Internasional

Hubungan Amerika-Iran, Masa Lalu dan Masa Kini (2)

Sebelum Dijatuhkan, Shah Iran Belanja Senjata USD 1 Miliar

Mahasiswa Iran di kantor Kedubes AS di Teheran Iran. [Foto: wikipedia/kompas.com]

Surabaya (beritajatim.com) – Revolusi Islam Iran tahun 1979 menjadi garis demarkasi politik paling tegas dan nyata hubungan Amerika Serikat dan Iran. Era sebelum revolusi Islam yang menghentak dunia itu memposisikan Iran sebagai sahabat kental Amerika di Timur Tengah. Setelah revolusi Islam, Iran justru menjadi musuh kebuyutan Amerika.

Baik Presiden Amerika dari Partai Republik maupun Partai Demokrat selalu memposisikan Iran sebagai lawan politik yang terus diwaspadai. Selain Iran, pada era 1980-an dan 1990-an, Saddam Husain yang berkuasa di Irak dan Hafidz Al Asad di Suriah, keduanya dari Partai Baath atau Sosialis Arab, dipandang duri dalam daging kawasan Timur Tengah oleh Washington.

Iran dan Irak, dua negara kunci di Timur Tengah selain Arab Saudi yang diperintah rezim Ibnu Saud. Ketiganya memiliki cadangan minyak terbukti terbesar kedua, ketiga, dan keempat di dunia. Arab Saudi memiliki cadangan minyak sebesar 266,26 miliar barel, Iran sebesar 155,6 miliar barel, dan Irak dengan 147,22 miliar barel.

Tahun 1979 di Iran berlangsung revolusi Islam di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini. Sebelum revolusi Islam meletus, Iran di bawah rezim Shah Iran kedua: Reza Pahlevi. Rezim ini sahabat nomor wahid Amerika di Timur Tengah. “Tak ada sebuah negara pun yang paling dekat dengan kami (Amerika) dalam urusan pertahanan militer bersama,” ujar Presiden Amerika, Jimmy Carter saat berkunjung ke Iran pada akhir Desember 1977. (Nasir Tamara, 2017).

Di era rezim Shah Iran, negara ini menjadi konsumen terbaik pembelian senjata dan mesin perang dari Amerika.
Misalnya, pada 1953 nilai belanja mesin perang Iran dari Amerika sebesar USD 67 juta, tahun 1970 sebesar USD 844 juta, dan antara tahun 1970 sampai 1977 sebesar USD 9.400 juta serta lebih dari USD 1 miliar pada 1978.

Postur angkatan perang Iran bukan dilahirkan dari proses perang kemerdekaan panjang dengan korban jiwa yang banyak. Sehingga tentara Iran tak bisa diidentikkan dengan tentara Vietnam, Indonesia, Aljazair, China, dan banyak negara lain yang menempatkan tentara sebagai kekuatan penting–selain rakyat–dalam perang panjang merebut dan mempertahankan kemerdekaan nasional. Tentara Iran tak memiliki pengalaman historis dan praktis sebagai tentara pembebasan nasional.

Postur, kultur, dan sifat yang terbentuk di kalangan tentara Iran di masa lalu adalah alat penguasa yang cenderung menindas kekuatan oposisi di dalam negeri. Nasir Tamara (2017) menulis, karena itu rakyat Iran tak pernah menyukai tentara negaranya. Ketika Sekutu menduduki Iran pada perang dunia II tahun 1944, pemimpin tentara Iran lebih banyak yang melarikan diri ke luar negeri daripada membela negara mereka dalam perang gerilya atau perang pembebasan nasional.

Kekuatan angkatan perang sebelum revolusi Islam 1979 sepenuhnya tergantung dukungan Amerika. Tak hanya pasokan mesin perang yang sebagian besar didatangkan dari negeri Paman Sam, sebelum revolusi Islam meletus tak kurang ada 60.000 penasihat militer asing–sebagian besar dari Amerika–mendampingi angkatan perang Iran yang kekuatannya mencapai 413.000 personel.

Di antara sekian banyak satuan militer dalam postur angkatan perang Iran, satuan polisi rahasia SAVAK memperoleh banyak sorotan di dalam dan luar negeri. Sorotan itu bukan karena kapasitas, kompetensi, dan reputasi kemiliterannya. SAVAK dikenal sebagai polisi rahasia (intelijen) yang kejam dan tak punya rasa ampun kepada kekuatan oposisi. SAVAK yang sesungguhnya organisasi sipil, tapi para pemimpinnya adalah militer. Teror dan kekerasan politik yang diiinginkan Shah Iran diimplementasikan SAVAK di lapangan. Cara kerja SAVAK mirip dengan organisasi Gestapo di zaman Jerman Nazi. (Nasir Tamara, 2017).

Hingga menjelang kejatuhannya pada 1979, Shah Iran Reza Pahlevi sangat mempercayai 4 petinggi militer yang tak diragukan loyalitas dan dedikasi kepada Shah.Mereka adalah Jenderal Husain Ferdust (Kepala Inspektorat Kerajaan), Jenderal Hasan Tofanian (Asisten Menteri Peperangan), Jenderal Mohammad Amir Khatami (pensiunan KSAU Iran), dan Jenderal Ne’matollah Nassiri (Kepala SAVAK 1965 sampai 1978).

Sebagai mitra strategis Amerika di Timur Tengah selain Arab Saudi dan Israel, Iran bukan sekadar jadi pasar multinasional Amerika yang bergerak di bisnis pembuatan dan perdagangan senjata. Iran sekaligus jadi penerima bantuan Amerika dengan nilai lumayan besar.

Pada 1953 setelah Perdana Menteri Moshadeq dijatuhkan, Presiden Amerika Dwight Eisenhower memberitahu Iran bahwa negara itu akan menerima bantuan dari Amerika sebesar USD 45 juta, sehingga total bantuan Amerika kepada Iran mencapai USD 85 juta. Angka bantuan tak kecil saat itu mengingat sebagian besar negara di kawasan Asia dan Afrika baru merdeka atau sedang berjuang melakukan pembebasan nasional.

Setelah revolusi Islam Iran 1979 yang dipimpin Imam Khomeini, bulan mesra Amerika-Iran hilang dan dikubur dalam-dalam. Khomeini menyebut Amerika sebagai Setan Besar. Hubungan diplomatik kedua negara terputus setelah Kedubes Amerika di Teheran diserang dan para stafnya disandera selama 444 hari yang menegangkan.

Penyanderaan dimulai pada 4 November 1979. Sebanyak 52 diplomat Amerika itu baru dibebaskan pada 1981 setelah Ronald Reagen (Partai Republik) terpilih sebagai Presiden Amerika menggantikan Jimmy Carter (Partai Demokrat). Yang melakukan penyanderaan adalah mahasiswa militan Iran, dengan tuntutan meminta pendeportasian Shah Pahlevi yang pergi berobat ke AS usai digulingkan gerakan revolusioner Iran. Mereka meminta AS minta maaf atas intervensinya di dalam politik dalam negeri Iran, termasuk penggulingan Mossadegh, dan menyerahkan aset Iran yang dibekukan di bank-bank AS.

Presiden Jimmy Carter tak mampu menyelesaikan krisis itu secara diplomatik dan akhirnya memutuskan menggelar operasi pembebasan sandera dengan sandi Operasi Cakar Elang (Operation Eagle Claw). Tapi, operasi militer ini gagal total. Drama penyanderaan diplomat Amerika di Teheran menandai titik balik relasi Amerika-Iran yang semula merupakan sahabat kental menjadi musuh bebuyutan. [air/habis]

Apa Reaksi Anda?

Komentar