Senin, 19 Nopember 2018

Bidadari tak Bersayap

Rabu, 02 Mei 2018
Penulis : Desi Kurnia Damayanti
Email :desidkd@yahoo.com

Begitu besar pengorbanan Ibu terhadapseoranganak, yang mengandung selama sembilan bulan lamanya. Menjaga anaknya dalam rahimnya dan selama sembilan bulan membawa kandungannnya.Hingga akhirnya aku bisa melihat indahnya dunia ini .Dengan bersusah payah Ibu mengeluarkan aku dari rahimnya. Berkeringat dingin hingga menahan rasa sakit yang takterhingga, tetapi ibu tidak pernah merasam enyesal telah mengandungku dan melahirkanku. Semua itu Ibu anggap sebagai nikmat dan karunia dari Tuhan.

SosokituialahIbuku. IbukubernamaSulis. Bagikuwanitaberdarah Jawa ini sepertibidadarinamun tidak bersayap.Setelah Ibu melahirkanaku, Ibu merawat dengan penuh kasih sayang, Walaupun sewaktu bayi aku hanya bisa menangis tetapi Ibu selalu sabar dalam menghadapi aku. Siap siaga untuk selalu menjaga dan mengawasi aku, mulai dari memastikan aku agar selalu baik-baik saja dan mengawasi setiap nutrisi yang masuk ke dalam tubuhku. Dengan sabarnya Ibu mengajari aku dari mulai hanya bisa tengkurap, merangkak hingga aku bisa berjalan. Semua itu Ibu lakukan hanya untuk aku.

Setelah aku dirawatnya hingga menjadi anak yang sudah bisa berbicara dan bisa membedakan yang baik dan yang mana yang buruk, Ibu tetap mencurahkan kasih sayangnya kepada aku dan selalu memberikan yang terbaik untuk aku. Walaupun aku pernah membuatnya kesal dengan perbuatan yang salah, namun Ibu tetap menyayangiku dan menasihati aku dengan kata-kata yang sedih hingga aku belajar dari kesalahan dan tidak ingin mengulanginya lagi.

Terlepas dari itu semua ibu sebagai orang tua selalu bekerja keras untuk mencari nafkah. Selain menjadi Ibu juga menjadi kepala keluarga karena Ayah terlebihdahulukembalikepangkuan Sang Ilahi. Ibu bekerja mulai dari bergabung di Partai PDIP, berkecimpung dalam bisnis makanan dan usaha dalam bidang property. Itusemua Ibu lakukanhanyauntuk sang buahhati yang di cintai.

Banyakceritaantaraaku dan ibu, berbagaimasalahmulaidarikecilhinggal besar dijalanibersama, sampaiAyahku di jemput sang ilahi Ibu yang menguatkanku Ibu yang mengajarikuuntukikhlas,menerima dan terusmendoakan Ayah. Aku yakinIbu jauhlebihsedihdariaku, Ibu jauhlebihberat di tinggalkan Ayah namun Ibu tidakmemperlihatkan rasa itukekepadaaku Ibu jauhlebihkuatdari aku. Walaupun dari raut wajah ibu terlihat berat namun tetap tersenyum.

Aku tau Ibu masihbutuhsosok pendamping, walau sebanarnyaakubelum bisa menerimasosok Ayah baru, tapi dengan melihat Ibu akumencobamenerima. Aku yakin dengancaraku yang menerimasosok Ayah baru bisa meringankan beban Ibu dan sosokitu bisa menjaga Ibu, aku dan keduaadiku

Aku yakin pengorbananmu tidak bisa dibalas dengan apapun, tidak ternilai berapa besarnya, maafkanaku Ibu yang hanya bisa berdoa agar ibu selalu diberikan kesehatan serta umur yang panjang agar bisa membahagiakan Ibu dan kelakberada di surga sebagaibalasanataspengorbanan dan perjuangan Ibu selama ini. [but]

Desi Kurnia Damayanti adalah mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Jurnalistik