Internasional

Perang Tanker Baru dan Peta Cadangan Minyak Dunia

Pada bulan Desember 1987, sebuah tanker terbakar di Selat Hormuz ketika perang Iran-Irak berkecamuk. [Getty Images/BBC]

KAPAL tanker yang terbakar di kawasan Teluk, kapal perang Amerika menjawab panggilan darurat, dan retorika perang yang menimbulkan ketakutan akan konflik yang besar.

“Perang tanker” adalah satu momen tegang internasional yang menegangkan pada saat-saat akhir perang antara Iran dan Irak. Iran baru saja menjalani Revolusi yang bersejarah, sementara Irak sedang dipimpin oleh Saddam Hussein.

Kedua pihak saling menyerang fasilitas minyak mereka, sejak pertengahan 1980 -an. Kapal-kapal netral kemudian diserang juga, ketika pihak yang bertikai mencoba memberi tekanan ekonomi kepada lawannya.

Tanker Kuwait yang membawa minyak Irak amat rentan untuk diserang ketika itu. Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan enggan untuk terlibat. Namun ketegangan kawasan Teluk mulai membahayakan. Ini ditandai ketika kapal perang Amerika USS Stark terkena hantaman rudal Exocet dari sebuah pesawat tempur Irak, sekalipun pejabat Irak menyatakan itu merupakan ketidaksengajaan.

Bulan Juli 1987, tanker Kuwait, memakai bendera Amerika, dikawal melalui kawasan Teluk oleh kapal perang Amerika. Pada masanya, ini merupakan konvoi kapal terbesar semenjak Perang Dunia Kedua. Pada masa itu, Amerika dan Iran sedang berhadap-hadapan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khomeini, menyebut Amerika “Setan Besar” sejak Revolusi Islam di negeri itu tahun 1979. Washington masih merasa kesal melihat 52 orang diplomat mereka disandera selama 444 hari di Teheran dari tahun 1979 hingga 1981.

Sekalipun Iran dan Irak bertanggung jawab terhadap krisis saat itu, perang tanker segera menjadi bagian dari pertengkaran jangka panjang antara Iran dan Amerika. Pertengkaran ini belum hilang dan muncul sekali lagi di tengah keputusan Donald Trump untuk menerapkan “tekanan maksimum” setelah meninggalkan kesepakatan nuklir dengan Iran yang dibuat tahun 2015.

Kini sekali lagi, perairan di kedua sisi dari Selat Hormuz menjadi arena persaingan kedua negara. Adakah yang berbeda dari konflik yang lama? “Kedua pihak telah mengembangkan kemampuan tempur mereka,” kata Dr. Martin Navias, penulis buku tentang perang tanker. Iran, katanya, kini lebih pandai memakai ranjau, kapal selam dan perahu berkecepatan tinggi untuk menyerang dan merusak kapal komersil dan militer.

Ini tidak hanya di laut. Kemampuan Iran untuk menembak jatuh pesawat nirawak Amerika memperlihatkan
kemampuan perang yang meningkat. Mungkinkah konflik menjadi lebih serius? Jika serangan terhadap kapal
tanker meningkat, kemungkinan kita bisa melihat lagi pengawalan dan penggunaan bendera Amerika untuk
tanker-tanker itu.

Pada 24 Juli 1987, tanker Kuwait menghantam ranjau Iran dalam sebuah misi iring-iringan. Amerika mengirimkan lebih banyak pasukan dan kapal. Kedua pihak siap untuk konflik terbuka. Bulan September tahun itu, helikopter Amerika menyerang kapal Iran sesudah melihat mereka memasang ranjau di malam hari.

Di bulan-bulan berikutnya, lebih banyak tanker dan kapal pengawal AS terkena ranjau. Pasukan Amerika merespon dengan mengirim lebih banyak kekuatan, menghancurkan pangkalan pasukan Iran – Pengawal Revolusi – dan menyerang kapal perang mereka.

Akhirnya krisis berakhir, tetapi dengan sebuah bencana ketika kapal penjelajah Amerika USS Vincennes,
menembak pesawat penumpang Airbus A300 Iran karena menyangka itu adalah pesawat tempur. Sebanyak 290 penumpang dan awaknya tewas.

Angkatan Laut AS kemudian mengembangkan teknologi dan pelatihan untuk menghindari kekeliruan mematikan
seperti itu. Namun analis angkatan laut pada International Institute for Strategic Studies, Nick Childs, mengatakan dalam keadaan sekarang, di mana pihak berlawanan menyerang lewat sosial media, atmosfirnya lebih riskan.

“Ruang informasi telah berubah,” katanya. “Orang lebih gelisah. Bahayanya ialah satu pihak bisa menyalahartikan pihak lain.”

Pemimpin kedua negara, Donald Trump dan Hassan Rouhani menyatakan tak ingin berperang. Sedangkan pihak garis keras di kedua pihak sikapnya tidak terlalu jelas.

Dr. Navias mengatakan kita belum mengarah pada perang tanker. “Kita tak sedang melilhat kampanye anti-kapal, kita sedang melihat kedua pihak sedang memberi tanda-tanda umum,” katanya. “Iran sekarang sedang memberi sinyal kepada Amerika, mereka bisa meningkatkan tekanan.”

Dengan segala drama di tahun 1987 dan 1988, hanya sedikit kapal tanker yang benar-benar tenggelam, dan pelayaran lewat Selat Hormuz tidak terganggu secara serius. Kini 30 tahun sesudahnya, AS tak terlalu tergantung pada minyak dari Timur Tengah. Iran lebih punya risiko dalam hal ekspor dan impor jika Selat Hormuz ditutup.

Dr. Navias berpendapat bahaya yang ada di sana cukup nyata. Iran memiliki nilai dan posisi strategis di Timur Tengah dan dunia. Negara yang menerapkan Islam sebagai ideologi politiknya ini, dalam perspektif ekonomi politik minyak, memiliki cadangan minyak yang terbukti terbesar ketiga di dunia di bawah Venezuela dan Arab Saudi.

Data yang ada menyebutkan, cadangan terbukti minyak Iran mencapai 155,6 miliar barel. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki cadangan minyak hanya sekitar 3,6 miliar barel.

Negara Venezuela yang sekarang sedang diterjang krisis politik dan ekonomi memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dengan volume 302,82 miliar barel, posisi kedua ditempati Arab Saudi dengan 266,26 miliar barel, ketiga Iran dengan 155,6 miliar barel, keempat dengan 147,22 miliar barel, kelima Kuwait dengan 101,5 miliar barel, keenam UEA dengan 97,8 miliar barel, ketujuh Libya dengan 48,36 miliar barel, kedelapan Nigeria dengan 37,45 miliar barel, kesembilan Qatar dengan 25,24 miliar barel, dan kesepuluh Algeria dengan 12,2 miliar barel.

Sebagian besar negara yang memiliki cadangan minyak yang terbukti berada di kawasan Timur Tengah, seperti Iran, Irak, dan Arab Saudi. Memang ada sejumlah negara lain yang dalam beberapa tahun terakhir sangat getol melakukan eksplorasi kandungan potensi minyak di negaranya, seperti Rusia dan negara di kawasan Asia Tengah bekas Uni Sovyet.

Namun demikian, cadangan minyak terbesar tetap berada di negara-negara di kawasan Timur Tengah, yang sejak ratusan tahun lalu seringkali diterjang konflik politik akibat perbedaan pemahaman aliran keagamaan (Sunni versus Syiah) maupun karena perebutan akses sumber daya ekonomi bersifat strategis seperti minyak.

Fakta lain yang penting dicatat dalam masalah ini adalah data tentang jumlah cadangan terbukti minyak
negara-negara anggota OPEC mencapai 1.214,21 miliar barel. Jumlah ini mencapai 81,89 persen dari total
cadangan minyak yang direkap dari berbagai negara per Desember 2017.

Sedang cadangan minyak bumi negara-negara non-OPEC jumlahnya adalah 268,56 miliar barel (18,11 persen). Karena itu, di masa depan kawasan kaya minyak di Timur Tengah, secara geopolitik, tak menutup kemungkinan masih diselimuti konflik antara yang terus bergerak mengeras dalam eskalasi tinggi, mengingat nilai strategis ekonomi dan politik kawasan tersebut bagi negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Rusia, China, dan lainnya. [BBC/air/berbagai sumber]

Apa Reaksi Anda?

Komentar