Sabtu, 16 Desember 2017

Potensi Halal Xenograft di Indonesia

Jum'at, 01 September 2017
Penulis : Drh Fajar
Email :drh.fajar@gmail.com

Pada 10 tahun ini, dunia medis mengembangkan jaringan cangkok asal hewan (yang disebut dengan Xenograft) guna mencukupi kebutuhan jaringan cangkok untuk aplikasi bedah di manusia seperti jaringan cangkok kulit untuk luka bakar dan jaringan cangkok katup jantung untuk jantung bocor dan lain sebagainya.

Xenograft dikembangkan dikarenakan harga jaringan cangkok asal manusia sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat dan ketersediaanya juga yang sangat terbatas.

Menurut laporan di media massa, harga 1 buah ginjal dapat mencapai 2,4 milyar dan harga 1 buah hati yaitu 1,4 milyar. Adanya xenograft akan membuat ketersediaan jaringan cangkok akan melimpah dan harga jaringan cangkok akan lebih murah.

Namun negara-negara maju mengembangkan xenograft yang berasal dari babi.  Salah satu produk xenograft asal babi yang sudah dikomersialisasikan di negara-negara maju adalah kulit babi guna penanganan luka bakar.

Namun xenograft asal babi akan menjadi sulit dikembangkan di Indonesia dikarenakan mayoritas masyarakat Indonesia adalah babi merupakan hewan haram di Islam sehingga orang muslim yang tidak bisa memasukkan sesuatu hal yang berasal dari babi ke dalam tubuhnya.

Lalu bagaimana potensi hewan-hewan selain babi untuk dikembangkan sebagai sumber xenograft yang halal untuk kebutuhan masyarakat muslim?

Ternyata hewan lain seperti kuda, sapi, domba, kambing dikembangkan pula untuk sumber xenograft. Populasi domba dan kambing sangat melimpah di Indonesia, jumlah ternak di Indonesia pada tahun 2016 berdasarkan data Kementrian Pertanian adalah domba sebesar 18 juta ekor, Kambing sebesar 19 juta ekor, dan Sapi Potong 16 juta ekor. 

Di dalam Islam, Allah SWT memberikan petunjuk bahwa aplikasi xenograft kelak akan dikembangkan, melalui peristiwa Nabi Ismail a.s yang digantikan seekor domba saat menjelang disembelih oleh Nabi Ibrahim a.s selaku ayah dari Nabi Ismail a.s atas perintah Allah SWT.

Hal ini secara implisit, menunjukkan bahwa terdapat peluang dikembangkan jaringan cangkok asal hewan untuk manusia dan dunia medis sedang mengembangkan hal tersebut, dan Indonesia memiliki potensi dalam mengembangkan halal xenograft guna memenuhi kebutuhan jaringan cangkok untuk warga muslim yang ketersediaanya melimpah dan harga terjangkau oleh masyarakat.

Bioteknologi Rekayasa Jaringan
Jaringan hewan secara genetik sangat berbeda dengan jaringan manusia, hal ini akan memicu penolakan jaringan hewan pasca implantasi. Namun perkembangan bioteknologi berusaha mengatasi hal tersebut.

Bioteknologi tersebut adalah rekayasa jaringan (tissue engineering), yaitu memproses jaringan xenograft agar tidak menginduksi penolakan sistem imun bagi penerima donor jaringan (yaitu manusia).

Proses yang pertama yang harus dilakukan adalah proses penghilangan sel hewan (deselularisasi) pada jaringan xenograft agar menyisakan matriks ekstraseluler saja. Matriks ekstraseluler antar mamalia dalam hal ini antara domba atau kambing memiliki kemiripan susunan protein dengan matriks ektraseluler dari manusia.

Salah satu komponen matriks ekstraseluler yang umum dikenali adalah kolagen. Proses kedua  adalah penghilangan xenoantigen (zat asing di xenograft) melalui teknik antigen removal sehingga akan menurunkan respon penolakan sistem imun terhadap xenograft.

Proses ketiga adalah pemberian sel punca (stem cells) dari manusia melalui teknik reselularisasi untuk dimasukkan ke dalam pori-pori matriks ekstrasuler kemudian sel punca diinduksi agar berubah (deferensiasi) menjadi sel sesuai jenis jaringan, seperti otot jantung, sel tulang rawan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jaringan baru untuk manusia bersumber dari jaringan hewan seperti domba atau kambing diciptakan dari luar dan siap untuk diimplantasikan ke tubuh manusia. Rekayasa jaringan menjawab kebutuhan jaringan cangkok di tengah masyarakat yang susah diperoleh dengan harganya sangat tinggi dan tentunya halal melalui penghasilan jaringan buatan dari jaringan hewan selain babi seperti domba, kambing atau sapi yang melimpah di Indonesia (FSP).

Penulis :
drh. Fajar Shodiq Permata, M.Biotech
dosen Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya