Internasional

Gedung Putih Mulai Habis Kesabaran Hadapi Presiden Venezuela

Washington DC (beritajatim.com) – Gedung Putih mulai kehabisan kesabaran dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Amerika beberapa minggu lalu telah mengakui pemimpin kelompok oposisi Juan Guaido sebagai pemimpin sah negara itu dan mendesak Maduro untuk mengundurkan diri.

Pemerintah Trump memberlakukan sanksi-sanksi terhadap BUMN minyak PDVSA dan bahkan mengisyaratkan sedang mempertimbangkan opsi militer untuk menyelesaikan apa yang digambarkan sebagai bencana kemanusiaan akibat gagalnya kebijakan sosialis pemerintah Venezuela selama dua puluh tahun terakhir.

Rusia telah mengutuk sanksi-sanksi Amerika itu dan menuduh Washington ‘telah secara terbuka membuka jalan terjadinya perubahan rezim secara ilegal.’

Dugaan salah kelola dan merajalelanya korupsi yang dilakukan pemerintah sosialis Hugo Chavez dan kemudian dilanjutkan oleh Nicolas Maduro telah menjerumuskan Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, ke dalam kemiskinan dan kekacauan ekonomi.

Pakar politik di Atlantic Council, Jason Marczak, mengatakan, “Menyelesaikan krisis kemanusiaan merupakan hal fundamental bagi seluruh belahan bumi ini. Nicolas Maduro merupakan pusat masalah itu, misalnya saja terkait perdagangan ilegal di seluruh dunia: perdagangan narkoba ilegal, perdagangan emas ilegal, perdagangan senjata ilegal dan penyelundupan manusia.”

Badan PBB urusan pengungsi UNHCR mengatakan tiga juta warga Venezuela telah melarikan diri dari krisis di tanah air mereka dan kini tinggal di luar negeri. Banyak yang meninggalkan negara itu sejak tahun 2015. Eksodus ini dipicu oleh aksi kekerasan, hiper-inflasi yang mencapai 80.000 persen pada tahun 2018, dan kekurangan makanan serta obat-obatan.

Beberapa tahun terakhir ini Rusia telah mendukung Venezuela sebagai pemberi pinjaman ‘terakhir’ yang menopang perekonomian negara yang hampir hancur itu. Rusia menyebut sanksi-sanksi Amerika terhadap Venezuela sebagai tindakan ilegal dan mengingatkan untuk tidak mengambil aksi militer apapun.

“Mengapa Rusia begitu peduli? Rusia peduli karena mereka menjual senjata api ke Nicolas Maduro dan karena investasi luar biasa Rosneft, perusahaan minyak raksasa Rusia,” ujar Jason.

Reuters melaporkan pada tahun 2016 Maduro menandatangani perjanjian yang memberikan 49,9% saham anak perusahaan subsidi Venezuela yang berkantor di Amerika “Citgo” kepada BUMN minyak Rusia “Rosneft” sebagai jaminan atas pinjaman 1,5 miliar dolar uang tunai yang sangat dibutuhkan Venezuela.

Antara tahun 2006 – 2017 Rusia telah mendorong kemajuan Venezuela dengan memberikan pinjaman dan bantuan kredit sedikitnya 17 miliar dolar, menjadikannya sebagai sponsor terbesar di Venezuela, setelah China. Sebagian analis mengatakan sanksi-sanksi Amerika itu akan memutus urat nadi keuangan pemerintah Venezuela. Tetapi mereka juga mengingatkan bahwa langkah-langkah itu akan menimbulkan penderitaan lebih besar bagi rakyat Venezuela. [voa]

Apa Reaksi Anda?

Komentar