Internasional

Pemberontak Houthi Bebaskan 3 Warga Saudi dan Ratusan Tahanan

Houthis mendesak musuhnya untuk mengambil tindakan yang sama. [Foto: Reuters/BBC]

Pemberontak Houthi yang didukung Iran, secara sepihak telah membebaskan 290 tahanan di Yaman pada Senin (30/09/2019) sebagai bagian dari inisiatif perdamaian PBB, kata Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Sebagaimana dilansir BBC, orang-orang yang dibebaskan termasuk 42 orang korban selamat dari serangan udara terhadap sebuah penjara bulan ini yang menewaskan lebih dari 100 orang. Serangan dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintahan Yaman pada perang saudara negara itu.

Utusan khusus PBB untuk Yaman mengharapkan langkah yang diambil Houthi ini akan diikuti pembebasan lebih banyak lagi tahanan dari kedua belah pihak. Pertukaran tahanan adalah satu dari tiga elemen kesepakatan pihak-pihak yang berperang. Persetujuan tersebut dicapai pada pertemuan PBB di ibu kota Swedia, Stockholm pada bulan Desember 2018.

Pimpinan dewan masalah tahanan perang Houthi, Abdul Qader al-Murtada, Senin, mengatakan pemberontak akan membebaskan 300 tahanan, termasuk tiga warga Arab Saudi. “Inisiatif kami membuktikan ketegasan kami dalam menjalankan kesepakatan Swedia dan kami mendesak pihak yang lain untuk melakukan tindakan yang sama,” tambahnya.

ICRC kemudian menyatakan pihaknya dan PBB telah memfasilitasi pembebasan 290 tahanan. Badan tersebut memastikan jati diri tahanan dan memverifikasi keinginan mereka untuk langsung melakukan perjalanan dari Sanaa, kota yang dikuasai pemberontak, atau dibawa ke daerah yang dikuasai pemerintah.

“Pembebasan ini adalah sebuah langkah positif yang diharapkan akan menghidupkan tindakan pembebasan, pemindahan dan repatriasi tahanan konflik sesuai dengan persetujuan Stockholm,” kata ICRC.

Utusan khusus PBB, Martin Griffiths, juga menyambut baik inisitaif tersebut dan mendesak semua pihak untuk memastikan kembalinya para tahanan ke rumah mereka dalam keadaan aman. “Saya mengajak semua pihak untuk segera bertemu dan melanjutkan pembicaraan pertukaran selanjutnya sesuai dengan janji mereka di kesepakatan Stockholm,” katanya.

Pernyataan Houthi ini dikeluarkan satu hari setelah mereka menyatakan telah membunuh lebih dari 200 pejuang pendukung pemerintah dan menangkap 2.000 orang lainnya pada sebuah serangan besar-besaran di dekat perbatasan dengan provinsi Najran, Arab Saudi.

Rekaman video yang dikeluarkan pemberontak pada hari Minggu (29/09/2019) memperlihatkan puluhan tentara yang ditahan dan sejumlah senjata, di samping beberapa kendaraan militer yang telah hangus. Arab Saudi masih belum merespons pernyataan ini dan belum didapat verifikasi independen.

Yaman hancur karena konflik yang memburuk pada bulan Maret 2015, ketika pihak pemberontak menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu dan memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi untuk melarikan diri ke luar negeri.

Kekhawatiran atas peningkatan aksi kelompok yang diduga mendapatkan dukungan kekuatan Muslim Syiah di Iran itu, membuat Arab Saudi dan delapan negara Arab Muslim lainnya melakukan serangan udara dengan tujuan mengembalikan kekuasaan pemerintahan Hadi.

PBB menyatakan perang di Yaman telah menewaskan sedikitnya 7.000 warga sipil. Tetapi para pengamat memperkirakan jumlah korban meninggal jauh lebih besar.

Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata/Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED) yang berkantor di AS memperkirakan lebih dari 90 ribu warga sipil dan kombatan terbunuh.

Perang saudara ini juga memicu bencana kemanusiaan terburuk dunia, di mana ribuan warga sipil sekarat karena berbagai hal yang sebenarnya dapat dicegah, seperti malnutrisi, penyakit dan kesehatan yang buruk. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar