Internasional

Hemeti: Wapres Interim Sudan Lulus SD Umur 16 Tahun dan Mantan Juragan Unta

Mohamed Hamdan Dagolo atau 'Hemeti' adalah wakil presiden Dewan Militer Peralihan Sudan (TMC). [Foto: Getty Images/BBC]

Sudan (beritajatim.com) – Dia berasal dari wilayah Sudan bagian barat, tempat politik, bisnis, dan perang sering kali berkaitan. Pria di puncak dunia politik Sudan ini adalah mantan pedagang unta, yang melihat perang sebagai cara untuk menjadi kaya dan berkuasa.

Di atas kertas, Mohamed Hamdan Dagolo yang dikenal dengan nama “Hemeti” adalah orang kedua di jajaran junta militer yang menguasai Sudan saat ini. Ia duduk sebagai wakil presiden Dewan Militer Peralihan Sudan.

Tetapi pada kenyataannya, Hemeti yang tidak lulus sekolah dan berasal dari luar elite militer Sudan, dipandang banyak orang sebagai penguasa Khartoum. Komandan perang Darfur ini memimpin puluhan ribu orang yang dibayar dan memiliki peralatan yang lebih baik dibandingkan pasukan militer resmi milik Sudan.

Dia juga memiliki banyak uang untuk mendanai milisi – dia memiliki konsesi untuk menambang emas di pegunungan kaya mineral dan dapat bergantung kepada sejumlah teman kuat di Arab Saudi dan sekutu di Teluk.

Sebagaimana dilansir BBC, kemunculannya menjadi penguasa dimulai pada tahun 2003, ketika suku kulit hitam Afrika yang kebanyakan petani melakukan penentangan fisik terhadap pemerintah di daerah barat, Darfur.

Militer kewalahan mengatasi taktik gerilya dan mulai merekrut milisi Arab yang dikenal dengan nama “Janjaweed” – campuran sejumlah kata yang terjemahan harfiahnya adalah ‘jin pembawa senjata di atas kuda’.

Saat itu, Hemeti adalah seorang pria ambisius di akhir umur 20-an tahun.Dilahirkan pada tahun 1975 di antara kelompok Mahamid Arab-Sudan penggembala unta, dia keluar dari SD pada umur 16 tahun untuk mengekspor unta dari Darfur ke Chad bagi pelanggan di Libia dan Mesir.

Pada permulaan konflik, Hemeti memberikan pengamanan kepada konvoi pedagang di Darfur sehingga dia menjadi kaya. Tidak lama kemudian pemimpin muda ini, membantu memobilisasi pejuang Janjaweed.

Seperti pria lain di daerah terpencil ini, Hemeti memandang perang sebagai “sarana untuk mendapatkan uang”, kata Alex de Waal, yang terlibat dalam perundingan perdamaian di tahun 2006 dan seorang penulis. Berbagai pemerintahan yang berkuasa di Sudan sejak tahun 1980-an bergantung kepada pasukan paramiliter untuk mengatasi pemberontakan.

Sebagai imbalannya para milisi dapat “menjarah, mencuri, menguasai wilayah dan menjadi berpengaruh karena menggunakan kekuatan fisik yang ‘dilegitimasi’, kata De Waal.

Saat melakukan teror terhadap warga sipil, ribuan desa diratakan dan perempuan diperkosa di depan umum. PBB memperkirakan lebih dari 300.000 orang meninggal dunia. Bahkan sekarang pun, sekitar 5,5 juta orang, termasuk 2,6 juta anak-anak, masih memerlukan bantuan kemanusiaan, kata UNICEF.

Tetapi bagi pemimpin kelompok paramiliter yang berperang untuk pemerintah Sudan, kekejaman mereka berguna. Pada tahun 2006, ribuan petempur Janjaweed secara resmi menjadi bagian pasukan keamanan, terutama Brigade Intelijen Perbatasan.

Tetapi milisi merasa tidak menerima bayaran yang cukup, sehingga sebagian dari mereka memberontak melawan Khartoum. Pada akhir tahun 2007, Hemeti membawa milisinya ke pegunungan dan baru kembali mendukung Khartoum setelah mendapatkan uang dan senjata.

“Kami hanya ingin mendapatkan perhatian pemerintah, mengatakan kepada mereka bahwa kami ada di sini, untuk mendapatkan hak kami: pangkat militer, posisi politik dan pembangunan di daerah kami,” kata Hemeti pada tahun 2009.

Para ahli menganggap Omar al-Bashir, orang kuat yang menjadi presiden Sudan selama 30 tahun, memperkuat milisi dan “menciptakan monster” yang tidak lagi dapat dikontrol pemerintah. Setelah perang, Bashir dihukum Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) Den Haag karena kejahatan yang dilakukan di Darfur.

Karena khawatir dikudeta, Bashir memperlemah militer dan memperkuat layanan intelijen dan milisi. Pada tahun 2013, pasukan Hemeti menjadi Pasukan Pendukung Cepat (RSF).

Dua tahun kemudian, Bashir mengirimkan pasukan ke Yaman untuk membantu Arab Saudi dalam perang di sana. Sebagian besar pasukan itu adalah petempur RSF.

Pada tahun 2016, mereka di bawah kendali langsung presiden. Usaha menempatkan mereka di bawah Kementerian Pertahanan mengalami kegagalan pada tahun selanjutnya.

Menurut Small Arms Survey (2016), RSF diperkirakan beranggotakan 10.000-20.000 orang, perkiraan lain adalah sekitar 50.000. Hemeti mengatakan, pihaknya memiliki 15 sampai 20 kamp pelatihan bagi tentaranya. Dia mengatakan dirinya didukung 67 pimpinan suku dan 50 mantan perwira pemberontak.

Salah satu pendukung utamanya adalah Taha Hussein, mantan pejabat kantor pribadi Bashir yang membentuk penempatan RSF di Arab Saudi dan merupakan penghubung antara Hemeti, Saudi, dan Emirat.

Hemeti juga menyediakan sekitar US$ 350 juta atau Rp 4,9 triliun untuk keuangan Sudan dan mengatakan dirinya mendapatkan dana ini lewat perannya di Yaman dan penambangan emas di Sudan.

Para diplomat Barat mengantre agar dapat berjabat tangan, bukan dengan presiden dewan militer, Abdel Fattah al-Burhan – tetapi dengan wakilnya, Hemeti.

Sampai sejauh ini Hemeti dan Dewan Militer Peralihan (TMC) tetap bersatu, menekan pengunjuk rasa prodemokrasi. Hemeti adalah pejabat tinggi pertama yang mendukung protes, tetapi kemudian berubah haluan dan mengatakan dirinya disusupi penipu dan pedagang narkoba.

Lebih dari 100 orang terbunuh ketika pasukannya menggerebek warga sipil dan melempar puluhan jenazah ke sungai Nil. Hemeti mengatakan milisi mendapatkan mandat rakyat untuk membentuk pemerintahan yang beranggotakan para teknokrat.

Dengan adanya sekutu regional yang kuat dan rendahnya tekanan pihak asing, dia berusaha menampilkan diri sebagai penyelamat Sudan. “Jika saya tidak menduduki posisi ini, negara ini akan musnah,” katanya dalam wawancara dengan harian The New York Times baru-baru ini. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar