Internasional

Saudara Perempuan Baghdadi Ditangkap, Apa Manfaatnya Bagi Intelijen

Pejabat Turki mengeluarkan foto perempuan yang ditangkap dalam operasi. [Foto: Reuters/BBC]

Saudara perempuan mantan pemimpin kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi ditangkap di Suriah bagian utara, kata sejumlah pejabat Turki. Rasmiya Awad (65), ditangkap dalam sebuah penggerebekan pada hari Senin (04/11/2019) di dekat kota Azaz, kata pejabat.

Sebagaimana dilansir BBC, pejabat Turki yang dikutip sejumlah media meyakini lewat penangkapan itu akan didapat data intelijen yang berguna terkait ISIS. Baghdadi membunuh dirinya dalam operasi yang dilakukan pasukan khusus AS terhadap kompleksnya di Suriah barat laut bulan lalu.

Meninggalnya Baghdadi dipandang sebagai kemenangan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tetapi para pengamat mengatakan ISIS tetap merupakan ancaman keamanan di Suriah dan tempat lainnya. Seorang pejabat Turki mengatakan kepada kantor berita Reuters penangkapan kakak perempuan Baghdadi dapat membantu menjelaskan “cara kerja di dalam” ISIS.

Belum dapat memverifikasi secara independen jati diri perempuan yang ditangkap. Baghdadi memiliki sejumlah saudara perempuan dan pria, meskipun tidak jelas apakah mereka masih hidup, kata surat kabar The New York Times.

Penangkapan dilaporkan dilalukan di Provinsi Aleppo yang sekarang dikuasai Turki. Awad ditemukan di sebuah karavan, di mana dia tinggal dengan suami, menantu perempuan dan lima anak, kata seorang pejabat Turki kepada AP, sambil menambahkan dia diinterogasi karena diduga terlibat kelompok ekstrem.

Para pejabat mengatakan Awad dapat menjadi “tambang emas” intelijen. Para pengamat mengatakan, kota di mana Awad ditangkap dikenal sebagai jalur penyelundupan keluarga ISIS. Tetapi belum jelas seberapa berguna intelijen yang dapat diberikan Awad, atau berapa lama dia hidup dengan Baghdadi.

Menurut Mina al-Lami, pengamat media jihadis BBC Monitoring, masih belum diketahui kegunaan intelijen dari saudara Baghdadi, mengingat dia tidak menerima informasi kelompok inti ISIS. Tetapi dia kemungkinan dapat memberikan informasi tentang jalur penyelundupan dan tempat persembunyian sejumlah anggota ISIS dan keluarganya, karena dia dan keluarganya berada di daerah yang tidak bersahabat terhadap ISIS, Azaz, di Suriah bagian utara.

Kerabat Baghdadi lainnya — ipar dan kurir pribadinya, Muhammad Ali Sajit — mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dirinya memberikan informasi kepada pihak berwenang terkait kemungkinan keberadaan Baghdadi di Idlib, di mana pimpinan ISIS tersebut akhirnya meninggal.

Informasi yang diberikannya juga kemungkinan digunakan untuk mengidentifikasi tokoh senior ISIS, terutama pemimpin baru ISIS, Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurashi.
Sampai sejauh ini, pendukung ISIS belum mengomentari penangkapan saudara perempuan Baghdadi.

Menurut rekan-rekannya, Baghdadi berusaha mengamankan diri di “wilayah kekuasaan ISIS” yang semakin kecil di Suriah bagian timur, lapor kantor berita AP. Selama berbulan-bulan, dia menjadikan seorang remaja Yazidi sebagai budak seks, membawanya bersama-sama saat melakukan perjalanan dengan kelompok inti sejumlah tujuh orang. Mereka pindah ke Dashisha, kota perbatasan Suriah yang dikuasai ISIS.

Remaja tersebut tinggal selama empat bulan di rumah mertua Baghdadi, di mana dia sering mengunjunginya dan memperkosanya, kata remaja itu kepada AP. Dia hanya bergerak pada malam hari, mengenakan pakaian olah raga dan menutupi wajahnya, serta selalu ditemani sekitar lima pengawal, katanya.

Pada periode itu, dia “benar-benar gelisah”, takut dikhianati dan disusupi, kata Mohamad Ali Sajit kepada TV al-Arabiya minggu lalu. Dia kadang-kadang memakai baju penggembala, berjalan-jalan dengan memakai ikat pinggang bunuh diri, bahkan tidur di sebelahnya dan membuat pembantunya juga memakainya; dia tidak pernah memakai telepon genggam, tetapi pembantu dekatnya memilikinya, kata Sajit.

Stres memperburuk penyakit diabetes Baghdadi, sehingga dia selalu berusaha memeriksa gula darah dan menyuntikkan insulin. Pada akhirnya dia sama sekali meninggalkan wilayah ISIS, memasuki Provinsi Idlib di barat laut, yang dikuasai Hayat Tahrir al-Sham, kelompok militan terkait al-Qaida dan pesaing ISIS.

Dia memilih daerah tersebut karena ini adalah wilayah terakhir di luar kekuasaan pemerintah Suriah, kata para pejabat AS. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar