Internasional

Konsep Medemer yang Mendorong Abiy Merebut Nobel Perdamaian

Komite Nobel memuji inisiatif perdamaian Perdana Menteri Abiy Ahmed. [Foto: AFP/BBC]

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri bulan April tahun lalu. Dia yang membuat kata Medemer menjadi populer di Ethiopia.

Istilah bahasa Amharic itu secara harfiah berarti “penambahan”, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi “bersatu”, mewakili apa yang Perdana Menteri Abiy Ahmed lakukan sebagai pendekatan khas Ethiopia dalam menangani tantangan yang dihadapi negaranya.

Kata itu semakin sering terdengar setelah bukunya dengan judul yang sama diluncurkan dalam sebuah acara mewah di Ethiopia pada bulan Oktober. Ratusan ribu eksemplar dicetak dalam dua bahasa yang paling populer – Amharic dan Afaan Oromoo.

Lewat 16 bab dan 280 halaman buku itu, sebagaimana dilansir BBC, ia menjelaskan pandangannya, yang dikatakannya telah ia kembangkan sejak masih kanak-kanak. Abiy ingin menciptakan rasa persatuan nasional di tengah-tengah perbedaan etnis, dan pada saat bersamaan juga ingin mendukung keberagaman. Kesuksesannya meniti cita-cita tersebut akan menandai masa kepemimpinannya.

Apa inti filosofi ‘medemer’? Inti dari filosofinya yaitu keyakinan bahwa pandangan yang berbeda dan bahkan bertentangan, dapat disatukan dan bahwa kompromi dapat dicapai. Pemikirannya itu juga merupakan sebuah penolakan terhadap dogma.

Sejak berkuasa, Abiy benar-benar meninggalkan cara negaranya diperintah selama 30 tahun terakhir. Ia meninggalkan sistem negara keamanan garis keras, untuk mendorong pendekatan yang lebih liberal dalam berpolitik.

Ia juga mengatakan bahwa usaha para pendahulunya dalam menerapkan pendekatan Marxist dan statis demi terciptanya pembangunan ekonomi telah gagal, karena pendekatan tersebut merupakan sesuatu yang asing bagi Ethiopia.

“Kita memerlukan falsafah Ethiopia yang berdaulat, yang berasal dari sifat dasar warga Ethiopia, yang dapat mengatasi masalah kita… dan dapat merangkul kita semua,” tulisnya di Medeemer. Dia mengatakan budaya Ethiopia memandang penting kebersamaan dan kerja sama.

Para pengecamnya mengatakan meskipun hal itu terdengar baik, tetapi pemikiran itu tidak menawarkan cara praktis untuk bergerak maju atau memberikan panduan tentang bagaimana kompromi dapat dicapai.

Pada bulan April, pengamat politk Hilina Berhanu mengatakan meskipun medeemer mudah dipahami dan “menjadi penawar rasa sakit” terhadap berbagai hal yang terjadi sebelumnya, hal itu tidak memiliki kompleksitas yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.

Mengapa Abiy memenangkan Nobel Perdamaian? Ketegasan inisiatifnya untuk mengatasi konflik perbatasan dengan negara tetangga Eritrea; Reformasi penting yang memberikan rakyatnya harapan akan kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah; Berjanji memperkuat demokrasi; Terlibat dalam sejumlah proses perdamaian dan rekonsiliasi kawasan. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar