Internasional

Hubungan Amerika-Iran, Masa Lalu dan Masa Kini (1)

Kunjungan Diam-diam Jenderal Huyser

Rakyat Iran turun jalan dan mengusung gambar Imam Khomeini. [Foto: law-justice.com]

Surabaya (beritajatim.com) – Hanya 10 menit sebelum serangan dimulai, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump membatalkan keputusan menyerang instalasi vital Iran pada akhir Minggu ini. Sekiranya serangan militer direalisasikan, diperkirakan 150 jiwa warga sipil melayang.

Kebijakan itu ditempuh rezim Trump setelah drone, pesawat militer tanpa awak milik AS, ditembak jatuh misil angkatan perang Iran. Relasi Amerika-Iran makin memanas dan tak menutup kemungkinan melahirkan Perang Teluk baru.

Relasi Amerika-Iran memanas lebih 40 tahun dan tak pernah menemukan titik kondusif setelah terjadi pergantian rezim politik di Iran. Tahun 1979 terjadi revolusi Islam Iran dengan tokoh sentral Ayatollah Khomeini, seorang tokoh Islam Syiah yang lama keluar dari Iran lalu menetap di Irak dan selanjutnya memimpin oposisi rezim Shah Iran dari Perancis.

Revolusi Islam Iran 1979 menjadi krusial point yang menandai bangkitnya kaum Islam politik di banyak negara di dunia, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam. Revolusi Islam Iran menyadarkan banyak umat Islam tentang integralistik nilai-nilai ke-Islam-an dengan lapangan politik praktis ketatanegaraan.

Revolusi Islam Iran menjadi titik perlawanan terhadap paham sekulerisme politik di banyak negara berpenduduk Islam, setelah sekulerisme dipraktekkan di Turki di bawah pimpinan Mustofa Kamal Attartuk di awal abad 20.

Relasi Amerika-Iran di masa lalu, sebelum tahun 1979, berada di titik mesra. Titik persahabatan antara kedua negara yang menemukan banyak latar pemikiran yang sama. Amerika adalah sahabat kental dan dekat Iran ketika negeri para mullah ini dipimpin rezim Shah Iran. Semua menjadi putus, berantakan, dan bubar tak berbentuk ketika revolusi Islam pecah di Iran dan berujung terjadinya penyanderaan diplomat Amerika di kantor kedutaan Negeri Paman Sam di ibukota Teheran.

Tahun 1978 dan 1979 menjadi masa-masa berat bagi rezim Shah Iran, Reza Pahlevi. Resistensi politik oleh tokoh politik dan agama di negaranya terus mengeras. Imam Khomeini menjadi tokoh sentral perlawanan terhadap rezim Shah Iran yang dinilai telah menginjak-injak nilai-nilai budaya luhur bangsa Iran, membawa Iran ke arah kemerosotan perekonomian yang menyengsarakan rakyat, dan bobroknya birokrasi pemerintahan Iran.

Nasir Tamara (2017) dalam bukunya berjudul: Revolusi Iran, menulis bahwa di ujung tahun 1978, atas desakan berbagai pihak, Shah Iran terpaksa mencari seorang perdana menteri baru dan satu-satunya orang yang bersedia memangku jabatan itu adalah Syapur Bakhtiar. Tapi, Bakhtiar mengajukan syarat bahwa Shah Iran dan keluarganya harus terlebih dulu pergi keluar negeri dan bisa kembali lagi ke Iran ketika kondisi politik dan keamanan negara sudah tenang.

Berbagai penasihat Shah Iran menganjurkan hal yang sama, terkecuali para jenderal-jenderalnya, yang menyatakan: Baginda, seandainya Baginda pergi, negeri Iran akan hancur. Pada 7 Desember 1978, pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Jimmy Carter menyatakan mendukung Shah Iran di tengah kekacauan politik dan keamanan di Iran. Tapi, di akhir Desember 1978, Senator Iran Mohammad Ali Mas’udi bertemu dengan sekretaris pertama Kedubes Amerika di Teheran. Ali memperoleh informasi penting: Tak lama lagi akan ada rezim baru di Iran.

Keanehan itu makin kuat dengan kunjungan diam-diam Wakil Panglima NATO, Jenderal Huyser ke Iran pada awal Januari 1979. Huyser seorang petinggi NATO warga negara Amerika. Biasanya setiap petinggi militer Amerika dan NATO yang berkunjung ke Iran selalu menemui Shah Iran dan petinggi angkatan perang negara tersebut. Terlebih Iran adalah anggota CENTO, aliansi militer yang beranggotakan sejumlah negara di Timur Tengah.

Atas kunjungan diam-diam Jenderal Huyser tersebut, surat kabar Uni Sovyet lantas menurunkan laporan yang isinya, “Jenderal Huyser ada di Teheran untuk membuat sebuah kudeta militer di Iran.” Memang, pada akhirnya Jenderal Huyser dan Dubes Amerika untuk Iran, Sullivan, menemui Shah Iran. Tujuannya untuk menyampaikan satu pesan penting: Shah Iran harus pergi meninggalkan negerinya karena dinilai keselamatannya tak dapat dijamin di Iran. [air/bersambung]

Apa Reaksi Anda?

Komentar