi juga Pilkada, khususnya pilgub Jatim 2018 dan 2019. "Komitmen politik tak tertulis antara PKB dan PDI Perjuangan untuk mengusung Gus Ipul di pilgub Jatim pun disepakati sejak itu," pungkasnya. [tok/suf]

Tag : gus ipul

Komentar

?>